PANGKALAN KERINCI - Sebanyak 100 mahasiswa di lima kabupaten di Riau memperoleh beasiswa perguruan tinggi dari program pendidikan Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Program tersebut diprioritaskan bagi mahasiswa berprestasi namun kurang mampu secara ekonomi yang berdomisili di desa-desa sekitar operasional perusahaan.

"Program ini sudah memasuki tahun kelima dan dengan jumlah penerima sebanyak 120 orang dari berbagai perguruan tinggi di Riau," ujar Manajer CD RAPP Binahidra Logiardi, ketika dihubungi Minggu (28/6) di Pangkalan Kerinci.

Binahidra menjelaskan sektor pendidikan menjadi salah satu fokus utama perusahaan yang turut mendukung program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kemudian secara jangka panjang membawa dampak pada pengentasan kemiskinan.

"Program ini juga berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030, terutama pada nomor 1, 4, dan 8," imbuhnya.

Robi Sucandra (21) salah satu penerima manfaat beasiswa menceritakan ia harus rela memendam harapan untuk kuliah dan bekerja serabutan demi mengumpulkan biaya.

“Saya ingin kuliah setamat sekolah, tapi karena keadaan, saya tekadkan cari kerja dulu sekaligus bantu ibu,” kata Robi putra asli kelahiran Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Selama dua tahun, Robi menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari tukang ojek, buruh bangunan, hingga menjadi petugas kebersihan sekaligus penjaga masjid.

Pada tahun 2019, ia pun akhirnya diterima di jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau dan memperoleh beasiswa.

Tak jauh beda dengan Hamdani (22), putra kelahiran Sungai Apit Kabupaten Siak. Ia termasuk nekad ingin kuliah dengan mencoba berbagai jalur beasiswa, namun sayangnya gagal.

“Orang tua saya sempat bingung, sebab kalau lulus, dari mana biayanya. Ternyata benaran lulus jalur undangan dan saya pun ikut bingung,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan, Universitas Riau ini.

Harapan Hamdani untuk kuliah hampir saja kandas. Uang tabungan hasil kerja sampingannya dulu hanya cukup membayar biaya satu semester saja. Namun demikian, Ia tak langsung menyerah. Bagaikan jodoh, beasiswa pun berhasil diraihnya.

Mizen Nozisca (22), mengaku bangga bisa meraih beasiswa dari RAPP. Meskipun awalnya, ia harus bekerja keras untuk mendaftar di kampus impiannya.

"Saya sempat galau awalnya, mak kurang setuju (kuliah) karena keadaan ekonomi," kenang putra kelahiran Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau ini.

Namun Mizen tak putus asa. Ia terus meyakinkan sang ibu agar memberi restu dan tidak perlu pusing memikirkan biaya.

Berbagai pekerjaan akhirnya ditekuni Mizen selama setahun demi mengumpulkan modal. Mulai dari tukang angkat galon air minum, kerja di kedai nasi ampera, hingga menjadi buruh harian. Setahun kemudian, Mizen diterima di UIN Suska Riau dan memperoleh beasiswa hingga saat ini.

"Sekarang saya sudah bisa melihat mak tersenyum, saya kuliah tanpa memberatkan mak dan bisa kirim uang ke mak di kampung," ungkapnya.

Cerita haru lainnya datang dari Yuliana Sartika (21), yang nyaris berhenti kuliah lantaran sang ayah mendadak sakit terkena serangan jantung.

"Waktu itu ayah harus segera dioperasi dan butuh biaya tak sedikit, sehingga saya diminta untuk tidak kuliah lagi," tutur putri kelahiran Rantau Panjang, Buatan, Siak, Riau ini.

Tika, begitu dia disapa, kemudian mendengar adanya informasi beasiswa dari RAPP. Peluang tersebut hampir saja terlewat karena hanya tinggal satu hari sebelum ditutup.

"Langsung cepat saya urus semuanya waktu itu dan alhamdulillah saya lolos. Kalau tidak, mungkin saya berhenti kuliah di tengah jalan," tukasnya.

Koordinator Program Pendidikan dan Beasiswa CD RAPP, Vonne Kandou mengatakan program beasiswa tetap berlanjut meski di situasi pandemi dengan mengikuti protokol kesehatan. Sebanyak Rp700 juta beasiswa disalurkan kepada 100 mahasiswa di tahun 2020.

"Seleksinya telah dilakukan akhir tahun lalu, sebelum masa COVID-19, tim survei kita langsung turun ke lapangan untuk berkoordinasi dengan pihak desa," ujarnya.

Akibat pandemi COVID-19, bimbingan dan pemantauan tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan dengan konferensi video daring (online).

"Acara penyerahan beasiswa juga kita lakukan secara video daring dan ini merupakan wujud komitmen kami terhadap dunia pendidikan," pungkasnya. ***