KATA niat sudah tak asing lagi bagi kita, sudah merupakan kata keseharian dalam kehidupan. Namun pemahaman dalam nilai nilai penting dan terkandung dalam kata tersebut masih variatif.

Secara terminologis, ulama fiqh mendefenisikan niat: "Tekad hati untuk melakukan suatu perbuatan ibadah dalam rangka mendekatkan diri semata-mata hanya kepada Allah". Niat merupakan unsur yang sangat menentukan dalam keabsahan suatu ibadah. Ajaran islam menuntut umatnya agar memulai suatu pekerjaan diawali dengan niat.

Niat juga diartikan sebagai getaran batin untuk menentukan jenis ibadah yang kita lakukan. Contoh , kalau kita melakukan shalat pukul 05.30 WIB ada beberapa kemungkinan terhadap shalat kita tersebut. Bisa kita disebut sedang melakukan shalat syukrul wudhu', bisa shalat tahiyatul mesjid, shalat fajar, shalat istikaqarah atau sholat subuh. Setidaknya ada 6 kemungkinan dimana semua nya sama, rakaatnya sama, bacaannya sama. Tapi ada satu yang membedakannya yaitu niat.

Masalah niat termasuk salah satu masalah yang mendapatkan perhatian serius dalam kajian islam terutama dalam ilmu fiqh maupun akhlak. Niat yang tertinggi kualitasnya disebut ikhlas sedangkan yang paling rendah kualitasnya disebut riya. Riya yaitu beribadah dan mengharapkan sesuatu selain keridhaan Allah.

Rasulullah SAW pernah menyampaikan kekhawatiran tentang sesuatu yang dikemudian hari bisa menjangkiti umatnya. Beliau bersabda: "sesungguhnya ada sesuatu yang aku takutkan diantara yang paling aku takutnya menimpa umatku kelak, yaitu syirik kecil. Para sahabat bertanya apakah syirik kecil itu? Beliau menjawab Riya. Sedangkan imam Al-Ghazali mengingatkan : "Ingatlah, bahwa ikhlas itu selalu berada dalam keadaan sulit ibarat telor diujung tanduk". Banyak orang menggunakan simbol simbol seperti pakaian muslim, peci, memakai huruf H didepan nama, jabatan dan seterusnya. Bisa terjebak dalam perbuatan Riya, jika niatnya tidak ikhlas, ingin orang menyebut kita haji, tokoh islam, ustad dan sebagainya, maka Riya telah menunggu dengan sabar.

Bagaimana pengaruh dan praktik keseharian kita, inilah yang mengusik kita, mulai dari orang orang puasa Ramadhan dimana awal awal Ramadhan mesjid penuh sesak. Yang biasa berperilaku preman, penjudi, pemabuk sekarang seolah olah tobat. Selesai Ramadhan, mereka kembali kehabitatnya. Begitu pula yang tak pernah ke mesjid pada bulan Ramadhan lengket dengan mesjid, habis Ramadhan ya sudah, aktifitasnya kembali seperti sebelum Ramadhan. Apalagi semenjak reformasi dikenal pemilu dan pemilukada secara langsung, dimana masyarakat bebas memilih pemimpinnya.

Dalam rangka memperoleh dukungan untuk mendapatkan suara terbanyak,  para calon pemimpin melakukan kegiatan yang sekilas terkesan berbuat baik, seperti membagi bagi sembako, bantuan banjir, semprot nyamuk, sumbangan ketempat tempat ibadah, menjadi hal biasa bagi para politisi. Sepertinya kegiatan kegiatan mereka betul betul menampakkan hubungan baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Ideal sekali, pemimpin yang merakyat dan komunikatif. Habis pemilu, setelah terpilih, mulailah muncul aslinya. Antara perkataan dan perbuatan sudah pecah kongsi. Mereka sibuk dengan kepentingannya, rakyat sibuk pula dengan segala penderitaannya.

Kenapa ini terjadi? Karena niat yang tidak benar atau tidak didasari keikhlasan. Ada tujuan tujuan lain yang ingin dicapai terhadap segala sumbangsihnya sebelum pemilu. Beramal didasari tidak mencari Ridho Allah, padahal beramal itu harus dilakukan secara terus menerus, tidak sesaat apalagi hanya dekat pemilu atau pilkada. Juga tidak hanya selama Ramadhan, tidak memilih tempat, tidak hanya didepan mertua, didepan pacar, didepan bos dan sebagainya. Jangan disalahkan jika praktik kampanye dalam pemilu maupun pilkada hanyalah mencetak pemimpin pemimpin munafik. Berjanji diingkari, berkata dibohongi, diberi amanah dikhianati dan mottonya adalah "Janjikan dan Lupakan".  

Begitu pula para aghniyin, mula mula niatnya baik, tapi pelaksanaanya mulai melenceng. Ingin membagi sembako, membayar zakat, infak, sadaqah kepada kaum dhu'afa, tapi harus diberitakan dengan mengundang wartawan dan televisi dengan harapan besoknya akan menjadi berita. Jelas niatnya tidak mencari ridho Allah akan tetapi ada tujuan tujuan lain. Inilah yang banyak terjadi termasuk di DPR dengan kalimat kalimat yang popular yaitu demi kepentingan rakyat.

Apa iya? kalau niatnya lurus atau ikhlas tentu sangan bernilai dan akan menjadi ibadah. Allahj pasti menerima dan akan membalasnya. Jika tidak ikhlas, terselip kepentingan kepentingan tertentu, jelas Allah tidak suka. Oleh sebab itu biasakanlah mengajak hati nurani setiap melakukan perbuatan atau kebijakan. Karena hati nurani tidak pernah bohong. Allah senang apalagi umat bahagia.

Niat yang tidak ikhlas, ibadahnya jelas tidak diterima Allah dan akan jadi sia sia belaka. Agar niat kita ikhlas dan amal kita tidak sia sia tanpa makna, mari kita hayati yang selalu kita ucapkan dalam shalat : sesungguhnya shalatku ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semata. 

Jika sampai saat ini kita masih terlanjur ada niat-niat yang lain maka segeralah kita perbaiki niat kita yaitu ikhlas hanya karena Allah. Tajdiidun niat (Luruskanlah Niat), mudah mudahan kehidupan bangsa kita selalu dalam Ridho Allah. Insya Allah.***

Pengamat Sosial Keagamaan