PEKANBARU - Setiap orang adalah Kapten Kapal kehidupannya, dan memiliki hak untuk memilih apa yang ingin dia lihat melalui manajemen pikiran. Demikian salah satu hal yang disampaikan dalam Seminar Mind Management, yang dilaksanakan Tanoto Foundation bekerjasama dengan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Islam Riau (UIR), Senin (21/12/2015) di Aula Faperta, Marpoyan Damai, Pekanbaru.
Seminar ini diisi oleh seorang Licensed Master Practitioner of NLP (Neuro Linguistic Programming), Fahrizal Tampubolon yang berlangsung selama 2 hari. Diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai Perguruan Tinggi, di antaranya, Universitas Riau (UR), Universitas Lancang Kuning (UNILAK), Universitas Islam Riau (UIR), Universitas Islam Negeri (UIN) Suska, Akademi Teknologi Pulp dan Kertas (ATPK) Bandung.
Fahrizal menambahkan suara-suara yang memenuhi kepala seseorang dengan pilihan kata negatif muncul ketika menghadapi sebuah penolakan ternyata tidak datang dengan sendirinya, karena bisa dikendalikan dan dirubah menjadi kata-kata yang positif, produktif dan menyenangkan.
''Kita memberikan terlalu banyak alasan yang menahan kita di belakang seolah-olah kita tidak punya kendali atas situasi itu dan memilih menjadi korban keadaan, padahal kebanyakan rasa takut itu berasal dari manajemen pikiran,'' ujar lulusan Magister Management Universitas Riau ini.

Licensed Master Practitioner of NLP (Neuro Linguistic Programming), Fahrizal Tampubolon tengah menjelaskan Mind Management, Cara Cerdas Mengelola Pikiran di depan ratusan mahasiswa, Senin (21/12), di Aula Fakultas Pertanian UIR, Marpoyan, Pekanbaru.
Untuk itu, Fahrizal mengajak para mahasiswa sebagai generasi penerus ini untuk lebih mengenal pikirannya dengan belajar Mind Filter atau saringan pikiran. Ada tiga hal yang bisa dilakukan, di antaranya Mind Select and Delete atau pikiran untuk seleksi dan menghapus, kemudian Mind Distort Meaning atau distorsi makna dan Mind Generalization.
''Mind Filter Select and Delete atau menghapus, kita hanya melihat apa yang belum kita punya, atau apa yang belum diberikan saja, tapi kita tidak melihat apa yang sudah diberikan, kemudian, distorsi makna berarti realita di dunia yang kita simpan di memori kita, bukanlah dunia apa adanya, tapi sudah mengalami distorsi, seperti ketika tadi saya tanya 7 mahasiswa tentang putus cinta, 6 di antaranya menjawab sebuah kehancuran atau kesedihan, hanya satu yang menjawab optimis. Jadi sebenarnya kita bisa ambil pilihan berbeda, dan saringan ketiga yakni generalization atau menyamaratakan keadaan,'' jelas pria yang juga menjabat sebagai APRIL Learning Institute (ALI) Head di PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Pelalawan.
''Intinya adalah kita memberikan pemahaman bagaimana cara cerdas menghadapi tantangan hidup, karena kalau tidak cerdas, di situlah kita mengalami kehilangan motivasi,'' ungkapnya lagi.
Program Manager Tanoto Foundation, Dharmanadi Candra mengatakan tujuan dari kegiatan ini untuk mencerdaskan para mahasiswa tidak hanya mereka penerima beasiswa tetapi juga mahasiswa umum lainnya. Sebab, dikatakan Dharmanadi, ketika mahasiswa lulus kuliah kemudian masuk ke dunia kerja, lulusan perguruan tinggi tersebut harus mampu mengelola pikiran, karir, pekerjaan, dan masa depannya.
''Mind Management itu sangat dibutuhkan, karena dalam sejarah kehidupan seseorang, belum tentu orang tersebut mampu mengelola pikiran sendiri, bahkan mengenali pikirannya, padahal diri sendiri adalah tuan dari dirinya sendiri, banyak orang belum menyadari itu,'' kata Dharmanadi.

Ratusan mahasiswa peseta Seminar Mind Management yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation dan Universitas Islam Riau (UIR), mengikuti diskusi kelompok, dibimbing oleh Licensed Master Practitioner of NLP (Neuro Linguistic Programming), Fahrizal Tampubolon, Senin (21/12), di Aula Fakultas Pertanian UIR, Marpoyan, Pekanbaru.
Dikatakannya, melalui pendekatan NLP ini, diharapkan mahasiswa mampu membuat target belajar, mengenal dunia sendiri dan orang lain, kemudian mampu mengelola pikiran untuk hasil bermanfaat dan membuat bahagia.
Dekan Fakultas Pertanian UIR, Ujang Paman Ismail yang hadir membuka Seminar, sangat mengapresiasi kegiatan seminar merubah pola pikir ini. Menurutnya, selain menambah pengetahuan para mahasiswa, kegiatan seminar ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Faperta UIR kepada publik.
''Mahasiswa kami (Pertanian.red) paling banyak menerima beasiswa dari Tanoto Foundation dan juga dari RAPP, dan kita berharap tentunya akan semakin banyak lagi. Kemudian, kami berencana menjajaki kerjasama fisik seperti penelitian, sebab minat mahasiswa terhadap bidang pertanian semakin meningkat setiap tahunnya,'' ujar Ujang.
Disebutkan Ujang, Fakultas Pertanian UIR saat ini sudah berusia 30 tahun dengan akreditasi A, satu-satunya di wilayah Kopertis X untuk perguruan tinggi swasta. Pihaknya juga terus menyediakan berbagai fasilitas untuk memperlancar proses pembelajaran mahasiswa dengan membangun laboratorium autoagronom, yang hanya ada 2 di Indonesia, yakni Madura dan Pekanbaru.
Kegiatan yang dimotori oleh para penerima beasiswa atau Tanoto Scholars Association (TSA) Riau ini dibawakan dengan metode cerita, dan berbagai aktifitas seperti roleplay atau memainkan peran, diskusi kelompok, visualisasi dengan video, dan metode menarik lainnya. (rls)


