WAINGAPU -- Di saat banyak guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di Tanah Air tidak disiplin mengajar dan kurang peduli kepada para siswanya, lima guru Sekolah Dasar (SD) di pedalaman Nusa Tenggara Barat (NTB) justru rela bersabung nyawa agar para siswanya tetap bisa belajar di masa pandemi Covid-19 ini.

Video perjuangan berat kelima guru SD tersebut beredar luas di media sosial. Dalam video berdurasi 3 menit 30 detik yang viral itu, sejumlah guru bergantian menyeberangi sungai seluas sekitar 50 meter, dibantu beberapa warga.

Dikutip dari Kompas.com, para guru itu tampak kesulitan menyeberang, bahkan ada yang hampir terseret derasnya arus sungai.

Mereka merupakan guru-guru dari Sekolah Dasar Negeri Lumbung, Desa Maidang, Kecamatan Kambata Mapambuhang, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka menyeberangi Sungai Maidang, Kambata Mapambuhang.

Pelaksana Tugas Kepala Sekolah Dasar Negeri Lumbung, Fransiskus Xaverius Geroda membenarkan bahwa dalam video itu merupakan dirinya dan beberapa guru dari sekolah tersebut.

''Kalau di video itu persis terjadi dua minggu lalu, pada tanggal 28 Januari (2021). Yang ambil videonya itu kebetulan teman guru yang duluan ke sebelah kali,'' kata Fransiskus kepada Kompas.com, melalui sambungan telepon, Senin (15/2/2021) malam.

Pada saat itu, Fransiskus bersama empat orang guru sedang mengantar tugas siswa, sekitar pukul 12.30 Wita. Sebab, hingga saat ini sekolah tersebut masih menerapkan belajar dari rumah.

Lima orang guru tersebut terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan.

''Kertas (yang berisikan tugas siswa) tidak basah karena ada kantongnya. Semuanya kami simpan dalam kantong plastik dan diisi dalam tas,'' ungkap Fransiskus.

Para guru harus berjalan kaki dengan kondisi jalanan yang terjal pada saat mengantar tugas ke rumah para siswa.

Mereka berjalan kaki hingga sejauh kurang lebih 4 kilometer untuk bisa sampai di rumah siswa tertentu. Adapun jumlah siswa di sekolah tersebut adalah 73 orang.

''Jalan kaki, tidak ada akses jalan rayanya. Yang paling jauh sekitar 4 kilometer. Jadwalnya setiap pekan, kasih tugas baru, ambil tugas lama,'' ujar Fransiskus.

Selama musim hujan, para guru juga harus melawan derasnya arus sungai setiap kali mengantarkan tugas.

Sebab, hingga kini belum ada jembatan penghubung untuk melewati sungai tersebut.

Tak internet dan listrik

Fransiskus menjelaskan, sistem belajar online tidak bisa diterapkan SDN Lumbung, karena tidak ada jaringan internet dan listrik di tempat itu.  

Desa Maidang juga merupakan wilayah yang terisolasi dengan jarak sekitar 49 kilometer dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur.

Meski banyak kesulitan yang dihadapi, Fransiskus tetap bangga bisa mengabdi untuk pendidikan. 

''Kalau sudah sampai di rumahnya anak-anak, bertemu orangtua murid. Kemudian anak-anak lagi, itu ada kebanggaan tersendiri,'' ungkap Fransiskus.

Saat ini, tenaga pengajar di SDN Lumbung berjumlah sembilan orang.

Dari jumlah tersebut, ada tiga orang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), tiga orang berstatus pegawai tidak tetap (PTT), dan dua orang berstatus honor sekolah.

Sementara satu orang lainnya berstatus calon pegawai negeri sipil (CPNS) karena belum mengikuti prajabatan menjadi pegawai negeri sipil (PNS).***