PEKANBARU - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika stasiun Pekanbaru mendeteksi adanya 36 hotspot atau titik panas di Riau. Dari jumlah itu, 19 titik di antaranya merupakan titik api dari kebakaran hutan dan lahan.

“Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua, jumlah total titik panas di Riau terdetksi 36 titik,” ujar Analisi BMKG, Yasir Prayuna, Rabu (14/8/2019) malam.

Yasir merincikan, hotspot itu tersebar di sejumlah kabupaten dan paling banyak di Pelalawan yakni 18 titik panas, disusul Indragiri Hilir sebanyak 9 titik.

“Selanjutnya di Siak ada 3 titik panas, Kampar 2 titik, Kuansing 2 titik, Indragiri Hulu 1 titik, Rokan Hilir 1 titik,” kata Yasir.

Ads
Sedangkan jumlah titik api mencapai 19 titik, karena tingkat kepercayaan dari pantauan satelit tersebut confidence di atas 70 persen. Titik api itu dipastikan berasal dari kebakaran hutan dan lahan di setiap daerah yang terpantau satellite.

“Titik api tersebut berada di Pelalawan 10 titik, Indragiri Hilir 5 titik, Siak 2 titik, Indragiri Hulu 1 titik serta Kuantan Singingi 1 titik,” kata Yasir.

Yasir menyebutkan, jarak pandang paling terbatas berada di Pelalawan akibat kabut asap yakni 1 kilometer. Sejumlah lahan terbakar di sana, termasuk kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

“Jarak pandang di pelalawan hanya 1 kilometer dan berkabut asap. Sedangkan daerah lain di atas 5 kilometer,” kata Yasir.

Kepala Balai TNTN, Halasan Tulus mengatakan, saat ini tim pemadam sedang proses pendinginan di lahan Tesso Nilo.

"Ada dua hektare yang terbakar kemarin itu, sudah berangsur padam. Sekarang tim masih tetap di sana, melakukan pendinginan lahan, agar api tidak hidup lagi," kata Halasan, Rabu.

Tulus menduga ada masyatakat yang sengaja membakar lahan kosong di sana. Kemudian api merembet ke lahan lain.

"Yang terbakar di lahan Tesso Nillo itu diokupasi masyarakat. Mereka diduga membersihkan lahannya dengan cara dibakar. Lalu merembet ke area lainnya," ucap Halasan.

Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger mengatakan, luas lahan terbakar terus bertambah. Sejumlah daerah seperti Pekanbaru, Kampar, Bengkalis, Rokan Hilir Siak, hingga Pekanbaru masih terjadi kebakaran.

“Luas lahan yang terbakar dari awal Januari hingga saat ini mencapai 5.033,35 ha seluruh Riau,” kata Edwar.

Edwar menyebutkan, update terbaru lokasi yang terbakar pada Selasa (13/8) yang didata BPBD meliputi, Pekanbaru yaitu di Jalan Taman Karya Kelurahan Tuah Karya, 0,01 ha, Kelurahan Labuh Baru Barat, seluas 0,5 ha.

Sedangkan di Rokan Hilir, terjadi di Bangko Pusako, meluas 1 ha, Kelurahan Cempedak Rahuk 4 ha, Desa Teluk Nilap, Kecamatan Kubu, seluas 27 ha, Kepulauan Sei Gajah Makmur 1 ha. Sementara di Kabupaten Bengkalis, lahan terbakar terjadi di Desa Pasiran meluas 1 ha, Desa Buluh Manis meluas 1 ha, Kelurahan Tanjung Kapal, seluas 3 ha. Serta di Lahan konsesi PT Priatama Desa Darul Aman, 3 ha.

Untuk di Siak lahan terbakar ada di Bundaran PT BSP Desa Dayun 2,5 ha, Desa Jati Baru belum diketahui luasnya, di Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit 13 ha.

Di Indragiri Hulu ada di Desa Pauh Ranap 3 ha, Desa Bencah Kelubi, Kabupaten Kampar 5 ha. Desa Tambak, Kabupaten Pelalawan 2 ha. Di Kelurahan Kerinci Timur, Kabupaten Pelalawan 6 ha.

Satgas Karhutla Riau juga mencatat lahan konsesi yang terbakar pada awal pekan ini, yakni PT BDL yang berlokasi di Kabupaten Indragiri Hilir. Edwar mengatakan sedikitnya enam hektare lahan konsesi perusahaan tersebut hangus dihajar si jago merah.

Secara keseluruhan, Edwar mengatakan Karhutla terluas masih terjadi di Bengkalis yang mencapai 1.550,28 Ha. Selanjutnya Rokan Hilir menempati posisi kedua yang menyumbang kebakaran terluas di Riau mencapai 1.057,45 Ha.

Wilayah lainnya yang mengalami kebakaran adalah Siak 672,9 Ha, Dumai 310,75 Ha, Rokan Hulu 8,25 Ha, Meranti 252,7 Ha, Pekanbaru 100,29 Ha, Kampar 143,78 Ha, Pelalawan 227 Ha, Indragiri Hulu 120 Ha, Indragiri Hilir 584,85 Ha, dan Kuantan Singingi 5,1 Ha. (gs1)