PEKANBARU - Gelombang panas sisa kebakaran lahan kembali mencengkeram Pulau Sumatera dengan deteksi mencapai 4.737 titik panas (hotspot) yang tersebar dari ujung utara hingga selatan. Kondisi ini menjadi alarm kewaspadaan bagi Provinsi Riau yang kini mulai turut dikepung oleh ratusan titik api pemicu memburuknya kualitas udara.
Berdasarkan rekaman pantauan satelit yang dirilis pada Kamis (17/9/2026), ancaman kabut asap semakin mengintai seiring masifnya sebaran titik panas di pulau ini. Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah penyumbang suhu panas paling ekstrem dengan kemunculan 3.200 titik api.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Bella R. Adelia merinci sebaran hotspot yang kini terkonsentrasi di berbagai provinsi tetangga. Selain Sumatera Selatan, ratusan indikasi kebakaran juga menyala di wilayah lain, yakni Jambi dengan 511 titik, disusul Bangka Belitung sebanyak 503 titik, serta Lampung yang mencatatkan 241 titik.
"Untuk wilayah Provinsi Riau sendiri, kami mendeteksi sebanyak 225 titik panas yang kini tersebar secara sporadis di sejumlah kabupaten dan kota," beber Bella.
Lebih jauh membedah anatomi sebaran di kawasan Riau, Kabupaten Indragiri Hulu menduduki posisi puncak sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi usai menyumbang 135 titik panas. Ancaman serupa juga membayangi Kabupaten Kampar yang mencatatkan 44 titik, serta Kabupaten Indragiri Hilir dengan 34 titik.
Sejumlah daerah lain turut masuk dalam pantauan radar meski dalam skala yang lebih kecil. Kota Dumai dan Kabupaten Pelalawan masing-masing memiliki tiga titik panas. Menyusul Rokan Hulu dan Siak yang sama-sama menyumbang dua titik, sementara Bengkalis serta Kuantan Singingi masing-masing terdeteksi memiliki satu titik.
Di luar zona merah utama, riak-riak api turut terdeteksi merambah wilayah pesisir dan dataran tinggi Sumatera lainnya. Hotspot ini ikut terpantau menjalar hingga Kepulauan Riau dengan jumlah 22 titik, Sumatera Utara 16 titik, Sumatera Barat 10 titik, dan wilayah Bengkulu sebanyak sembilan titik. ***


