JAKARTA - Soal tersebarnya foto dan pemberitaan mengenai peserta deklarasi GARBI Bandung dukung Jokowi, salahsatu pendiri GARBI, Fahri Hamzah membantahnya.

Menurut politisi PKS itu, foto yang beredar serta pemberitaan yang beredar tidaklah benar. "Enggak benar hoax itu," ujar Fahri Hamzah saat dihubungi GoNews.co, Minggu (13/1/2019) dinihari.

Selain itu Fahri Hamzah juga mengirimkan tulisan tanggapan soal deklarasi tersebut. Berikut isinya:

Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) Chapter Bandung malam ini (12/1) jadi heboh. Bukan karena jumlah massa atau karena keseruan pengisi acara. Tapi karena hadirnya belasan orang yang memakai baju putih bersablon logo GARBI dan nomor Jokowi-Maruf di punggungnya.

Ads
Tentu saja ini kejadian heboh. GARBI dalam beberapa waktu kebelakang memang sedang menjadi sasaran tembak, dicari-cari dan diikuti sampai tertangkap basah bahwa mereka adalah kelompok pendukung Jokowi. Tentu saja tuduhan itu tidak pernah terbukti, karena memang secara kelembagaan, GARBI memang belum declare untuk mendukung salah satu Capres.

Nafsu untuk "menggiring opini dan kesimpulan akhir" bahwa GARBI adalah pendukung Jokowi memang diperlukan. Karena di banyak daerah, isu soal GARBI mendukung Jokowi telah menjadi amunisi utama oleh DPP untuk memecat anggota PKS yang terbukti menjadi simpatisan atau anggota GARBI.

Isu ini akan terus direproduksi, dicari-cari buktinya, sampai semua orang benar-benar yakin bahwa GARBI mendukung Jokowi. Gelombang pemecatan ribuan kader dan pengurus PKS di daerah terus bergulir. Kepada kader daerah yang dipecat, bahasanya sangat sederhana; "tunggu saja tanggal mainnya", atau "sebentar lagi buktinya akan nampak", dan seterusnya.

Lalu siapa sebenarnya yang menghadirkan belasan peserta berpakaian kaos bersablon logo "GARBI" dan Jokowi Maruf itu?. Sebab, kalau gimmick dari panitia, ini sangat konyol sekali. Beberapa kekonyolan itu antara lain.

Pertama, kaos yang dipakai oleh belasan peserta itu berbahan katun combed 30s atau polyester. Ini jenis katun yang oleh orang sablon disebut "saringan tahu". Sejenis bahan baju yang sangat tipis, transparan, berbahan kasar dan gerah ketika dipakai. Biasa dibagikan oleh caleg kepada pendukungnya untuk sekedar buah tangan.

Sementara anggota atau simpatisan GARBI, karena faktor euforia, selalu membeli atau menyablon baju dengan bahan terbaik, karena untuk dipakai dalam jangka waktu lama. Biasa berbahan katun tebal yang nyaman untuk dipakai dan dipamerkan kepada kawan-kawannya.

Kedua, baju GARBI yang sering dipakai, berwarna merah atau hitam. Tidak pernah berwarna putih. Ini semacam kesepakatan tidak resmi antar anggota bahwa GARBI memang berwarna merah untuk menunjukkan beberapa hal; keberanian, kebenaran, dan pembeda bagi "rumah lama".

Ketiga, sepanjang GARBI berdiri, tidak pernah baju GARBI disablon di bagian punggung. Apalagi bersisian dengan logo salah satu capres. Sablon di bagian belakang ini, nampak sekali direncanakan sejak sebelum acara, agar belasan orang yang memakai baju GARBI itu bisa difoto dan pergi dalam waktu cepat. Keempat, keanehan lainnya, belasan orang yang memakai baju GARBI bersanding logo capres nomor satu itu tidak ada satupun yang dikenal oleh anggota atau pengurus GARBI Bandung. Sesuatu yang aneh. Padahal, GARBI adalah organisasi yang anggotanya berjejaring dan terkoneksi. Terkoneksi oleh aktivisme di kampus, di dunia politik atau di dunia pergaulan lain.

Dan yang kelima, belasan orang yang membuat heboh acara GARBI Bandung itu ternyata datang beberapa saat setelah acara selesai. Datang ketika suasana sedang riuh dan panitia tidak aware dengan situasi di lokasi. Seperti sengaja hadir hanya untuk difoto bagian punggungnya lalu pergi meninggalkan acara.

Cukup dengan foto sedang duduk di lokasi acara GARBI Bandung, lalu blasting di media, maka sempurnalah opini yang menyebar lewat media sosial dan media percakapan grup. "Dinilai berhasil, GARBI Bandung akan dukung Jokowi ", begitu bunyi salah satu berita di media yang muncul secepat seusai orang-orang itu pulang.

Mission accomplished. Itu targetnya. Lalu, siapa yang berkepentingan dan ingin sekali GARBI teropinikan mendukung Jokowi?. Ini bukan tuduhan siapa yang merekayasa kejadian di Deklarasi GARBI Bandung, tapi setidaknya ada beberapa pihak yang berkepentingan dengan opini ini.

Pertama, pihak yang "bertikai" dengan GARBI. Siapa lagi kalau bukan PKS. Bukti bahwa GARBI pendukung Jokowi, akan semakin menguatkan bergaining PKS di hadapan Jokowi dan jadi alasan kuat DPP PKS untuk menyingkirkan aktivis PKS yang jadi anggota GARBI di daerah. Walaupun kita belum menemukan bukti, tapi bahwa PKS menjadi terduga, kuat sekali.

Kedua, sekelompok pihak yang merapat di lingkaran Prabowo yang memiliki kepentingan politik yang berseberangan dengan para petinggi GARBI, terutama jikalau Prabowo memenangi Pilpres. Mereka tidak ingin ada hubungan yang dalam atau hubungan yang mesra antara inisiator GARBI dengan Prabowo. Sebelum pencapresan, kelompok ini bekerja menyingkirkan orang-orang GARBI dari Prabowo. Dan mungkin kini akan bekerja lagi.

Ketiga, peristiwa ini adalah buah dari pekerjaan kelompok yang ingin GARBI digiring dengan cepat ke Prabowo. Dengan desakan opini media, stigmatisasi kader PKS kepada GARBI dan dorongan kelompok di lingkaran Prabowo, maka GARBI mau tak mau akhirnya merapat ke Jokowi. Rekayasa menuju kesana seperti perlahan berjalan.

Dan, sebagai informasi, permainan opini seperti kejadian GARBI Bandung ini hal yang biasa. Bahkan merupakan cara lama yang dipakai di dunia intelijen. Ingat bagaimana ada sehelai bendera tauhid yang ditempel di rumah HRS di Mekkah pada awal November 2018, lalu pada saat itu, sejam setelah pemasangan, aparat keamanan datang dan dalam waktu beberaps kemudian foto HRS sedang diperiksa keamanan menyebar di tanah air?. Begitu opinion building ala intelijen bekerja.

Dan masih banyak contohnya. Kerja rekayasa opini seperti ini biasa dan sering. Memang GARBI sedang jadi target untuk "dikerjain". Lalu apa yang harus dilakukan oleh anggota GARBI seluruh Indonesia?. Pertama, jadikan peristiwa Bandung sebagai pelajaran. Semoga setiap panitia dan anggota semakin aware dengan rangkaian acara yang kita selenggarakan. Kedua, tetap woles dan klarifikasi dengan santai, karena GARBI sendiri memang belum declare ke salah satu Capres kok. Dan yang ketiga, tetap bersyukur dan bahagia dengan seluruh situasi.

Salam Arah Baru Indonesia! ***