PEKANBARU - Bersaksi dalam persidangan dugaan perkara suap dan gratifikasi proyek Jalan Duri-Sei Pakning, Kabupaten Bengkalis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Ketua DPRD Riau, Indra Gunawan Eet, dimarahi hakim karena dinilai tidak jujur, Kamis (9/7/2020).

Pantauan GoRiau di lapangan, sidang dilaksanakan secara online, dengan Majelis Hakim yang diketuai oleh Lilin Herlina berada di Pengadilan Tipikor Pekanbaru. Jaksa Penuntut Umum (JPU), Tony Frengky Pangaribuan dan Feby Dwi Andospendi berada di Kantor Merah Putih KPK di Jakarta.

Sebelum dimintai keterangan, Indra Gunawan Eet terlebih dahulu disumpah, agar memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya di hadapan seluruh peserta sidang.

Namun, yang membuat Majelis Hakim berang, sebagian pertanyaan yang dilontarkan majelis hakim Eet mengaku tidak mengetahui. Padahal pada saat itu Eet menjabat sebagai salah satu pimpinan di DPRD Bengkalis.

Saat majelis hakim menanyakan terkait pengesahan anggaran proyek multiyears di Kabupaten Bengkalis, Eet hampir menjawab seluruh pertanyaan hakim dengan kata tidak tahu.

"Apakah saudara mengetahui terkait pengesahan APBD untuk proyek Multiyears di Bengkalis?," tanya hakim anggota Sahrudi.

Kemudian Eet menjawab tidak mengetahui tentang anggaran APBD Multiyears, "Tidak tahu, saya tidak tahu berapa paket yang dibahas. Pengesahan saya tidak hadir, tidak ikut rapat, pengesahan tidak hadir yang mulia. Taunya setelah berjalan, itu aja yang tahunya, dilaksanakan setelah pengesahan APBD," jawab Eet.

Lalu hakim kembali bertanya, "Apakah saudara mengetahui siapa pemenang lelang, dan kapan proyek itu dilaksanakan?," tanya Sahrudi lagi.

Kembali Eet menjawab tidak mengetahui siapa pemenang lelang proyek tersebut. "Dilelang yang mulia, siapa pemenangnya tidak tahu yang mulia. Tahun berikutnya dikerjakan, saya tidak tahu. Saya tahunya yang Rupat dan Bengkalis. Tahunya heboh aja setelah yang Rupat yang mulia, informasinya pemenangnya lari yang mengerjakan, siapa pemenangnya saya tidak tau yang mulia," jawab Eet.

Sontak jawaban Eet yang banyak mengatakan tidak tahu, membuat hakim berang, "Anda anggota DPRD disana, masa tidak tahu ada proyek itu. Emang anda disana tidur saja. Tidak tahu, masa anda tidak tahu ada proyek untuk pembangunan Bengkalis, yang benar aja," tandas Hakim.

Kemudian Hakim kembali menanyakan kepada Eet terkait pelaksanaan proyek multiyears tersebut, dan terkait penandatanganan Banggar untuk APBD anggaran proyek Multi Years.

"Tak ada yang mulia (kongkalikong), proyek terlaksana tapi tidak selesai, Saya tidak ikut tandatangan di rapat banggar. Yang saya tau kegiatan itu aja, karena saya tau itu ada persoalan kami tidak anggarkan, karena pemerintah meminta," jawab Eet.

Lebih lanjut Hakim membacakan BAP pemeriksaan Eet di KPK, yaag menunjukkan kalau Eet mengetahui siapa pemenang lelang dan masalah penganggaran.

"Anda ini bengak (bohong). Tadi anda bilang tidak tahu, tapi dalam BAP anda tahu. Makanya anda dengar baik-baik pertanyaan hakim," ujar hakim dengan nada tinggi.

Tidak sampai disitu, lalu hakim menyebutkan salah satu perusahaan yang memenangkan lelang pada saat itu, yaitu PT CGA. Dan tiba-tiba Eet mengaku tau tentang PT CGA sebagai pemenang lelang.

"Saudara selang 5 menit berubah, tadi ditanya siapa pemenang lelang tak tau, sekarang saya tanya CGA saudara tau, jadi tak ada yang benar. Tadi bilang tak tau, sekarang bilang tau, mana yang benar. Bingung kan, saudara yang berbohong aja bingung apalagi kami yang mendengar," ungkap Hakim kesal.

Kemudian Hakim mulai mengingatkan Eet untuk bersaksi secara jujur, agar kebenaran dalam perkara ini dapat terungkap.

"Jangan gitu lah, mari kita bongkar ini sama-sama. Apa, dimana letaknya, ini kan membongkar supaya membuktikan siapa yang salah kita hukum, siapa yang benar kita bebaskan, setiap orang dibawa kesini tidak selalu salah. Tapi kalau saksinya bohong ya punya konsekuensi, kalau tau katakan tau," jelas Hakim.

Hingga berita ini diterbitkan, sidang pemeriksaan saksi masih berlangsung di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, dengan agenda pemeriksaan saksi. ***