JAKARTA – Geliat proyek domestik di sektor energi dan infrastruktur ternyata belum mampu mendongkrak penyerapan tenaga kerja secara signifikan di industri permesinan nasional. Meski pesanan sedang melimpah, para pelaku usaha justru memilih langkah ekstra hati-hati dalam menambah jumlah karyawan tetap.

Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Dadang Asikin mengungkapkan bahwa pola tender proyek yang berdurasi pendek menjadi penghalang utama rekrutmen. Perusahaan cenderung menghindari risiko beban jangka panjang jika sewaktu-waktu proyek melambat.

“Ini karena strategi wait and see. Proyek domestik naik, tapi durasinya pendek karena tender bertahap, sehingga perusahaan cenderung menunda hiring. Kami tetap pakai kontrak, borongan, atau subkon untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Dadang, Minggu (8/2/2026).

Selain faktor durasi proyek, efisiensi teknologi menjadi alasan kuat di balik rendahnya angka rekrutmen. Industri permesinan kini mulai beralih ke otomasi ringan untuk mengejar output tinggi tanpa perlu menambah banyak orang. Penggunaan mesin CNC (Computer Numerical Control), pemotongan otomatis, hingga perangkat lunak engineering terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara instan.

Dadang menjelaskan, margin usaha di sektor ini relatif tipis jika dibandingkan industri konsumsi. Oleh karena itu, menaikkan produktivitas alat jauh lebih rasional bagi pengusaha ketimbang menambah jumlah kepala.

“Jika salah rekrut, akan menjadi beban jangka panjang. Pilihan rasional adalah menaikkan produktivitas dulu, bukan jumlah pekerja,” jelasnya.

Kondisi ini selaras dengan laporan S&P Global yang menyebutkan laju penciptaan lapangan kerja nasional saat ini tergolong paling lemah dalam empat bulan terakhir. Data BPS juga menunjukkan proporsi tenaga kerja sektor manufaktur turun menjadi 13,83% pada 2024 dibandingkan 14,17% pada tahun 2022.

Menyikapi fenomena ini, Gamma mendesak Pemerintah dan Kementerian Perindustrian agar kebijakan TKDN tidak sekadar urusan administratif. Mereka menyarankan agar proyek APBN memberikan bobot lebih pada rekayasa lokal dan integrator sistem dalam negeri.

Pihak industri juga mengusulkan penggabungan proyek-proyek kecil menjadi program jangka panjang. Kepastian permintaan dalam jangka panjang diyakini akan membuat pengusaha lebih berani berinvestasi pada pengembangan tenaga kerja tetap di masa depan.***