PEKANBARU – Air Sungai Kampar yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan masyarakat kini berubah keruh. Kondisi yang berlangsung sekitar dua bulan terakhir itu memicu keresahan warga yang masih bergantung pada sungai untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci hingga sumber air bagi sebagian masyarakat.
Keresahan itu mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Riau Dapil Kampar, Diski. Ia mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera mengambil langkah konkret menyikapi dugaan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan hulu Sungai Kampar yang diduga berada di Desa Galugua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat menjadi penyebab keruhnya air sungai.
Menurut Diski, meski lokasi aktivitas pertambangan berada di luar wilayah administrasi Riau, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat di sepanjang aliran Sungai Kampar, termasuk di kampung halamannya Desa Sibiruang.
"Kami menerima banyak informasi dan keluhan dari masyarakat. Sungai Kampar bukan sekadar aliran air, tetapi sumber kehidupan warga. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat," ujar Diski, Jumat (26/6/2026).
Ia menegaskan persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai masalah satu daerah semata. Karena dampaknya telah melintasi batas provinsi, diperlukan koordinasi yang kuat antara Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk memastikan penyebab kekeruhan sungai sekaligus melakukan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di kawasan hulu.
"Karena ini sudah lintas provinsi, tentu perlu koordinasi yang baik antar pemerintah daerah. Persoalan seperti ini tidak bisa dipandang sepele karena menyangkut kepentingan orang banyak," tegasnya.
Ketua Fraksi PAN ini juga meminta aparat penegak hukum segera turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Apabila ditemukan aktivitas pertambangan yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan, ia meminta agar dilakukan penindakan tegas tanpa pandang bulu.
Menurutnya, penegakan hukum harus menjadi prioritas agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas dan masyarakat memperoleh kepastian bahwa negara hadir melindungi hak mereka atas lingkungan yang sehat.
Sebelumnya, Camat Kampar Kiri Hulu Ahmad Begab juga menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi Sungai Kampar yang terus keruh. Melalui video yang diunggah di media sosial, ia menyatakan akan menyurati pimpinan daerah serta berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas ESDM Provinsi Riau, guna mencari solusi atas persoalan tersebut.
Pemerintah Kecamatan Kampar Kiri Hulu berharap seluruh pihak dapat bersinergi menelusuri dugaan aktivitas PETI yang diduga menjadi penyebab kekeruhan Sungai Kampar. Langkah cepat dinilai penting agar kelestarian lingkungan tetap terjaga dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sungai tidak terus dihantui rasa khawatir.
Bagi masyarakat Kampar, Sungai Kampar bukan hanya bentang alam yang membelah wilayah. Sungai itu adalah urat nadi kehidupan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, menjaga sungai berarti menjaga masa depan masyarakat yang hidup di sepanjang alirannya. ***


