PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya penyusutan jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Riau, Senin (20/7/2026). Berdasarkan hasil pemantauan satelit hingga pukul 23.00 WIB, indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bumi Lancang Kuning kini menyisakan 10 titik.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Putri Santy S merinci, kesepuluh titik tersebut terdistribusi di empat kabupaten. Kabupaten Indragiri Hulu menjadi kawasan dengan kemunculan paling banyak yakni enam titik, disusul Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak dua titik, serta Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Rokan Hulu yang masing-masing mendeteksi satu titik.

Meskipun angka di Riau mengalami penurunan yang signifikan, hamparan Pulau Sumatera secara keseluruhan masih mencatat ratusan titik panas. BMKG mendeteksi terdapat total 447 hotspot yang tersebar merata di sepuluh provinsi.

Sumatera Selatan menjadi wilayah penyumbang indikasi api tertinggi dengan 134 titik. Menyusul di belakangnya adalah Aceh dengan 93 titik dan Bangka Belitung sebanyak 89 titik. Selanjutnya, Provinsi Jambi menyumbang 49 titik, disusul Lampung 33 titik, Bengkulu 18 titik, dan Sumatera Barat 13 titik. Posisi berikutnya ditempati Provinsi Riau dengan 10 titik, sementara Sumatera Utara dan Kepulauan Riau masing-masing menyumbang empat titik panas.

Terkait kondisi ini, pihak BMKG secara tegas meminta seluruh elemen masyarakat untuk mempertahankan upaya mitigasi lingkungan, mengingat ancaman karhutla masih nyata mengintai sejumlah kawasan perkebunan dan lahan gambut.

"Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan agar dapat segera dilakukan penanganan," pungkasnya. ***