SELATPANJANG – Polres Kepulauan Meranti, Riau berhasil mengungkap kasus ekploitasi dan perdagangan anak di bawah umur. Pelakunya adalah seorang wanita warga Desa Insit, Kecamatan Tebingtinggi Barat berinisial SR alias Silvinona (20), sementara korbannya yakni seorang anak berinisial KD (16).

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Andi Yul LTG didampingi Wakapolres Kompol Robert Arizal, Kepala Satuan Reskrim AKP Arpandy dan Erma Indah Fitriana selaku Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) di Kabupaten Kepulauan Meranti, dalam Konferensi Pers yang dilaksanakan di Mako Polres, Selasa (9/8/2022) menjelaskan terkait pengungkapan kasus ekploitasi dan perdagangan anak di bawah umur tersebut.

Dijelaskan Andi Yul, pihaknya melakukan penyelidikan setelah menerima laporan dari orang tua pelajar SMP tersebut. Polisi yang bergerak cepat berhasil mengamankan seorang janda muda yang tega membiarkan anak bawah umur jadi santapan pria hidung belang di Kota Pekanbaru.

AKP Andi Yul mengungkapkan, kronologis kasus ini berawal pada Senin 7 Juli 2022 saat pelaku menghubungi korban melalui pesan WhatsApp dan menanyakan apakah ingin ikut bekerja ke Pekanbaru.

GoRiau Konferensi Pers yang dilaksana
Konferensi Pers yang dilaksanakan di Mako Polres, Selasa (9/8/2022).

Selanjutnya selang beberapa hari tepatnya 11 Juli, pelaku mendatangi kos kosan korban yang berada di Jalan Kencana Kelurahan Selatpanjang Selatan dan kembali mengajak korban dan membiayai ongkos dan biaya perjalanan. Kemudian, mereka pun berangkat ke Pekanbaru menggunakan kapal KM Jelatik dan sebelumnya sempat membeli berbagai perlengkapan.

Sesampainya di Pekanbaru, pada Selasa 12 Juli 2022, keduanya langsung menuju indekos pelaku yang berada di Jalan Yos Sudarso Kelurahan Rumbai untuk beristirahat. Selanjutnya pada malam harinya sekira pukul 10 malam, pelaku meminta korban untuk bersiap pergi ke suatu tempat untuk bertemu tamu di depan Mall SKA menggunakan transportasi online.

Sesampainya disana, korban langsung diajak naik mobil pribadi bersama pria tersebut menuju sebuah hotel di Jalan Soekarno Hatta untuk melakukan hubungan seksual layaknya suami istri,dari hasil perdagangan seksual itu ia mendapatkan bayaran Rp 1 juta.

Usai dari hotel, pelaku pun mengajak korban untuk pulang kembali ke kos-kosan dan meminta jatah miliknya sebagai imbalan telah mencari tamu pria tersebut sebesar Rp200 ribu.

"Tersangka ini memanfaatkan jasa orang lain untuk mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekali transaksi dari pengakuannya dapat Rp200 ribu," ungkap Andi Yul.

Kapolres menuturkan, setelah menerima laporan orang tua korban, tim lalu mengidentifikasi pelaku, kemudian melakukan pengejaran terhadap pelaku. Saat itu, pelaku Silvinona telah melarikan diri ke Sumatera Barat dan akhirnya pelaku diamankan dari pelariannya.

Atas perbuatannya, pelaku melanggar tindak pidana eksploitasi seksual terhadap anak dan dikenakan dengan Pasal 76 F Jo Pasal 83 dan Pasal 88 UU RI No. 35 Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 2 jo pasal 17 Undang-undang Nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 300 juta.

Dalam kasus ini polisi juga menyita beberapa barang bukti, diantaranya 1 unit Handphone merk IPhone 13 Promax, 1 unit Handphone Realme C11, celana panjang, Tanktop dan cincin emas seberat 0,7 gram.

Sementara itu, Erma Indah Fitriana selaku Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) di Kabupaten Kepulauan Meranti mengucapkan terimakasih kepada jajaran kepolisian yang telah sigap melakukan penyelidikan.

"Kasus ini termasuk human traficking atau perdagangan manusia, disini saya mendampingi anak sebagai korban. Saya mengucapkan terima kasih kepada Kapolres yang sudah untuk kesekian kalinya berhasil mengusut tuntas kasus-kasus anak yang akhirnya anak sebagai korban memperoleh keadilan dan kemudian pelaku nantinya akan mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatannya," kata Indah.

Diceritakannya, dari awal pihaknya mendampingi korban mulai dari tahap penyidikan, visum sampai dikembalikan kepada keluarga.

"Alhamdulillah dengan pendekatan psikososial penguatan anak kepada keluarga, sekarang anak sudah pulih secara sosialnya dan kemudian anak juga alhamdulillah sudah bersekolah kembali.Disini pekerjaan saya mendampingi mulai dari tahap hukum proses penyidikan sampai proses hukumnya nanti selesai kemudian nanti membantu anak untuk memperoleh hak-haknya salah satunya adalah pemulihan kondisi psikososialnya pendidikannya dan lain sebagainya," ujar Indah.

Peksos Kementerian Sosial itu juga mengimbau kepada masyarakat untuk memberikan kenyamanan di rumah, sehingga anak tidak mencari pelarian di luar.

"Saya mengimbau mengajak kepada masyarakat untuk memberikan kenyamanan kepada anak di rumah. Hal itu agar anak-anak tidak mencari pelarian ke dunia luar yang dapat menjerumuskan anak-anak kita, tentunya saya selalu berpesan jika melihat mendengar atau mengetahui kasus yang berkaitan dengan anak bersama-sama kita peduli jangan merasa takut jangan merasa ragu untuk melaporkan kepada Polsek terdekat ataupun Polres," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Silvinona, pelaku yang sempat dilakukan wawancara mengaku melakoni pekerjaan tersebut karena terdesak oleh kondisi ekonomi setelah bercerai dengan sang suami. Sebagai mucikari, dia hanya mengambil keuntungan dari setiap tamu yang memesan.

"Karena kebutuhan ekonomi yang mendesak semenjak pisah dengan mantan suami, baru beberapa bulan ini sejak Januari," pungkasnya.***