PEKANBARU, GORIAU.COM - Rapat Pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara dan penetapan hasil penghitungan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau 2013 layaknya dagelan dan 'komedi' topeng monyet.

Seluruh saksi dari masing-masing kandidat 'meributkan' acara 'sakral' itu dengan ragam protes, menyatakan ketidak puasan atas hasil rekapitulasi suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau, Minggu (15/9/2013).

"Hua...hahaha...," awal dagelan itu diramaikan dengan kotak suara yang tergembok, sulit dibuka karena kuncinya hilang 'ditelan bumi'.

Seorang saksi dari kandidat nomor urut 4 (Partai Demokrat), Roni Riyansyah pun menginginkan KPU Kuantan Singingi untuk mempertanggungjawabkan hilangnya kunci gembok kotak suara itu.

"Mana tahu, bisa menjadi kewajiban di Pemilu atau Pilgubri mendatang, kunci kotak suara wajib dihilangkan dan dibuka paksa sebagai wujud kerahasiaan," kata politikus ini disambut tepuk tangan yang tak jelas arahnya. Mendukung, atau justru mengejek dagelan itu.

Aksi protes juga terus mewarnai jalannya Rapat Pleno KPU Riau tersebut, ajang demokrasi pun semakin 'memanas', namun mengasyikan karena dagelan menjadi guyonan, topeng monyet.

Mulai dari indikasi penggelembungan suara, pelanggaran pidana akibat politik uang hingga perseteruan antara penyelenggara dengan peserta, terus bergulir.

Sedikit ketegangan sempat terjadi, ketika beberapa pendukung pasangan nomor urut 4, Achmad-Masrul, tiba-tiba dengan lantang membantah pimpinan rapat.

'Melangkahi' kebijakan untuk kemudian keluar dari ruang Rapat Pleno setelah memberikan komitmennya tentang Pilgubri yang dipandang penuh dengan kecurangan.

"Kecuali Rokan Hilir dan Rokan Hulu serta Kota Dumai, kami memiliki bukti-bukti kecurangan termasuk adanya penggelembungan suara," ujar Roni Riyansyah, kader Demokrat itu.

Rokan Hilir adalah lumbung suara bagi 'sahabat' kandidat yang mereka dukung bernomor urut 2, Anas-Andi, dari Partai Golkar. Sementara di Kabupaten Rokan Hulu, merupakan kawasan bagi kandidat negeri seribu suluk.

Dagelan demokrasi ditunda, ketika saksi dari pasangan mengaku, Hebat, Aman, Lurus, dan 'Jujur Mandiri' menuangkan pernyataan-pernyataan politis lainnya.(fzr)