JAKARTA - Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Ahmad Irawan membantah tudingan pendukung Calon Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo yang menilai Partai Golkar terpuruk di bawah kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto.

Menurut Irawan, tudingan tersebuat sama sekali tidak berdasar. Sebab faktanya, di bawah kepemimpinan Airlangga, Partai Golkar telah berhasil memperoleh kursi terbanyak kedua di DPR pada Pileg 2019.

"Selain itu, untuk pertama kalinya Partai Golkar memenangkan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden," kata Irawan di Jakarta, Rabu (19/9/2019).

Selain itu, lanjutnya, saat ini Partai Golkar juga sedang melaksanakan program-program partai yang merupakan terobosan baru di era kepemimpinan Airlangga, seperti yang terbaru pemberian penghargaan terhadap Caleg Partai Golkar dalam Pemilu 2019.

"Jika partai terpuruk, tidak mungkin kita finish pada urutan kedua hasil Pemilu 2019. Jika Golkar rusak, tidak mungkin dapat melaksanakan kegiatan partai secara partisipatif dan demokratis," tutur Irawan.

Mengenai tudingan lainnya, seperti soal penyalahgunaan wewenang oleh Airlangga, menurut Irawan sama sekali tak berdasar. Sejauh ini tak ada fakta yang membuktikan Airlangga melanggar AD/ART Partai atau bertindak tanpa wewenang, apalagi berlaku semena-mena di partai.

Kata dia, selama ini semua keputusan Partai Golkar diambil dengan cara yang sangat rasional dan demokratis. Mengenai kondisi Golkar yang dikatakan dalam kondisi kegentingan yang memaksa, menurut dia, itu hanya pendapat subjektif belaka.

"Bahkan bahasa kegentingan tersebut hanya duplikasi istilah saja dari ayat konstitusi UUD 1945. Karena objektifnya tidak ada situasi genting yang memaksa di Golkar saat ini," ujar Irawan.

"Karena program dan kebutuhan partai terlaksana seperti biasa, tidak terdapat kekosongan kekuasaan dan fungsi kepengurusan berjalan normal saja. Jadi situasi genting apa yang dimaksud," tambah Irawan.

Sebaliknya, ia menuding justru pihak yang
mengidentifikasi diri sebagai Golkar Pro Bamsoet yang tidak memiliki iktikad baik, seperti melakukan somasi secara terbuka.

Irawan menilai, justru kelompok Pro Bamsoet lah yang memiliki maksud untuk mempermalukan Airlangga di publik dan di internal Partai Golkar dengan menggunakan bahasa provokatif dan membangun suatu gambaran negatif mengenai pribadi Airlangga dan Partai Golkar.

"Jelas itu langkah dan bahasa yang digunakan sangat merugikan Partai Golkar," kata Irawan.

Irawan juga membantah tudingan adanya
preman berseragam AMPG di DPP Partai Gokar atau situasi mencekam dan tidak kondusif. Mereka yang dituduh sebagai preman adalah anggota Partai Golkar yang sedang mengikuti kegiatan orientasi di DPP Partai Golkar.

"Sudahlah, kita semua memiliki kewajiban moral (moral obligation) untuk menjaga keutuhan Partai Golkar. Masalah dapat kita diselesaikan secara santun dan dengan cara musyawarah," tutur Irawan.

Lagi pula, kata dia, tidak ada hal yang menakutkan dari ancaman untuk menyelesaikan perselisihan secara hukum. Hanya saja hal tersebut harus dihindari karena semua yang terkait adalah keluarga besar Partai Golkar.

"Jika pun pilihan itu diambil oleh pihak Pro Bamsoet, tidak ada pilihan lain selain menghadapinya untuk menjaga marwah dan kehormatan Partai Golkar," kata Irawan.***