JAKARTA - Lembaga keamanan dan peneliti militer China terdeteksi menyerap sistem kerja algoritma kecerdasan buatan milik perusahaan Amerika Serikat. Berdasarkan penelusuran terhadap puluhan paten dan jurnal akademik, keluaran data dari OpenAI dan Anthropic dipakai untuk melatih kapabilitas AI lokal Jumat (31/7/2026).
Pemanfaatan data ini menjadi jalan pintas bagi industri pertahanan China di tengah minimnya suplai cip komputasi akibat embargo Washington. Teknologi AI tersebut diimplementasikan dalam berbagai instrumen militer di lapangan untuk mempercepat pengambilan keputusan taktis.
Efisiensi Sistem Komputasi
Pendekatan yang diterapkan oleh ilmuwan China adalah distilasi model. Mereka memanfaatkan keluaran dari AI yang sudah matang untuk membangun sistem berukuran ringkas namun spesifik. Universitas Nasional Teknologi Pertahanan PLA mencatat bahwa sistem hasil distilasi ini mampu menjalankan navigasi drone secara langsung, bahkan tanpa koneksi jaringan eksternal.
Penggunaan lokal ini menekan biaya operasional dan kebutuhan daya komputasi. "Mengajari sebuah model tentang jawaban yang benar adalah satu hal, tetapi mengajarinya alur penalaran di balik jawaban tersebut jauh lebih sulit," sebut Analis Jamestown Foundation, Sunny Cheung menyoroti efisiensi transfer logika tersebut.
Potensi Hilangnya Fitur Keamanan
Mengetahui produknya digunakan untuk riset militer, pihak Anthropic menyatakan tidak pernah memberi izin akses komersial kepada entitas yang dikontrol pemerintah China. Mereka memperingatkan bahwa model AI yang didistilasi berpotensi kehilangan fitur keamanan bawaan, sehingga fungsi sensitifnya bisa berpindah ke ekosistem di luar kendali pengembang asal.
Isu penyalahgunaan kekayaan intelektual ini diperkirakan akan menjadi titik krusial dalam agenda pembahasan tata kelola digital antara kedua negara. Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan AS, Gedung Putih, hingga perwakilan PLA belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan eksploitasi data tersebut. ***


