BATANG - Beroperasinya tol Trans Jawa, terutama ruas Pemalang-Batang dan Batang-Semarang ternyata cukup dirasakan dampaknya di jalur pantura. Tak hanya jalan nasional itu yang lengang, restoran di sepanjang pantura Kabupaten Batang juga merasakan kian sepinya pengunjung.

Arif Munandar, salah satu di antara pemilik rumah makan di Pantura Alas Roban mengaku, sejak dioperasikannya jalur tol, sejumlah rumah makan di sepanjang Jalur Pantura Batang langsung sepi pembeli.

Omset para pelaku usaha kuliner itu menurun drastis. Usaha yang mereka lakoni sejak puluhan tahun di jalur yang dulunya terkenal padat itupun, terancam gulung tikar.

"Sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi, para pengendara memilih untuk lewat jalan tol. Sehingga rumah makan saya, yang biasa digunakan untuk tempat beristirahat oleh para pengendara mobil dan truk kini sangat sepi," katanya, seperti dilansir GoNews.co dari Radarpekalongan, Sabtu (12/1/2019).

Ia menyebut, sebelum ada tol, dirinya bisa memperoleh omset sekitar Rp 3 sampai Rp 5 juta dalam satu hari. Namun saat ini penghasilannya menurun drastis.

Dalam sehari, omsetnya tidak mencapai Rp 1 juta. "Terbukti, kemarin pada saat arus mudik dan balik libur Natal dan Tahun Baru sangat sepi sekali. Omset rumah makan saya seketika turun drastis," terangnya.

Diungkapkan Arif, kondisi tersebut terjadi sejak beroperasinya jalur tol Trans Jawa. Jumlah pengunjung yang sebelumnya didominasi para pelintas yang menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan, langsung anjlok hingga 70 persen.

Saat ini, kata Arif, konsumen hanya dari para pengguna motor atau awak truk-truk besar yang masih memilih untuk lewat jalur Pantura setiap harinya. Namun, itu pun jumlahnya dirasa semakin jarang. Namun demikian, Arif masih menyisakan asa.

"Mudah-mudahan bisa ramai lagi. Kalau nggak ada perubahan signifikan, lebih baik tutup usaha," tukasnya.

Dia mengatakan, sebelum adanya jalan tol rumah makannya selalu ramai oleh para pengguna jalan pantura. Namun sekarang ini rumah makannya mulai sepi, karena para pengendara juga lebih memilih melalui jalan tol.

Ketakutan itu juga disampaikan oleh Kepala Badan Pengelolaaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah (BPKPAD) Kabupaten Batang, Bambang Supriyanto SH MHum. Ia mengatakan, dengan sepinya pengunjung di sejumlah rumah makan atau restoran jalur Pantura Batang, maka juga akan berimbas pada target penyerapan dari pajak restoran.

"Memang yang berimbas langsung dari dampak adanya tol adalah restoran. Oleh karena itu, kami harap harap cemas dengan target pendapatan pajak restoran tahun ini. Meski untuk tahun ini, target perolehan pajak restoran kita turunkan nilainya," jelasnya.

Tahun 2019, kata Bambang, pajak restoran ditarget mampu terkumpul Rp 3 miliar. Target tersebut masih sama jumlahnya seperti tahun 2018. "Ya, tahun kemarin target pajak restoran senilai Rp 3 miliar dan di perubahan menjadi Rp 3.106.726.500. Alhamdulillah, hingga akhir tahun kita mampu melampauinya menjadi Rp 3.585.116.007 atau 115,4 persen," paparnya.

Ditambahkannya, untuk target pendapatan pajak daerah tahun 2018 telah tercapai Rp 74.198.002.206 atau 104,16 persen dari yang ditarget yang ditetapkan Rp 71.233.524.000.

"Tahun ini, target pajak daerah naik menjadi Rp 74.517.000.000. Mudah mudahan saja bisa terlampaui apabila rencana Bupati mendirikan rest area berkonsep TOD itu terealisasi dan bisa menyerap para pelaku usaha kuliner berjualan disana," pungkasnya.***