SELATPANJANG – Desa Teluk Buntal, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, dilanda banjir yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Banjir tersebut diduga kuat akibat meluapnya kanal milik PT Nasional Sago Prima (NSP) yang berada di sekitar permukiman warga.

Ketua Pemuda Desa Teluk Buntal, Indra, menyebutkan banjir telah menimbulkan dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Ratusan rumah warga terendam, akses jalan terputus, aktivitas ekonomi lumpuh, hingga kebun dan tanaman produktif warga mengalami kerusakan.

"Banjir ini sangat mengganggu kehidupan masyarakat. Jalan tidak bisa dilalui, kebun kelapa, karet, pinang rusak, dan sebagian warga bahkan terpaksa mengungsi," ungkap Indra.

Menurut Indra, banjir diduga terjadi karena kanal perusahaan tidak dilengkapi sistem pembuangan akhir yang memadai. Meski hujan deras sudah tidak turun dalam beberapa waktu terakhir, air tetap menggenangi permukiman warga. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa luapan air berasal dari kanal perusahaan.

Dampak banjir juga dirasakan dalam roda pemerintahan desa. Akses menuju kecamatan dan kabupaten terhambat, sehingga pelayanan publik tidak berjalan optimal. Ironisnya, hingga kini warga mengaku belum menerima bantuan maupun langkah konkret dari pihak perusahaan, padahal pembersihan kanal dijadwalkan selesai pada Desember 2025.

Atas kondisi tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah tuntutan kepada PT NSP, di antaranya bantuan sembako untuk 150 kepala keluarga terdampak, bantuan papan sebanyak lima ton untuk perbaikan jalan, pembangunan kanal pembuangan air, serta penggantian bibit tanaman warga yang rusak.

Sementara itu, Camat Tebingtinggi Timur, Mazlin, memilih turun langsung ke lapangan menyusuri genangan air yang telah berhari-hari mengurung aktivitas warga. Dari hasil penelusuran, Mazlin memastikan sumber banjir berasal dari kanal perusahaan yang dibuka untuk mengalirkan tual-tual sagu karena memasuki musim panen.

"Warga protes karena wilayah mereka terendam, sementara hujan sudah lama tidak turun. Setelah ditelusuri, ternyata air bersumber dari kanal milik PT NSP," tegas Mazlin.

Ia menegaskan dampak banjir tidak main-main. Selain ratusan rumah terendam, aktivitas masyarakat nyaris terhenti. Warga kesulitan beraktivitas dan mencari nafkah akibat kebun kelapa, pinang, dan karet tidak dapat dikelola.

"Kami dari pihak kecamatan meminta perusahaan bertanggung jawab atas kejadian ini," ujarnya.

HMI Meranti Suarakan Hak Warga Teluk Buntal yang Terendam

Sorotan tajam juga datang dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Meranti. Ketua HMI Meranti, Mohd Ilham, menilai banjir ini tidak terlepas dari dugaan kelalaian perusahaan dalam menjalankan kewajiban lingkungan.

"Perusahaan sebelum beroperasi tentu telah melakukan kajian AMDAL. Kami menduga PT NSP tidak menjalankan RKL dan RPL dengan baik, sehingga AMDAL hanya menjadi formalitas," kata Ilham.

Ia menegaskan, berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, perusahaan wajib bertanggung jawab atas pencemaran dan kerusakan lingkungan, termasuk membayar ganti rugi dan melakukan pemulihan.

"Jika terbukti secara sengaja tidak menjalankan RKL dan RPL, maka perusahaan dianggap melanggar izin lingkungan. Kami meminta operasional perusahaan dihentikan jika terbukti mengabaikan aspek lingkungan," tegasnya.

HMI Meranti menyatakan akan terus mengawal kasus ini dan mendesak Pemerintah Daerah serta DPRD Kepulauan Meranti untuk turun langsung dan memanggil pihak perusahaan guna dimintai pertanggungjawaban.

PT NSP Tegaskan Komitmen Tanggung Jawab Lingkungan

Menanggapi hal tersebut, PT Nasional Sago Prima menyampaikan klarifikasi resmi. Pada Senin, 22 Desember 2025, manajemen perusahaan bersama masyarakat, aparat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi terdampak banjir.

Perusahaan menyatakan telah melakukan sejumlah langkah penanganan, termasuk pembuatan tanggul dan pencucian kanal sepanjang rencana 16.240 meter, dengan progres yang telah terealisasi sekitar 5.750 meter dan terus berlanjut.

PT NSP juga mengaku telah membangun beberapa dam untuk menahan debit air, namun dam tersebut dirusak oleh oknum sehingga air kembali mengalir ke areal masyarakat.

"Terkait kebun atau tanaman warga yang rusak akan kami cek lebih lanjut untuk ditindaklanjuti," ujar Setyo Budi Utomo, Estate Manager PT NSP dalam pernyataan resmi yang diterima GoRiau.com, Rabu (24/12/2025).

Sebagai bentuk kepedulian, lanjut Setyo Budi Utomo, PT NSP berencana menyalurkan bantuan sembako sebanyak 75 paket pada Jumat, 26 Desember 2025, serta bantuan papan dan broti untuk perbaikan jalan yang saat ini masih dalam proses pengadaan.

"Untuk jangka pendek, perusahaan fokus pada pembuatan tanggul dan pencucian kanal. Sementara rencana jangka panjang meliputi pembangunan outlet air di beberapa titik, termasuk Sungai Buntal, yang masih memerlukan kajian lebih lanjut," tutupnya.

Meski klarifikasi telah disampaikan, masyarakat Desa Teluk Buntal berharap langkah konkret dan tanggung jawab nyata segera direalisasikan, agar banjir tidak kembali berulang dan kehidupan warga dapat pulih seperti sediakala. ***