BADAN Kesehatan Dunia atau WHO beberapa waktu lalu telah mengeluarkan rilis merekomendasikan penggunaan obat dexamethasone untuk penanganan COVID-19, karena dinilai efektif dan bermanfaat pada kasus berat COVID-19. Kendati direkomendasikan oleh WHO, namun faktanya obat tersebut bukan penangkal COVID-19 dan hanya merupakan kombinasi obat-obatan.

Dexamethasone adalah obat golongan kortikosteroid yang digunakan untuk mengatasi peradangan, reaksi alergi, dan penyakit autoimun. Walaupun obat ini bebas dijual di apotek, penggunaan dexamethasone tidak boleh sembarangan dan harus sesuai dengan petunjuk dokter, karena efek sampingnya tidak ringan dan dapat menekan sistem imun yang justru diperlukan tubuh untuk melawan kuman penyakit.

Penulis mencari jurnal terkait tentang efikasi dexamethasone terhadap pasien COVID-19. Dirilis di PubMed pada tanggal 19 Juni 2020 yang ditulis oleh Nafiseh Abdolahi dkk dengan judul yang diterjemahkan “Efikasi Berbagai Metode Pemberian Regimen Termasuk Dexamethasone, Immunoglobulin Intravena dan Interferon-Beta Untuk Mengobati Pasien COVID-19 Yang Kritis”. Penelitian ini dilakukan secara acak (randomisation) sehingga cukup bagus sebagai basis bukti pengobatan.

Dari jurnal tersebut didapatkan peningkatan Saturasi oksigen (presentasi Hemoglobin yang berikatan dengan oksigen dalam arteri) meningkat mencapai 90% yang sebelumnya dibawah 90%. Durasi untuk dirawat di rumah sakit pun berkurang dan angka kematian dari COVID-19 pun berkurang. Kerja Dexamethasone digunakan untuk mengurangi peradangan (antiinflamasi) dan badai sitokin yang  dapat menyebabkan kerusakan di paru-paru. Kerusakan inilah yang membuat pasien sesak napas dan mengalami komplikasi, misalnya gagal nafas atau ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Badai sitokin disebabkan peningkatan respon imun yang sejatinya sistem kekebalan tubuh kita untuk melawan infeksi. Namun jika berlebihan contohnya pada kasus infeksi COVID-19 akan menyebabkan kerusakan pada tubuh kita.

Meski dexamethasone diyakini dapat membantu penyembuhan COVID-19 pada pasien dengan gejala yang berat, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas dan aturan pemberiannya dalam pengobatan infeksi virus Corona, misalnya mengenai dosis dan lama pemberian obat ini. Belum ada satu obat pun yang sudah terbukti efektif untuk menyembuhkan COVID-19, termasuk dexamethasone. Begitu juga dengan vaksin untuk mencegah infeksi virus Corona. Namun, para peneliti masih terus berusaha mengembangkan obat dan vaksin untuk penyakit ini. Sehingga mencegah lebih baik daripada mengobati. Jadi, agar kita tidak terinfeksi virus Corona yang sedang mewabah ini, selalu terapkan langkah-langkah pencegahannya, seperti mencuci tangan dengan air dan sabun, mengenakan masker saat berada di luar rumah, melakukan physical distancing, dan menjaga daya tahan tubuh. ***

* Penulis adalah Dokter Umum di RSUD Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.