JAKARTA – Suasana di ruang rapat DPR mendadak riuh oleh tawa dan tepuk tangan. Ketua DPR, Puan Maharani, dibuat kagum sekaligus kewalahan menghadapi pertanyaan tajam dari para pelajar SMA yang mengikuti program Parlemen Remaja di Gedung DPR, Senayan, Kamis (6/11/2025).

“Pertanyaannya berat banget, lebih berat dari menghadapi delapan fraksi di DPR,” ucap Puan dengan nada berseloroh yang langsung disambut tawa para siswa.

Acara Parlemen Remaja tersebut memberi kesempatan bagi para pelajar dari berbagai daerah untuk belajar langsung tentang proses demokrasi dan politik di lembaga legislatif. Namun, yang terjadi justru membuat Puan tersenyum lebar — karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih menantang dari yang ia bayangkan. 

“Bagaimana menyikapi perbedaan keinginan antarfraksi di DPR?” tanya salah satu siswa dengan nada serius.

“Menurut Ibu, tantangan paling sulit dalam memimpin sidang DPR apa?” sambung peserta lain.

Tak berhenti di situ, seorang pelajar bahkan menyinggung isu kebijakan energi hijau dan komponen lokal. “TKDN harus diperbarui, supaya muatan lokal lebih banyak dari impor,” katanya, memancing tepuk tangan teman-temannya.

Puan tampak terkesan. Ia memuji keberanian dan kecerdasan para pelajar yang berani mengkritisi kebijakan publik. “Pertanyaan kalian luar biasa. Saya rasa banyak dari kalian yang kelak bisa jadi anggota DPR, bahkan juru bicara partai,” ujarnya sambil tersenyum. 

Dalam kesempatan itu, Puan juga berbagi pengalaman memimpin DPR dengan delapan fraksi yang memiliki pandangan berbeda. Ia menjelaskan bahwa dinamika politik selalu menuntut kemampuan berkompromi dan menjaga keseimbangan.

“Di DPR itu setiap keputusan tidak bisa diambil sendirian. Kami harus berdialog, berdebat, lalu mencari jalan tengah. Semua untuk kepentingan bangsa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sebelum keputusan besar diambil, pimpinan DPR biasanya melakukan rapat pimpinan (rapim) dan rapat Badan Musyawarah (Bamus). “Di situ semua fraksi menyampaikan pandangan. Kadang alot, tapi kompromi yang adil selalu jadi kunci,” katanya.

Puan menilai, generasi muda seperti para peserta Parlemen Remaja perlu memahami bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan seni mencari kesepahaman demi kemaslahatan bersama. “Berpolitik itu soal mendengar, memahami, dan menyeimbangkan. Kalau semua ingin menang sendiri, negara ini tidak akan maju,” tegasnya.

Acara Parlemen Remaja berlangsung hangat dan interaktif. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan simulasi sidang. Bagi sebagian peserta, kesempatan berdialog langsung dengan Ketua DPR menjadi pengalaman berharga yang sulit dilupakan.

“Baru tahu ternyata politik bisa seru dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar salah satu peserta dengan semangat. ***