JAKARTA - Ketiadaan perangkat Automatic Identification System atau AIS pada sebuah speedboat yang membawa rombongan jurnalis di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, memicu tanda tanya besar. Hilangnya kapal cepat yang ditumpangi lima awak media bersama tiga anak buah kapal itu memaksa tim pencari meraba-raba lautan tanpa koordinat yang jelas sejak Jumat (11/9/2026).

Operasi pencarian di lapangan menemui jalan terjal lantaran armada tersebut hanya berbekal alat navigasi sederhana berupa GPS handheld. Pengelola mitigasi kebencanaan menilai absennya piranti pemancar otomatis tersebut menghilangkan jejak digital vital yang seharusnya merekam posisi kapal secara real-time.

Pakar mitigasi, Herry memaparkan bahwa AIS bukan sekadar instrumen penunjuk arah biasa, melainkan perangkat pengaman krusial untuk mendeteksi posisi sekaligus menghindarkan kapal dari risiko tabrakan di jalur pelayaran.

"AIS itu untuk mengidentifikasi kapal. Yang kedua untuk menghindari adanya kecelakaan," terangnya, Jumat (11/9/2026).

Herry merincikan, sistem tersebut merekam seluruh parameter navigasi secara mendetail, mulai dari titik koordinat, kecepatan, hingga haluan kapal. Sebaliknya, GPS handheld yang terpasang di armada nahas itu bekerja pasif dan hanya berfungsi menunjukkan posisi mandiri tanpa memancarkan sinyal ke stasiun pemantau darat.

Akibat keterbatasan teknologi tersebut, tim SAR gabungan harus menerka-nerka area operasi berdasarkan data lintang dan bujur perkiraan yang dihimpun dari laporan kapal lain yang sempat berpapasan sebelum insiden terjadi. Kondisi arus laut Selat Sunda yang bergerak cepat ditambah faktor aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat area pencarian kian melebar dari titik duga semula.

Terkait kelalaian penyediaan alat keselamatan, Herry menyebut pemilik armada berpotensi terseret dalam ranah hukum apabila terbukti melanggar ketentuan pelayaran komersial.

"Sepertinya bisa, regulasinya ada," tandasnya.***