PEKANBARU - Komunitas Riau 2020 yang berisikan kalangan muda enerjik, yang banyak menyoroti pembangunan dan perjalanan Pemerintahan di Provinsi Riau menilai kepemimpinan Arsyadjuliandi Rachman sebagai Gubernur Riau, sudah berjalan dengan baik. Apa yang telah dibuat dan dilakukan sudah sejalan dengan visi dan misi Provinsi Riau.

''Banyak yang sudah dibuat dan dilakukan oleh Arsyadjuliandi Rachman sebagai Gubernur Riau, baik dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, tata kelola pemerintahan, perizinan dan hampir semua fungsi-fungsi dan tugas pemerintahan daerah sudah berjalan dengan baik,'' ujar Zulfa Hendri yang dipercaya sebagai moderator Komunitas Riau 2020 saat berkunjung ke kantor redaksi GoRiau.com, Jalan Kartama, Maharatu, Marpoyan Damai, Pekanbaru, Kamis (29/3/2018).

Hadir pada kunjungan tersebut, Arif Fahrurrozi (Sekretaris), Nofri Andri Yulan (Koordinator), Suyeni (Kastrad//Kajian Setrategisdan Adfokasi), Saidan (Humas), Indra Lesmana (Humas), Hafis, Eko Raharjo, Teguh Utama (Hubungan Antar OKP) dan Ajrin Bagus Nugraha. Mereka diterima Pimpinan Umum GoRiau.com, Hermanto Ansam.

Pada diskusi tersebut, Zulfa Hendri mengatakan, Komunitas Riau 2020 terus mengikuti perkembangan politik yang terjadi di Riau, bahkan jauh sebelum Pilgubri 2018 ini. Berdiri sejak 2016 lalu, komunitas ini menghimpun semua kekuatan pemuda terutama aktifis yang sudah keluar dari kampus untuk tetap memikirkan dan mengembangkan sumbangsih pemikiran untuk mendukung pembangunan.

''Untuk Pilgubri ini, kami sudah mengamati sejak lama, jauh sebelum penetapan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau. Kami melakukan diskusi-diskusi soal siapa Gubernur Riau yang layak memimpin Riau kedepan. Jadi setelah kami analisis, Komunitas Riau 2020 menilai Arsyadjuliandi Rachman layak ditampilkan kembali,'' ujarnya.

Ada beberapa baromoter penilaian yang ditetapkan Komunitas Riau 2020 untuk calon Gubernur Riau, baik dari perjalanan pemerintahan, pembangunan hingga hasil kerja yang selama ini diberikan. ''Arsyadjuliandi Rachman sudah berbuat dan dikenal bersih. Kita tahu 3 gubernur kita tersandung kasus di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), namun alhamdulillah, Pak Andi (Arsyadjuliandi Rachman) berjalan normal. Begitu pula program pembangunan seperti transparansi, dimana saat ini seluruh proyek pemerintah bisa dipantau oleh rakyat melalui monev yang terintegrasi di website riau.go.id yang mudah diakses dimana saja. Jadi tidak ada yang ditutupi, Pak Andi sudah membangun sistem yang transparan,'' jelasnya.

Prestasi lain adalah penerapan single salary di lingkungan Pemprov Riau, perizinan terpadu yang sukses mendorong investasi, pemberlakukan transaksi non tunas, serta beberapa program reformasi birokrasi lainnya. ''Intinya, Pak Andi Rachman ini sudah bekerja dengan baik. Apa yang diucapkannya sesuai dengan apa yang dilaksanakan,'' paparnya.

Sementara itu, Pimpinan Umum GoRiau.com, Hermanto Ansam menyampaikan bahwa pemilihan gubernur hanyalah rutinitas demokrasi yang memang harus dilalui. Jadi tidak ada yang harus dibanggakan pada proses pemilihan kepemimpinan yang masih menganut nilai-nilai general ini. Di banyak daerah baik kabupaten dan kota hingga provinsi, rakyat hanya dihadapkan pada pilihan yang sudah ditetapkan oleh partai-partai atau independent, dan hasilnya juga lebih banyak melahirkan perseteruan-perseteruan antar pendukung, saling 'lirik-lirikan' antara tim pemenang, saling curiga dan banyak lagi sisi negatifnya. Intinya, Indonesia harus berani keluar dari sistem demokrasi yang melahirkan pemilihan langsung ini, jika tidak, pihak asing akan senang melihat antar anak bangsa berseteru.

''Biaya Pilkada seperti Pemilihan Gubernur Riau ini sangat besar, bisa lebih Rp300 miliar, apa yang kita cari dari proses yang menelan biaya yang sangat besar itu. Benarkah itu menghasilkan pemimpin yang berkualitas? Sementara untuk membangun sebuah sekolah yang bagus, hanya dibutuhkan sekitar Rp5-10 miliar, kita harus irit-iritkan, bahkan anggaran sekolah yang dibawah Rp1 miliar pun harus dicekik. Tapi untuk Pilgubri, kita dengan santainya mengeluarkan lebih Rp300 miliar? Jadi kita ini sedang apa, apa ini demokrasi yang kita inginkan?'' tutupnya. ***