MEMBAYANGKAN jadi pejabat daerah yang harus disiplin waktu, duduk di ruang ber-AC dan didepan laptop seharian, bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang membosankan dan monoton. Tapi tidak begitu bagi sosok Dandun Wibawa, yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Ekonomi Kreatif di Dinas Pariwisata Riau.

Pasalnya kata Dandun, pekerjaan yang ia geluti justru tidak monoton duduk di meja kerja. Bahkan hampir separoh waktunya ia manfaatkan untuk kegiatan atau tugas yang langsung berhadapan dengan masyarakat di lapangan.

Dandun memang sosok PNS yang tidak kaku. Karena sebagian hidupnya mengalir jiwa seni yang sudah ia geluti sejak kecil. Dandun kecil lahir di Pekanbaru pada tahun 1963, diawali dengan pendidikan SD dan SMP 14 Pekanbaru, kemudian melanjutkan jenjang sekolah menengah di SMA 2 Pekanbaru, tepatnya di kawasan Senapelan.

Pada saat SMA inilah, Dandun ditinggalkan sosok seorang ayah yang selama ini telah menjadi pegangan dan pedoman dalam hidupnya. Pada saat SMA inilah Dandun dan adik-adiknya dibesarkan dan dididik oleh ibunya yang merupakan seorang guru bahasa Inggris dan dijuluki singer pertama di Pekanbaru yang menurut Dandun Ijazahnya sampai disimpan sampai sekarang.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06012017/dandum1jpg-5480.jpg

"Ibu adalah orang paling berjasa di kehidupan saya setelah ayah meninggal dunia. Beliau juga aktif sebagai pengurus penataran P4 dan jadi penatar kala itu. Sejak kecil sampai SMA kami sebagai anak-anaknya dibiarkan, dalam artian memilih jalanya masing-masing. Kami tidak pernah sekalipun dikekang. Jadi ibu adalah sosok yang paling berpengaruh dalam perjuangan hidup saya. Ibu adalah sosok luar biasa," paparnya saat berbincang dengan GoRiau.com (GoNews Group), Selasa (3/1/2017) di ruang kerjannya.

"Sebagai anak pertama, saya merasa belum maksimal membantu dan mengabdi kepada ibu. Namun alhamdulillah beliau sudah dua kali naik haji. Tapi saya dengan keluarga tetap ingin melihat ibu saya bahagia, karena kami merasa belum seimbang pengabdian kami dibanding apa yang sudah ibu korbankan," lanjutnya.

Awal Karier

Dandun mengawali kariernya sebagai musisi jalanan atau yang biasa dikenal dengan pengamen. Ia mengenal musik dari sejak SD karena memang ada keturunan darah seni dari keluarganya.

Tumbuh dewasa iapun sering mengisi berbagai acara termasuk pentas musik di kampusnya. Lulus kuliah iapun tetap bermusik dan menggeluti pekerjaan sebagai honorer di Dinas Pasar Kota Pekanbaru pada tahun 1983 sampai tahun 2000, dan pindah ke Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru, dan sempat pindah ke Pelalawan.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06012017/dandum2jpg-5479.jpg

Namun akhirnya kembali ke Kota Pekanbaru dan menjadi pegawai negeri di Taman Budaya sebagai staff. Dan akhirnya pindah lagi menjadi Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Riau di Dinas Pariwisata Riau, dan tahun 2015 dirinya resmi dilantik sebagai pegawai eselon 3 di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

Setelah menjabat Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Riau, Dandun Wibawa semakin enjoy karena ia mengganggap pekerjaannya sesuai dengan jiwa seni yang mengalir di badannya. "Saya kan pekerja seni dari mulai tahun 1996 saat masih di Dinas Pasar, jadi setelah di sini saya merasa pekerjaan ini cocok dan seiring dengan hobi saya," ujarnya.

Dan pada saat itu kata Dandun, ia bersama para musisi jalanan juga sempat membentuk satu wadah bagi para pelaku seni dengan membuat organisasi Ikatan Pemusik Jalanan Pekanbaru. "Saat itu semua genre musik kami satukan. Ya kita berharap dengan adanya wadah bagi musisi ini, maka karya-karyanya juga tidak sekedar dinikmati oleh kaum marjinal, tapi juga bisa dihargai keberadaannya di Kota Pekanbaru. Dan itu terbukti, beberapa seniman Riau pada umumnya bisa tampil dimana-mana tidak lagi hanya di jalanan," paparnya.

Dari jiwa seninya itu, Dandun juga aktif di Kepengurusan Dewan kesenian Pekanbaru, dan sempat membuat Forum Komunikasi Musisi Riau. Tidak hanya itu, Dandun juga aktif di Dewan Kesenian Riau.

''Hobi dan jiwa saya ini sampai sekarang. Jadi selain pegawai saya juga seniman. Bahkan sebagai pekerja seni saat itu era pak Herman Herman Abdullah yang masih menjadi Sekda Kota, saya dipercaya membuat iven-iven musik di Kota Pekanbaru," kenangnya.

Idenya mengumpulkan para seniman jalanan ini sendiri kata dia, waktu itu banyak pengamen dan musisi jalanan yang ia nilai tidak dihargai oleh masyarakat. "Sebagai pelaku seni, maka saya bentuk wadah agar terorganizsir. Saat itu saya menggandeng AMPI dan dilantik di hotel Bumis Asih sama pak Herman Abdullah. Itu berita di koran masih saya simpan untuk kenangan," paparnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06012017/dandum3jpg-5478.jpg

Dengan wadah yang ia bentuk hingga sekarang masih eksis, kalau dulunya hanya sebatas ngamen, akhirnya wadah ini bisa mengarahkan para seniman dan mengakomodir dalam acara apapun. "Saat itu saya pernah membuat acara namanya "Kenduri Musik" sekitar tahun 96 dan itu merupakan acara pertama yang satu panggung dari semua genre musik," tukasnya.

Bahkan organisasi yang Dandun bentuk juga mendapat apresiasi dari alamarhum Idrus Tintin. "Dengan semangat juang yang tinggi akhirnya organisasi ini juga menjadi salah satu wadah yang akhirnya, bisa mengangkat derajat musisi jalanan. Bahkan sekarang ini, kawan-kawan seangkatan sudah beragam pekerjaan yang berhasil dicapai, seperti pegawai, pengusaha dan ada juga yang tetap melanjutkan di karier musiknya," ceritanya.

"Awalnya pasti butuh pengorbanan dalam berorganisasi, seperti korban waktu, uang, tenaga dan pikiran. Dengan tekad dan niat yang baik yang disertai dengan optimis yang tinggi akhirnya semua pengorbanan itu terbayarkan," timpalnya lagi.

Cita-cita besarnya adalah, bagaimana seniman khususnya di Riau, bisa hidup dengan profesinya dan dapat dihargai dengan kesenimannya. "Kesimpulannya, bahwa aku seorang pegawai negeri, seniman, jatuh bangun biasa dalam hidup. Untuk itulah saya sampai saat ini saya tetap bertahan dengan karier sebagai seniman yang mengabdi ke masyarakat melalui Pemerintah Provinsi Riau sebagai PNS," ungkapnya.

Meskipun kini menjabat sebagai Kabid, ia masih tetap membuat iven-iven kesenian mulai dari tingkat RT sampai panggung besar. Dan yang paling besar adalah keterlibatanya dalam acara opening dan closing di PON 2012 bersama dengan Helmi Yahya.

Setelah menjadi Kabid Ekonomi Kreatif, Jiwa seni Dandun justru malah bertambah, apalagi didalam ekonomi kreatif ada sektor seni pertunjukan dan ada 16 percabangan yang dua diantaranya adalah kesenian, seni basis budaya dan ekonomi berbasis iptek. "Saat ini kami di Dinas Pariwisata, sedang gencar-gencarnya merealisasikan fikiran-fikiran atau ide kreatif baik dalam bentuk kesenian yang menjual. Apalagi kreatifitas yang timbul dari imajinisai yang direalisasikan dalam bentuk iven yang ada plus nilai ekonominya," jelasnya.

Baginya, seni budaya itu memiliki nilai tambah untuk pelaku seni sendiri maupun bagi masyarakat sebagai penikmat. Dirinya mencontohkan, ketika kolaborasi musik tradisi dan moderen menjadi warna baru dan digmari, secara tidak langsung akan memiliki nilai ekonomi.

"Jadi begini, jika kita lakukan dengan pembinanan yang benar, seni pertunjukan ini selain menghibur juga bisa mendatangkan beberapa keuntungan. Pertama mengundang pengunjung, secara otomatis, ramaianya pengunjung juga mendatangkan rejeki bagi para pedagang, disinilah nilai ekonominya muncul. Kedua, jika skalanya besar dan bukan tidak mungkin yang hadir adalah para wisatawan luar daerah atau luar negeri, keuntungan jelas akan berdampak meningkatnya sektor ekonomi," ujarnya dengan semangat.

Cita-cita kedua Dandun Wibawa yang belum tercapai kata dia, adalah mengubah mindset agar masyarakat Riau tidak lagi terkotak-kotak dan membawa kedaerahannya. "Kalau kita bicara Melayu adalah Riau, dan bicara Riau adalah Melayu. Jangan lagi kamu Kampar, kamu Siak dan lain sebagainya. Ini yang membuat kita tak bisa bersatu dan ujungnya tidak maju. Mari sesuai dengan tagline kita "Riau The Homeland Of Melayu" bersatupadu mengembangkan daerah ini," pintanya.

Karena kata dia, tidak satupun manusia yang ingin dilahirkan menjadi seorang Melayu, tak seorangpun yang menyangka akan jadi orang Batak, dan tak satupun bisa meminta lahir jadi orang Jawa. Jadi menurutnya jika ingin maju harus mengedepankan persatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

"Kalau kita masih rasis, kapan kita mau maju, kapan kita kompak. Bagi saya sudah saatnya kita bicara satu Nusa satu bangsa, satu tujuan demi kemajuan bersama. Supaya kejadian yang sudah-sudah tidak terulang," ujarnya.

Pernyataan Dandun ini bukan tanpa alasan, karena pada tahun 2000 an, dirinya sempat memprediksi bakal adanya perpecahan antara Riau daratan dan Kepuluan melalui lagu yang ia ciptakan dengan judul "Di Jakarta Orang Tertawa".

Lagu yang tergabung dalam sepuluh tembang ciptaannya sendiri merupakan kolaborasi genre Melayu Balad, yang syairnya menyindir pemerintahan saat itu, dimana aroma-aroma perpecahan timbul antara Riau Daratan dan Kepulauan karena ulah ego masing-masing tokoh.

Album "Di Jakarta Orang Tertawa" adalah jenis musik akustik dan balada melayu, yang saya ciptakan untuk menumpahkan kekuatiran. Dan ternyata benar, prediksi itu tidak meleset, ketidak kekompakan melayu saat itu terjadi, makanya saya bertanya melayu dimana, melayu kemana sehingga orang Jakarta tertawa," ceritanya.

Kini Dandun Wibawa sudah memiliki tiga orang anak, dimana yang paling tua sudah berkeluarga yang dulunya juga hoby seni. Kedua anakanya yang besar juga masuk IPDN sementara sibungsu masih duduk di kelas dua SMA.

Iapun berharap, jika nanti dirinya sudah tiada, maka perjuangannya dibidang seni dan kepegawaian bisa dilanjutkan oleh anak-anaknya. ***