RIO DE JANEIRO - Selama berbulan-bulan Presiden Brasil Jair Bolsonaro (65 tahun) meremehkan bahaya virus corona. Pada Selasa (7/7/2020), Jair Bolsonaro dinyatakan positif Covid-19.

Dikutip dari Republika.co.id, kepada para wartawan, Bolsonaro mengaku menjalani pemeriksaan sinar X pada Senin (6/7). Saat itu, ia merasa demam, sakit pada otot, dan pegal. Namun, demamnya mereda pada Selasa dan ia mengklaim itu berkat obat antimalaria hidroksiklorokuin yang dikonsumsinya.

Bolsonaro kemudian mundur selangkah dari kerumuman wartawan yang mengerubunginya, lalu ia mencopot maskernya. Ia ingin menunjukkan dirinya baik-baik saja.

''Saya baik-baik saja, normal. Saya bahkan ingin berjalan-jalan di sekitar sini, tetapi itu tidak boleh karena bertentangan dengan saran medis,'' katanya.

Pada unggahan di akun Facebook-nya, Selasa, Bolsonaro menunjukkan ia meminum hydroxychloroquine untuk dosis yang ketigakalinya pada hari itu.

Penggunaan hidroksiklorokuin dipromosikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, kemampuan obat tersebut untuk melawan Covid-19 belum terbukti secara ilmiah.

''Hari ini saya merasa jauh lebih baik. Benar-benar manjur,'' kata Bolsonaro sambil meminum obat antimalaria itu bersama segelas air.

''Kita tahu saat ini ada beberapa resep yang dikatakan bisa melawan virus corona. Kita juga tahu tak satu pun yang secara ilmiah terbukti manjur. Namun, saya termasuk orang yang merasakan salah satu cara yang manjur. Jadi, saya percaya pada hidroksiklorokuin. Bagaimana Anda?''

   Bolsonaro sejak awal meremehkan bahaya Covid-19. Ia bahkan menganggap informasi tentang penyebaran virus corona dilebih-lebihkan.

''Menurut pemahaman saya, isu virus korona lebih seperti fantasi,'' katanya pada 10 Maret saat Brasil hanya melaporkan sejumlah kecil kasus Covid-19.

Bahkan, saat anggota delegasinya terinfeksi Covid-19, pada 15 Maret ia masih berkeras dan menyebut kekhawatiran terhadap pandemi sebagai ''histeria''. 

Awal April, saat hampir 400 warganya meninggal karena Covid-19, barulah ia mengatakan virus korona hanya bisa hilang saat populasi mencapai tahap herd immunity. Delapan hari kemudian, 20 April, komentarnya tentang jumlah penderita yang meninggal, ''Saya bukan penggali kubur, oke?''

Delapan hari kemudian, saat angka kematian di Brasil melampaui 5.000 jiwa, ia berkilah. ''Jadi harus bagaimana? Maaf. Kalian ingin saya melakukan apa?'' katanya kepada wartawan saat itu. ''Saya tidak punya keajaiban.''

Kali ini, setelah mengumumkan positif Covid-19, Bolsonaro tetap berkeras bahwa aktivitas Brasil harus kembali normal.

''Kalian tidak bisa hanya bicara soal kecemasan tentang konsekuensi dari virus ini. Hidup terus berlangsung. Brasil perlu menghasilkan sesuatu. Kalian harus membuat roda ekonomi berputar,'' katanya.

Tiga Juta Kasus

 Saat ini kasus Covid-19 secara global nyaris menyentuh angka 12 juta kasus dan kematian lebih dari 544 ribu jiwa.

AS menghadapi kasus terbanyak, yaitu nyaris menyentuh 3 juta kasus. Brasil berada di tempat kedua dengan lebih dari 1,6 juta kasus.***