JAMBI, GORIAU.COM - Sejak ditemukannya batu berukuran raksasa yang diduga batu giok sepekan lalu, sebagian besar warga di empat desa di Kecamatan Airhangat Timur, Jambi, meninggalkan pekerjaan mereka sebagai petani dan beralih menjadi pengolah batu akik. Empat desa itu adalah Desa Sungai Tutung, Baru Sungai Tungai, Simpang Sungai Tutung, dan Desa Tamian Jernih.
"Saya melihat ada fenomena baru. Sejak ditemukannya batu berukuran sekitar 20 meter persegi dengan ketinggian lima meter, ditaksir memiliki berat lebih dari 100 ton, sepekan lalu, banyak warga di empat desa ini meninggalkan pekerjaannya sebagai petani, ramai-ramai menjadi pencari batu akik," kata Andri Sesva, 45 tahun, seorang warga Kerinci, kepada Tempo, Selasa, 10 Maret 2015.
Menurut Andri, lokasi ditemukannya batu diduga giok ini selalu ramai dikunjungi warga. Tidak hanya dari Kabupaten Kerinci, warga juga datang dari luar Provinsi Jambi, seperti Dumai (Riau), Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan.
"Mereka datang tidak sekadar melihat, tapi juga membeli serpihan batu diduga giok hasil pahatan warga. Harga jual batu itu tergantung besaran dan warnanya," ujarnya.
Batu sebesar kepalan tinju orang dewasa itu dijual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta. Jika warnanya menarik, seperti hijau atau berbentuk pancawarna, bisa dijual seharga Rp 1 juta. Namun yang kehitaman atau ungu berkisar Rp 100-500 ribu.
Ali, 34 tahun, warga Desa Sungai Tutung, menjelaskan batu raksasa ini pertama kali ditemukan pencari batu akik, yakni Benny, 30 tahun, dan Resmedi, 43 tahun. Kedua warga ini memang sering mencari batu akik di sekitar kawasan itu. Selasa pekan lalu, awalnya kedua orang ini mencoba memahat batu raksasa tersebut. Hasilnya, isi batu itu terlihat berwarna menarik dan diduga batu giok.
Sejak itulah warga berdatangan ke lokasi batu yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Desa Tamian Jernih. Untuk menghindari hal tak diinginkan, di lokasi ditemukannya batu itu sempat dijaga aparat kepolisian. ***



