PEKANBARU – Ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Pekanbaru tahun 2024, terhitung paling meriah dibanding daerah lain. Hal itu mengingat ada lima pasangan yang siap merebut hati dan simpati masyarakat Kota Bertuah.

Menyikapi hal itu, peneliti dari Lingkar Studi Marpoyan Circle Indonesia (MCI), Andree Armilis menilai, meski diikuti banyak pasangan, namun pihaknya melihat tidak ada yang istimewa dan cenderung biasa-biasa saja.

Hampir seluruhnya adalah wajah lama yang juga tidak memiliki catatan dalam prestasi. Begitu pula janji-janji politiknya juga relatif sama dan beririsan satu dengan yang lain.

"Tidak menarik," ujar Andre, Senin (2/9/2024) kepada GoRiau.com.

Kalau ditanya apa faktor yang akan menentukan kemenangan para pasangan peserta Pilwako Pekanbaru, lulusan Universitas Gajah Mada ini melihatnya dari beberapa sisi.

Pertama, adalah kondisi antropologis Pekanbaru sebagai kota yang heterogen, multi etnik dengan tingkat akses yang cukup baik terhadap informasi.

“Saya tidak tahu data persisnya Pekanbaru, tapi statistik pengguna smartphone di Riau mencapai 74 persen lebih di tahun 2022. Bisa kita asumsikan bahwa persentase terbanyak tentu di ibukota provinsi,” terangnya.

Bila fakta ini dikonfrontir dengan data tingkat pendidikan sebagai indikator nalar kritis masyarakat, maka jumlah terbanyak masyarakat Pekanbaru adalah yang tidak dan belum sekolah yakni 32 persen dan lulusan SMA sekitar 28 persen. (merujuk statistik BPS 2023-red).

Dengan demikian, bisa diasumsikan bahwa arus informasi akan kencang, sementara daya kritis cenderung sedang bahkan kurang.

Dengan demikian, kejelian dari para pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru dalam mendistribusikan informasi, akan banyak berpengaruh pada pilwako ini. “Bahkan informasi hoaks sekalipun akan berdampak,” terangnya.

Selanjutnya adalah pengaruh politik nasional. Sentimen nasional yang menguat dalam mengkritisi isu-isu seperti dinasti politik, korupsi, kolusi, nepotisme, gaya hidup mewah pejabat dan lain sebagainya, akan mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap para peserta Pilwako.

“Saya kira model-model pencitraan kesederhanaan sudah usang dan tidak laku lagi dijual. Masyarakat mulai berpikir substansial saat ini,” ujarnya.

Lalu soal bagaimana kapasitas para calon yang ada saat ini? Menurut Andree, persoalan di Pekanbaru sudah jelas. Mulai dari banjir, sampah, jalan rusak, layanan publik yang jelek, persoalan parkir dan retribusi.

Tempo hari, ada balon wako yang batal ikut kontestasi, tapi profiling-nya bagus, memberikan optimisme bahwa yang bersangkutan punya kapasitas menyelesaikan persoalan-persoalan di atas. Setidaknya, hal itu bisa dilihat dari riwayat pendidikan dan rekam jejak profesionalnya.

“Nah, sekarang pasangan yang lima ini bisa tidak memberikan keyakinan yang demikian pada publik? “ ujarnya lagi.

Adapun soal politik uang, Andree memprediksi akan tetap akan terjadi. “Tapi saya pikir dengan kondisi saat ini tidak akan terlalu signifikan kontribusinya bagi kemenangan,“ ujarnya.

Sebab, ‘Perang Duit’ kalau melibatkan lima pihak akan sangat rumit. Apalagi kalau setiap peserta Pilwako Pekanbaru saling melakukan aksi kontrol dan mengawasi.

Namun yang paling urgen di atas itu semua adalah bagaimana usaha para peserta Pilwako Pekanbaru untuk benar-benar mengkaji persoalan Kota Pekanbaru, bukan hanya sekedar persoalan fisik-material.

“yang penting adalah menemukan rumusan terbaik yang dipahami secara bersama oleh paslon dan partai-partai pengusungnya,” ujarnya lagi.

Dengan batas waktu yang tersisa menjelang pemungutan suara, Andree menilai masih cukup untuk melakukan konsolidasi. Kesempatan untuk turun dan ‘membaca’ rakyat (bukan hanya menyapa dan kampanye) juga masih terbuka. Ini juga seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Kalau keseriusan soal ini tidak ada, kontestasi ini akan menjadi seperti yang dulu-dulu saja. Habis banyak uang untuk memilih pemimpin baru, tapi kotanya tetap begitu-begitu saja,” pungkasnya. ***