JAKARTA - Ahmad Naga Kunadi yang akrab disapa Koh Naga mengaku beruntung dan bersyukur karena Allah SWT memberinya hidayah, sehingga akhirnya memutuskan menjadi mualaf.

Diceritakan Koh Naga, dia memutuskan menjadi mualaf setelah mimpi buruk yang dialaminya saat duduk di bangku SMP, ditemukannya jawabannya dalam Alquran.

''Kalau motivasi awalnya, ya sempat enggak terpikir ya. Kalau yang jadi faktor utamanya itu dulu saya waktu SMP pernah mimpi. Saya itu ada di tengah-tengah kobaran api,'' ujar Koh Naga saat ditemui di Masjid Lautze, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat belum lama ini, seperti dikutip dari okezone.com.

Awalnya Koh Naga hanya menganggap itu mimpi buruk biasa. Kemudian, setelah itu ia tiba-tiba demam tinggi.

Keanehan pun semakin bermunculan, ketika dibawa ke Puskesmas ia malah dianggap tidak sakit oleh dokter yang memeriksanya kala itu.

''Pas mimpi saya demam tiga hari. Lalu dibawa ke puskesmas sama nenek, didiagnosis ini enggak ada penyakitnya. Akhirnya dibawa pulang cuma dikasih vitamin. Pulang, setelah tiga hari ya sembuh lagi,'' katanya.

Koh Naga melanjutkan, saat usia masa SMA ia pergi ke toko buku dengan niat awal membeli kaset. Sampai di sana matanya tertuju kepada Alquran yang berjajar di rak toko.

Tanpa pikir panjang Koh Naga membuka Alquran itu, membaca arti ayat dari satu surat ke surat lainnya.

Surat pertama yang ia baca adalah An Nas, kemudian Al Falaq, Al Ikhlas hingga sampai di surah Al Humazah. Hatinya tergetar, Koh Naga merasa ada yang mengganjal, karena makna dari urutan surat-surat tadi mirip dengan gambaran mimpi buruknya dulu.

''Pas sampai surat Al Humazah, baru tuh saya tersentak lagi. Kok ayat-ayatnya itu urutan gambarannya mirip dengan apa yang saya lihat di mimpi dulu. Nah, dari situ saya baru penasaran kok mimpi saya ada di dalam Alquran?'' ucapnya.

Mulai dari situlah Koh Naga akhirnya mulai mempelajari agama Islam. Ia membaca dan bertanya, mencari jawaban atas keresahan batinnya itu. Namun perjalanannya memang tidak mudah, ia sempat ditentang oleh keluarga karena mempelajari keyakinan lain.

Kemudian Koh Naga pun lulus SMA dan langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan di bilangan Jakarta Utara.

Kebetulan dari tempat kerjanya ini mendapatkan fasilitas tempat tinggal (mess). Saat itulah tekat Koh Naga untuk belajar Islam makin bergejolak.

Rasa penasarannya itu berakhir di tahun 2002. Ia memutuskan membaca dua kalimat syahadat di Masjid Lautze. Ia datang seorang diri tanpa ada yang mendampinginya. Hingga saat ini ia dipercaya menjadi salah satu pengurus Masjid Lautze.

''Ya sekarang saya rasakan, untuk menjawab pertanyaan sederhana jawabannya gak sederhana,'' pungkasnya.

Kini hidupnya lebih tenang dan adem usai masuk Islam.***