PEKANBARU - Suasana hangat berbalut tawa dan rindu kental terasa saat puluhan wajah paruh baya saling bertegur sapa. Setelah tiga dekade sibuk meniti jalan hidup masing-masing, para alumni SMA Negeri 8 Pekanbaru angkatan 1995 akhirnya kembali duduk bersama. Pertemuan ini bukan sekadar ajang mengenang masa berseragam putih abu-abu, melainkan sebuah upaya merajut ulang jalinan persahabatan yang sempat tergerus waktu dan jarak.

Berlangsung pada Sabtu (5/9/2026), agenda silaturahmi ini dipenuhi dengan berbagai rangkaian acara yang mencairkan suasana. Gelak tawa sesekali pecah saat beberapa lulusan bergantian menyumbangkan suara untuk menghibur kawan lama. Untuk menambah semarak, panitia pelaksana juga telah menyiapkan serangkaian hadiah serta doorprize bagi para peserta yang meluangkan waktu hadir.

Inisiator acara, Eri Julita, menceritakan bahwa temu kangen ini merupakan momen perdana yang secara khusus dihelat bagi angkatan mereka sejak kelulusan. Meski banyak rekan sejawat berhalangan hadir akibat tuntutan pekerjaan maupun domisili yang jauh, sekitar 40 orang tetap antusias menyempatkan diri bertatap muka.

"Ini pertama kali kita mengadakan reuni untuk angkatan tahun 1995. Kita sudah sekitar 30 tahun tidak berjumpa," tutur perempuan yang akrab disapa Ayi tersebut kepada GoRiau.com.

Penghargaan untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Lebih dari sekadar temu ramah antarsahabat, panitia turut menghadirkan sosok istimewa yang pernah membimbing mereka di bangku sekolah. Khairul Anwar, guru fisika yang mengabdi di SMAN 8 Pekanbaru pada era 1990-an, diundang secara khusus untuk menyaksikan anak-anak didiknya yang kini telah memilki jalan hidup masing-masing.

Sebagai bentuk penghormatan dan bakti, para alumni menyerahkan bantuan finansial beserta kenang-kenangan khusus kepada sang guru. Momen penyerahan tanda mata ini berlangsung hangat dan menjadi pengingat akan besarnya jasa tenaga pendidik dalam mengantarkan masa depan mereka.

"Kita juga mengundang guru. Ada bantuan yang kita berikan kepada beliau, berupa uang dan hadiah kenang-kenangan," papar Ayi.

Menembus Jarak demi Kebersamaan

Jarak antarprovinsi nyatanya tak mampu menyurutkan semangat kebersamaan. Ayi sendiri saat ini menetap di Batam. Dari seberang lautan, ia gigih menghubungi kawan-kawan lamanya untuk merancang pertemuan ini. Ia bahkan rela terbang langsung ke Pekanbaru guna memastikan seluruh persiapan acara berjalan lancar di lapangan.

"Saya dari Batam. Saya telepon teman-teman dan minta bantuan untuk mengadakan reuni. Setelah itu saya langsung turun ke Pekanbaru untuk mengadakan acara ini," kisahnya.

Ke depan, para lulusan tahun 1995 ini enggan menjadikan pertemuan perdana tersebut sebagai angin lalu. Mereka bertekad menyusun agenda rutin agar tali persaudaraan terus terawat dengan baik di tengah kesibukan yang mendera.

"Insya Allah akan kita agendakan terus dan membuat reuni selanjutnya. Harapan ke depan, semuanya sehat dan sukses. Kebersamaan kita setelah reuni ini tetap terjaga," pungkas Ayi. ***