SELATPANJANG – Selama ini buah pinang dikenal sebagai salah satu komoditas perkebunan andalan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti yang sebagian besar dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Nilai jualnya pun sangat bergantung pada fluktuasi harga pasar. Namun, kondisi itu justru memunculkan gagasan baru dari seorang pemuda desa yang berhasil mengubah pinang muda menjadi produk minuman herbal bernilai tambah.

Adalah Bahrul Hidayat, warga Desa Semukut, Kecamatan Pulau Merbau, yang berhasil menciptakan Juice Pinang Muda (JPM), sebuah minuman herbal berbahan dasar pinang muda yang dipadukan dengan madu, kayu manis, susu, dan teh. Produk tersebut kini hadir dalam tiga varian, yakni minuman siap konsumsi, serbuk instan, dan teh herbal.

Kehadiran JPM menjadi bukti bahwa komoditas lokal tidak harus berhenti sebagai hasil perkebunan semata, tetapi dapat diolah menjadi produk inovatif yang memiliki peluang pasar lebih luas sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat.

Di tengah masyarakat, JPM mulai dikenal sebagai minuman herbal yang dipercaya membantu menjaga kebugaran tubuh. Banyak konsumen pria mengaku merasakan peningkatan stamina dan vitalitas setelah mengonsumsinya secara rutin. Sementara sejumlah konsumen perempuan menyampaikan bahwa minuman tersebut membantu memperlancar siklus menstruasi.

Secara turun-temurun, pinang muda memang telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman herbal. Kandungan alaminya dipercaya mampu membantu meningkatkan stamina, memperlancar sirkulasi darah, mendukung vitalitas pria, sekaligus mengandung antioksidan yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Khasiat tersebut semakin diperkaya dengan madu sebagai sumber energi alami yang kaya nutrisi. Selain membantu meningkatkan stamina, madu juga dipercaya mendukung kesehatan reproduksi dan menjaga kebugaran tubuh.

GoRiau

Tidak hanya itu, kayu manis yang menjadi salah satu bahan utama juga dikenal memiliki kandungan antioksidan dan antiinflamasi yang bermanfaat membantu memperlancar aliran darah, menjaga keseimbangan hormon, hingga mendukung kesehatan jantung.

Bagi perempuan, perpaduan bahan-bahan alami tersebut dipercaya turut membantu mengatasi gangguan siklus menstruasi. Pinang muda diyakini mampu merangsang kontraksi rahim sehingga membantu memperlancar haid sekaligus mengurangi kram menstruasi. Sementara kayu manis diketahui dapat membantu menjaga keseimbangan hormon, sedangkan madu berperan memulihkan energi selama masa haid.

Meski demikian, manfaat tersebut masih mengacu pada pemanfaatan herbal secara tradisional serta pengalaman sejumlah konsumen. Produk ini tidak diklaim sebagai obat untuk mengobati ataupun menyembuhkan penyakit tertentu.

Di balik lahirnya JPM tersimpan kisah perjuangan yang bermula saat harga pinang di tingkat petani anjlok pada tahun 2024. Ketika harga hanya berkisar Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram, Bahrul memilih mencari jalan keluar agar hasil kebun masyarakat tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

Berbekal berbagai referensi yang dipelajarinya secara mandiri, ia mulai melakukan serangkaian percobaan mengolah pinang muda menjadi minuman herbal. Tantangan terbesar yang dihadapi saat itu adalah menghilangkan rasa pahit khas pinang tanpa mengurangi karakter bahan utamanya.

Berulang kali melakukan eksperimen, Bahrul akhirnya menemukan komposisi yang tepat dengan memadukan pinang muda bersama madu, kayu manis, susu, dan bahan pendukung lainnya. Hasilnya, pada Mei 2024 lahirlah JPM dalam bentuk minuman cair yang langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Seiring waktu, berbagai testimoni bermunculan. Sebagian besar konsumen mengaku tubuh terasa lebih segar dan bertenaga setelah mengonsumsi JPM. Bahkan beberapa konsumen perempuan menyampaikan bahwa siklus menstruasi mereka menjadi lebih lancar setelah rutin mengonsumsi produk tersebut.

Meski mendapat respons baik, perjalanan usaha ini tidak sepenuhnya mulus. Produk dalam bentuk cair hanya mampu bertahan sekitar satu hari pada suhu ruang sehingga sulit dipasarkan ke luar daerah.

Kondisi itu kembali mendorong Bahrul berinovasi. Pada tahun 2025 ia mengembangkan JPM dalam bentuk serbuk instan agar memiliki masa simpan lebih lama, lebih praktis didistribusikan, sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.

Hingga kini, seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual di rumah menggunakan peralatan sederhana. Keterbatasan fasilitas membuat kapasitas produksi belum mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat. Selain itu, proses pengurusan izin BPOM juga masih terkendala karena belum tersedianya rumah produksi yang memenuhi standar.

Kepala Desa Semukut, Firmansyah, mengapresiasi kreativitas anak muda desanya yang mampu mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

"Kalau perlu kami akan mempersiapkan Peraturan Desa (Perdes) khusus untuk produk ini. Misalnya desa sedang ada kegiatan dan menerima kunjungan dari luar, nah pihak yang berkunjung diwajibkan membeli produk lokal dari desa kami," bebernya.

Menurutnya, pemerintah desa akan terus membantu memperkenalkan JPM melalui berbagai kegiatan promosi agar produk tersebut semakin dikenal masyarakat dan memiliki peluang pasar yang lebih besar.

Dukungan serupa juga datang dari Camat Pulau Merbau, Hermansyah. Ia menegaskan pemerintah kecamatan siap membuka akses promosi melalui berbagai kegiatan pameran maupun bazar.

"Pemerintah Kecamatan sangat mendukung. Kami akan berupaya berkoordinasi dengan instansi terkait demi kemajuan JPM ini," singkatnya.

Ia berharap produk hasil inovasi masyarakat tersebut tidak hanya dikenal di lingkungan desa, tetapi mampu menembus pasar regional bahkan nasional.

Komitmen pendampingan juga disampaikan Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono. Menurutnya, pemerintah daerah siap membantu pelaku UMKM dalam memenuhi berbagai persyaratan legalitas agar produknya semakin kompetitif.

Ia menjelaskan bahwa sertifikasi halal, PIRT, hingga BPOM merupakan tahapan penting agar produk dapat dipasarkan lebih luas, termasuk memasuki jaringan pasar modern. Pemerintah daerah juga terus membuka peluang pendampingan, termasuk melalui program sertifikasi halal gratis bagi pelaku UMKM.

"Tujuan kami kedepan, bagaimana JPM ini bisa terus berproduksi sembari mempersiapkan seluruh legalitas produk agar memiliki nilai saing di pasar luar," jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, menilai inovasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana komoditas lokal mampu memberikan nilai tambah apabila diolah secara kreatif.

"Produk terbaik seperti ini sekiranya perlu mendapatkan pendampingan serius dari dinas terkait. Kami akan mendorong itu demi terciptanya produk herbal unggulan Meranti kedepan," ujarnya.

Politisi Partai NasDem itu berharap sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar JPM berkembang menjadi produk herbal unggulan asal Kepulauan Meranti yang mampu bersaing di pasar nasional, membuka lapangan usaha baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kini, Juice Pinang Muda bukan sekadar inovasi olahan hasil perkebunan. Produk tersebut menjadi simbol lahirnya kreativitas dari desa yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang, sekaligus membuktikan bahwa kekayaan alam Kepulauan Meranti memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi produk unggulan dengan nilai ekonomi tinggi. (adv)