JAKARTA - Di tengah pandemi Covid-19 di dunia, muncul virus jenis baru yang juga sangat mematikan, yakni virus hanta. Tingkat kematian akibat terinfeksi virus ini mencapai 38%.

Global Times melaporkan, seorang pria dari Provinsi Yunnan, Cina, meninggal dunia karena terinfeksi virus hanta. Pria itu kehilangan nyawanya dalam bus, ketika menuju ke Provinsi Shandong.

Dikutip dari Tempo.com yang melansir www.cdc.gov, virus ini menyebar terutama dari tikus. Lebih lanjut dikatakan bahwa infeksi dengan salah satu dari virus hanta dapat menyebabkan penyakit virus hanta pada manusia.

Virus hanta di Amerika Serikat dikenal sebagai virus hanta ''Dunia Baru'' dan dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS). Gejala awal HPS termasuk kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada otot besar, yakni paha, pinggul, punggung dan terkadang bahu.

Gejala-gejala ini bersifat universal, di antaranya juga ada sakit kepala, pusing, kedinginan, dan masalah perut, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Sekitar setengah dari semua pasien HPS mengalami gejala-gejala ini. HPS bisa berakibat fatal dengan tingkat kematian 38 persen.

Virus hanta lain, yang dikenal sebagai hantavirus ''Dunia Lama'', kebanyakan ditemukan di Eropa dan Asia dan dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS).

Gejala awal HFRS dimulai secara tiba-tiba, termasuk sakit kepala hebat, sakit punggung dan perut, demam, kedinginan, mual, dan pandangan kabur.

Orang yang terkena HFRS juga terkadang memiliki tanda muka memerah, peradangan, kemerahan pada mata atau ruam. Gejala selanjutnya yakni tekanan darah rendah, syok akut, kebocoran pembuluh darah, dan gagal ginjal akut, yang dapat menyebabkan kelebihan cairan.

Tingkat keparahan penyakit bervariasi tergantung pada virus yang menyebabkan infeksi. Infeksi virus Hantaan dan Dobrava biasanya menyebabkan gejala yang parah, sedangkan infeksi virus Seoul, Saaremaa, dan Puumala, biasanya lebih moderat. Pemulihan total bisa memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Kasus virus hanta datang pada saat jumlah total orang yang terinfeksi virus corona baru secara global sudah mendekati angka 400.000 dan para ilmuwan belum menemukan obat untuk itu. Korban kematian global telah melampaui angka 16.500, dikutip dari www.economictimes.com.

Dr Sumaiya Shaikh dalam cuitannya di Twitter Selasa, 24 Maret 2020, menulis bahwa virus hanta pertama kali muncul pada tahun 1950 dalam perang Amerika-Korea di Korea (sungai Hantan). Virus ini menyebar dari tikus jika manusia mencerna cairan tubuh mereka. Penularan manusia-manusia jarang terjadi. Bahkan ada vaksin yang dikembangkan untuk itu.

Dia mengimbau masyarakat agar tidak panik, kecuali memang berencana untuk mengonsumi tikus. Sampai 24 Maret 2020 pukul 23.00 tagar #hantavirus bertengger di topik tren Twitter dengan urutan ketiga.***