PEKANBARU - Kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Pekanbaru terus memakan korban dari sisi kesehatan masyarakat. Selama kurun waktu 28 hari, tercatat hampir tujuh ribu warga harus berurusan dengan fasilitas medis akibat paparan polusi udara, dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendominasi laporan harian.
Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru merekam sedikitnya 6.917 kasus penyakit yang ditimbulkan oleh kabut asap. Rekapitulasi ini dihimpun terhitung sejak 25 Agustus hingga 21 September 2026, berdasarkan laporan masuk dari 21 puskesmas dan 29 rumah sakit di penjuru kota.
Tekanan polusi ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan. Awal pekan ini, Senin (21/9/2026), fasilitas kesehatan kembali menerima lonjakan 241 pasien baru yang mengeluhkan berbagai gangguan fisik akibat memburuknya kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau tersebut.
Kepala Dinkes Kota Pekanbaru, Hazli Fendriyanto mengonfirmasi bahwa penderita ISPA menempati urutan teratas dari total temuan harian tersebut. "ISPA mencapai 231 orang, pneumonia satu orang, konjungtivitis dua orang, iritasi kulit enam orang, dan asma satu orang," rincinya kepada GoRiau.com, Selasa (22/9/2026).
Dampak kabut asap ini patut diwaspadai karena menembus pertahanan fisik kelompok usia rentan. Dari ratusan kasus harian itu, delapan pasien terpaksa menjalani rawat inap intensif. Mereka terdiri atas dua balita, satu anak-anak, dua remaja, dua orang dewasa, serta satu warga lanjut usia (lansia).
Kondisi pasien balita yang dirawat cukup mengkhawatirkan, dengan satu anak menderita ISPA dan satu lainnya terdiagnosis pneumonia. Sementara itu, seluruh pasien rawat inap dari rentang usia anak hingga lansia terkonfirmasi mengalami gejala ISPA. Secara keseluruhan, Dinkes mencatat masih ada 16 pasien yang berstatus dalam perawatan medis akibat polusi udara ini.
Penelusuran data pada kelompok usia berisiko tinggi juga memperlihatkan angka yang tidak sedikit. Terdapat 41 balita yang dilaporkan jatuh sakit akibat menghirup udara bercampur partikel asap. Rinciannya meliputi 38 balita terkena ISPA, satu terjangkit pneumonia, dua mengalami iritasi kulit, dan satu terkena asma.
Nasib serupa dialami kelompok anak-anak dan lansia yang sistem kekebalan tubuhnya lebih sensitif. Tercatat 38 anak dalam populasi berisiko harus ditangani tim medis karena 36 di antaranya menderita ISPA, satu pneumonia, dan dua iritasi kulit. Adapun pada kalangan lansia, ditemukan 32 orang yang terdampak, meliputi 25 kasus ISPA, empat asma, dua iritasi kulit, serta satu penderita pneumonia.
Menghadapi situasi kualitas udara yang fluktuatif, jajaran kesehatan setempat mengeklaim terus memperketat pengawasan dan respons darurat di berbagai fasilitas pelayanan.
"Tim penanggung jawab Program ISPA Dinkes, puskesmas dan rumah sakit se-Kota Pekanbaru selalu melakukan pemantauan keadaan serta data kasus penyakit akibat karhutla," tandas Hazli. ***


