JAKARTA - Menyebarnya informasi palsu atau hoaks secara masif di berbagai platform digital tidak terlepas dari peran sistem algoritma. Temuan ini selaras dengan langkah Polda Metro Jaya yang baru saja menetapkan 10 tersangka terkait penyebaran konten provokatif selama periode Juni hingga Agustus 2026.

Pakar komunikasi digital, Firman Kurniawan memaparkan bahwa mesin algoritma memang dirancang khusus untuk mendorong konten yang paling banyak menyita atensi publik. Sistem tersebut beroperasi tanpa menyaring kebenaran informasi yang diunggah.

"Algoritma memperkuat tampilan konten yang digemari khalayak. Dalam konsep economy of attention, perhatian itu langka dan diperebutkan," papar Firman pada Senin (10/8/2026).

Makin tinggi tingkat perhatian warganet terhadap sebuah unggahan, makin melimpah pula keuntungan platform. Hal ini memicu algoritma untuk terus mendistribusikan materi yang memancing interaksi pengguna.

Konflik Cepat Menular

Secara teknis, materi yang mengandung unsur pertikaian, pembongkaran rahasia, tindak pidana, hingga teori konspirasi sangat mudah mendulang klik. Jenis informasi semacam ini mengundang rasa penasaran yang tinggi dari masyarakat.

"Formula konten yang menarik perhatian biasanya yang jarang terjadi dan mengundang rasa ingin tahu," sambungnya.

Respons pengguna seperti durasi menonton, jumlah komentar, serta frekuensi membagikan ulang menjadi indikator utama algoritma. Dampaknya, kabar bohong menyebar jauh melebihi informasi klarifikasi.

Tindakan Tegas Aparat

Sejalan dengan fenomena tersebut, aparat kepolisian telah mendalami 37 akun yang terindikasi mendistribusikan narasi destruktif di ibu kota. Dari 28 individu yang diperiksa, 18 orang menerima pembinaan dan 10 lainnya berstatus tersangka. Pihak berwenang menemukan sejumlah modus, termasuk manipulasi data dan pengerahan jasa pihak ketiga.

Meski marak peredaran narasi negatif, kepolisian menjamin situasi keamanan masyarakat tetap kondusif. Ke depan, langkah preventif di dunia maya akan terus ditingkatkan guna meredam laju misinformasi. ***