JAKARTA, GORIAU.COM - Kampanye hitam semakin menyerang pasangan capres-cawapres Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta. Khusus terhadap Prabowo, kampanye hitam yang menonjol adalah dugaan keterlibatannya dalam kasus pelanggaraan HAM tahun 1998 dan status kewarganegaraannya.

Namun menurut Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, semua isu itu tak terlalu berpengaruh. Justru, kata Burhanuddin, Prabowo harus lebih mewaspadai hadirnya isu tentang keluarganya."Kalau isunya HAM tidak bawa dampak besar. Itu isu sudah lama dan tidak terlalu banyak yang tahu. Yang justru menjadi masalah adalah soal ibu negara, perbincangan soal siapa pendamping Prabowo yang saya perkirakan akan lebih berefek," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, saat dihubungi Rabu (28/5/2014).Burhan menuturkan, berdasarkan survei yang dilakukan lembaganya, hanya 24-29 persen masyarakat yang mengetahui soal kasus penculikan aktivis dan pemecatan terhadap Prabowo dari dunia militer. Dari jumlah itu, sebanyak 60 persen menyatakan bisa memaafkan sikap Prabowo."Namun, untuk kasus ibu negara, ini yang akan banyak dipergunjingkan dan berpengaruh pada preferensi memilih, terutama di kalangan ibu-ibu. Prediksi saya, mereka punya pandangan jadi kepala keluarga saja nggak bisa, apa bisa urus negara?" tutur Burhanuddin.Lebih lanjut, Burhanuddin mengkritik gaya komunikasi Prabowo dalam menyikapi kampanye hitam yang ditujukan kepadanya. Menurut dia, Prabowo selama ini lebih banyak memilih sikap diam."Soal HAM dan soal kewarganegaraan, Prabowo diam. Tidak bisa hanya mengandalkan Fadli Zon dan Suhardi. Seharusnya, Prabowo perlu menjelaskannya sendiri," kata Burhanuddin.Kampanye hitam terhadap Prabowo-Hatta juga mulai terjadi. Prabowo selama ini memang lebih memilih sikap diam atas serangan-serangan itu. Di dalam pemantapan tim pemenangan Prabowo-Hatta beberapa waktu lalu, Prabowo hanya meminta agar tim suksesnya tidak membalas fitnah dengan fitnah.***