TEMBILAHAN- Untuk masyarakat Indragiiri Hilir (Inhil), pastinya tidak asing lagi dengan yang namanya Sampan Leper. Ya, Sampan Leper adalah sampan yang dikendarai saat air dalam keadaan surut atau tepatnya mengendarai sampan di atas lumpur.

Jika umumnya mendayung sampan saat air sedang pasang tidak memerlukan banyak tenaga, berbeda dengan sampan leper, untuk menggerakkan sampan di atas lumpur, menguras tenaga yang tidak sedikit.

Bagaimana ceritanya Sampan Leper bisa ada di Negeri Seribu Parit ini, berdasarkan apa yang diceritakan Bupati Inhil, HM Wardan saat membuka Festival Pacu Sampan Leper dan Sampan Dayung Pelepah Kelapa, Sabtu (29/7/2017),

Sampan Leper dulunya adalah merupakan sebuah moda transportasi yang kerap kali dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah Kuala Getek untuk menyeberang saat sungai tengah dalam kondisi surut.

''Dapat dikatakan, masyarakat kala itu tidak ingin kalah dengan alam, pada kondisi sungai yang surut. Jadi, memanfaatkan sampan leper ini untuk menyeberang sungai, meski sungai sedang surut tidak menjadi hambatan,'' ujar Bupati pada acara yang bertajuk 'Keunikan Lumpur di Negeri Hamparan Kelapa Dunia' di Kuala Getek, Kecamatan Batang Tuaka.

Melihat kebiasaan masyarakat yang unik itu, akhirnya Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Inhil menjadikannya sebuah festival yang diselenggarakan setiap tahunnya.

Awalnya, festival yang dipusatkan di Kuala Getek atau di bawah Jembatan Getek ini hanya diikuti beberapa perwakilan kecamatan saja.

Namun seiring berjalannya waktu, Festival ini makin dikenal masyarakat hingga akhirnya seluruh kecamatan mengikutinya.Disporbudpar sendiri menyediakan hadiah puluhan juta untuk para pemenang dari festival ini.(ayu)