PEKANBARU - Ruang desain di Politeknik Caltex Riau (PCR) menjadi saksi lahirnya inovasi medis yang siap menggebrak panggung internasional. Empat mahasiswa yang tergabung dalam Tim Darnakel tengah mematangkan detail terakhir rancangan mereka sebelum bertolak menuju Texas, Amerika Serikat, untuk berkompetisi di ajang AAKRUTI Global 2025.
Tim yang terdiri dari Muhammad Haekal Aulia, Daniel Simatupang, Ardian Dwi Syahputra, dan Ruth Delila Aritonang ini menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia sekaligus kawasan Asia Pasifik. Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika tersebut berhasil menyisihkan lebih dari 1.800 tim dari 37 negara dalam seleksi ketat yang diselenggarakan oleh Dassault Systèmes.
Dosen pembimbing, Prof DR Hendriko, ST MEng, mengungkapkan bahwa desain yang dibawa ke babak final telah mengalami transformasi besar. "Perkembangannya sangat jauh. Jika di tahap awal desain masih terlihat kaku, kini tampil lebih matang dengan konsep yang lebih jelas. Banyak perubahan dilakukan, baik dari sisi visual, material, maupun sistem kerja alat," ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Inovasi bertajuk Convertible Wheelchair-Bed for Enhanced Patient Mobility ini menawarkan solusi mobilitas bagi pasien. Alat tersebut dirancang mampu bertransformasi dari kursi roda menjadi tempat tidur pasien secara elektrik, sehingga meningkatkan kemandirian pasien dan meringankan beban pendamping.
Struktur utama produk kini beralih dari aluminium ke baja paduan demi kekuatan maksimal namun tetap ringan. Selain itu, sistem kontrol motor listrik dibuat lebih presisi dan dilengkapi fitur pelacakan lokasi pengguna secara real-time.
"Kebaruan utama ada pada sistem konvertibel elektrik yang mengintegrasikan kursi roda dan tempat tidur dalam satu kesatuan," jelas Ketua Tim Darnakel, Daniel Simatupang. Ia menambahkan bahwa fokus tim saat ini adalah mematangkan presentasi agar mampu meyakinkan juri internasional di Texas pada 1–4 Februari 2026 mendatang.
Daniel menjelaskan bahwa timnya tidak hanya menjual teknis alat, tetapi juga dampak sosial yang dihasilkan. "Kami berlatih menyampaikan cerita di balik desain sekaligus simulasi tanya jawab untuk menghadapi juri. Bukan hanya bagaimana alat ini bekerja, tetapi mengapa desain ini penting," tegasnya.
Meski persaingan di tingkat global diprediksi sangat kompetitif, Hendriko optimistis terhadap kesiapan mahasiswanya. Menurutnya, karya ini sangat relevan dengan isu kesehatan global dan mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh proses administratif mulai dari visa hingga tiket keberangkatan telah rampung. Kini, Tim Darnakel hanya perlu menjaga fokus untuk membuktikan bahwa karya dari ruang desain di Pekanbaru mampu berbicara banyak di hadapan akademisi dan pelaku industri manufaktur dunia di Texas. ***


