TELUK MERANTI - Pos penjaga hutan yang berada di tepian Sungai Serkap, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan baru sebulan dibangun. Pos itu terdapat empat ruangan yang didiami oleh delapan orang penjaga hutan di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) PT Gemilang Cipta Nusantara (APRIL Grup). Beberapa petugas yang kala itu memakai seragam berwarna krem sudah siap untuk patroli di sepanjang sungai Serkap dengan menggunakan perahu motor.

Mangaratua Manalu (29) misalnya, ia melakukan patroli di sekitar kawasan RER, dimana terdapat berbagai macam keanekaragaman hayati dan spesies seperti harimau, beruang madu dan kucing hutan.

Manalu, begitu akrab ia disapa telah bekerja selama 3,6 tahun sebagai ranger, sebutan untuk penjaga hutan RER, mengaku tak pernah merasa sepi dan ketakutan saat di hutan. Baginya, kicauan burung menjadi salah satu hiburannya selama berada di hutan karena kicauan tersebut membuatnya merasa tentram dan aman.

Pekerjaan ini menurutnya lebih lebih seru dan menantang. Selain itu, sejak menjadi ranger, pengetahuannya pun semakin bertambah mengenai nama-nama latin beberapa jenis pohon, satwa langka dan burung-burung di area restorasi.

Ads
Baca Juga: Pelajari Multiplier Effect, Riau Investment Forum Kunjungi RAPP

''Setiap pagi pukul 07.00, saya dan teman-teman ranger lainnya mulai patroli ke dalam hutan. Biasanya kami dibagi menjadi dua tim, setiap tim terdiri dari 3 orang ranger. Tim satu melakukan patroli titik api dan illegal logging di arah barat dan tapal batas, sedangkan tim lainnya di arah timur dan area GHG Tower. Patroli dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 3 km, dan kemudian kembali ke pos ranger,'' ujar pria yang sebelumnya berprofesi sebagai security di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) selama tiga tahun ini.

Baca Juga: Tingkatkan Nilai Ekonomis Arang Sekam, Mitra Bina RAPP Ciptakan Lapangan Kerja Bagi Masyarakat

Pria yang murah senyum ini tak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang ia geluti, walaupun harus berada jauh dari keluarganya yang berada di Pangkalan Kerinci. Profesi sebagai ranger ini menuntutnya tinggal di hutan selama 20 hari dalam sebulan sehingga ia hanya memiliki waktu 10 hari bersama istri dan dua orang anak perempuannya.

''Walaupun harus mandi air kanal, mencari sinyal telepon dengan memanjat pohon 30 meter untuk menelpon keluarga, saya senang hati dan ikhlas menjalankan pekerjaan ini. Saya bangga menjadi ranger karena kamilah yang senantiasa menjaga dan memelihara hutan dan alam dari banyak ancaman,” ujar pria yang memilki dua orang anak ini.

Selain bangga menjadi ranger, ia pun bangga terhadap komitmen APRIL yang selalu menyuarakan untuk tidak membakar lahan gambut karena perusahaan ini mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Sementara itu, Direktur Konservasi APRIL, Petrus Gunarso mengatakan RER meruapakan program jangka panjang yang menerapkan pendekatan bentang alam dengan empat komponen utama, diantaranya melindungi, mengkaji, merestorasi dan mengelola sektar 150.000 hektar hutan gambut yang telah terdegradasi. Melalui pendekatan bentang alam, RER merestorasi hutan gambut dan ekosistemnya.

Program ini, lanjut Petrus, berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. Dengan melibatkan ranger sebagai penjaga hutan, maka diharapkan kelestarian alam dan lingkungan juga semakin terjaga.

''Kurang lebih kami memiliki 75 anggota Ranger yang setiap harinya selalu menjaga hutan dari berbagai ancaman, termasuk illegal logging maupun pembakar lahan. Dengan adanya ranger ini, semakin memperkuat komitmen kita bersama untuk merestorasi hutan sesuai dengan konsep one to one, dimana setiap 1 hektar area hutan tanaman untuk 1 hektar konservasi. APRIL dan GCN mengambil langkah kedepan untuk menjaga bumi, khususnya hutan.

Program ini juga selaras dengan filosofi 4C milik APRIL, yakni baik untuk masyarakat (Community), negara (country), lingkungan (Climate) dan perusahaan (Company),” ucapnya. (rls)