PEKANBARU – Penunjukan Muhammad Sambu Harman sebagai Komisaris PT SPR Langgak, anak perusahaan BUMD milik Pemerintah Provinsi Riau, memicu beragam tanggapan publik. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Sambu menjadi sorotan dan tak luput dari gelombang kritik, terutama di media sosial. Namun, alih-alih membalas dengan polemik, ia memilih menjadikan kritik sebagai bahan bakar untuk bekerja dan membuktikan kapasitasnya.

"Bagi saya, kritik itu adalah kekuatan. Kritik adalah hal yang paling bagus, karena dari kritik kita selalu dikoreksi dan diawasi. Saya menerima semua kritik dengan senang hati, apapun bentuknya," ujar Sambu, Ahad (12/7/2026).

Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau tahun 2024 itu mengaku telah terbiasa menghadapi kritik sejak aktif berorganisasi. Semasa kuliah, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga mengikuti Latihan Kader III (LK III). Selain itu, ia juga aktif di HIPMI Perguruan Tinggi (HIPMI PT), organisasi otonom di bawah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang menjadi wadah kaderisasi dan inkubasi bisnis bagi mahasiswa.

Menurutnya, pujian tidak akan membuat seseorang berkembang. Sebaliknya, kritik dan masukan merupakan proses penting dalam membentuk karakter seorang pemimpin.

"Proses pendewasaan itu bukan lahir dari pujian, tetapi dari kritik dan saran," katanya.

Sambu mengungkapkan dirinya juga telah berkomunikasi dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau selaku pemegang saham PT SPR Langgak terkait berbagai kritik yang bermunculan. Menurutnya, pesan yang diterimanya sederhana, yakni tetap fokus bekerja dan tidak larut dalam perdebatan.

"Pak Plt Gubernur menyampaikan agar tidak perlu dipusingkan. Kritik itu dijadikan masukan dan motivasi untuk membuktikan kemampuan melalui hasil kerja," ungkapnya.

Karena itu, ia memilih tidak membalas kritik dengan pernyataan ataupun adu argumentasi. Baginya, jawaban paling tepat adalah menghadirkan kinerja yang dapat dirasakan masyarakat.

"Saya biasanya membuktikan dengan hasil. Mari sama-sama mengawal. Saya justru senang ketika bekerja ada yang mengawasi. Itu membuat saya lebih hati-hati, lebih teliti, dan lebih bertanggung jawab," ujarnya.

Menurut Sambu, pejabat publik harus siap menerima kritik sebagai bagian dari mekanisme pengawasan masyarakat. Bahkan, kata dia, seorang presiden sekalipun membutuhkan kritik agar setiap kebijakan yang diambil tetap berada di jalur yang benar.

"Pejabat publik tidak boleh antikritik. Kritik tidak akan mengganggu saya. Saya sudah terbiasa dikritik sejak SMA karena sudah memegang berbagai posisi kepemimpinan. Jadi hal itu sudah biasa," katanya.

Menanggapi keraguan sebagian pihak terhadap kapasitasnya sebagai komisaris, Sambu menegaskan tidak akan menjawab dengan bantahan.

"Kalau ada yang menilai saya tidak layak, tidak masalah. Itu tidak perlu dibantah dengan kata-kata. Cukup dibuktikan dengan hasil kerja. Nanti masyarakat yang akan menilai," tegasnya.

Sambu kemudian menceritakan proses hingga akhirnya dipercaya menjadi Komisaris PT SPR Langgak. Kesempatan tersebut bermula dari aktivitasnya di HIPMI, tempat ia berinteraksi dengan Direktur PT SPR Langgak, Dr. Satria Antoni. Saat itu, ia ditawari mengisi posisi komisaris yang sedang kosong.

Awalnya, ia mengaku sempat menolak karena merasa masih perlu banyak belajar. Namun, nasihat ayahnya, Suparman, mantan Ketua DPRD Riau sekaligus mantan Bupati Rokan Hulu, membuatnya mantap menerima tantangan tersebut.

"Ayah saya berpesan, kalau ada kesempatan besar datang, ambillah. Kesempatan tidak datang dua kali. Dari situ saya mempersiapkan diri dan menerima amanah ini," tuturnya.

Sebelum menerima jabatan tersebut, Sambu mengaku mempelajari berbagai regulasi untuk memastikan penunjukannya tidak bertentangan dengan aturan. Berbekal pendidikan di bidang administrasi publik serta pengalaman mengelola perusahaan perkebunan kelapa sawit dan perusahaan jasa pengamanan (security), ia optimistis mampu menjalankan fungsi pengawasan secara profesional.

Ke depan, ia menargetkan PT SPR Langgak mampu meningkatkan kinerja perusahaan sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi daerah melalui peningkatan keuntungan dan dividen.

"Saya yakin dengan dukungan semua pihak, SPR Langgak akan terus berkembang. Target kami adalah meningkatkan profit dan dividen perusahaan," ujarnya.

Menanggapi anggapan bahwa dirinya mendapat "jalan tol" karena latar belakang keluarga, Sambu justru menilai hal itu sebagai tanggung jawab moral yang jauh lebih besar.

"Privilege itu bukan berarti jalan saya lebih mudah. Justru menjadi beban dan tanggung jawab yang lebih besar. Ilmu yang diwariskan orang tua harus saya buktikan melalui kerja nyata," katanya.

Di akhir pernyataannya, Sambu mengajak generasi muda Riau agar tidak takut memanfaatkan peluang, terus belajar, dan berani menunjukkan kemampuan.

"Sepuluh anak muda bisa mengguncang dunia. Maka saya percaya, satu anak muda juga bisa membawa perubahan besar bagi daerahnya," tutupnya. ***