PEKANBARU - Kehadiran Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar di kampus Universitas Riau (Unri) bukan sekadar rutinitas pemaparan program pemerintah. Di hadapan ratusan agen perubahan muda, ia membawa pesan mendesak agar kalangan akademisi tak lagi bersikap pasif dan menyerahkan urusan tata kelola lingkungan sepenuhnya di pundak petugas kebersihan.

Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi pemateri dalam seminar edukasi dan literasi lingkungan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unri, Selasa (18/8/2026).

Baginya, institusi pendidikan adalah episentrum strategis untuk membangun kesadaran pelestarian alam. Dengan mobilitas ribuan mahasiswa setiap harinya, area kampus tak pelak menjadi salah satu titik penyumbang limbah harian yang signifikan.

"Mahasiswa ini ada ribuan. Kalau kita hitung jumlah timbulan sampah juga besar di sini. Mudah-mudahan ini bisa membangun kesadaran bersama di lingkungan mahasiswa," paparnya.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru sebelumnya gencar merambah tingkat rukun warga (RW) dan kelurahan untuk mengedukasi warga. Kini, ruang kuliah menjadi sasaran berikutnya untuk memperluas literasi kebersihan kota.

Mahasiswa memegang kedudukan istimewa lantaran memiliki privilese akses ke pengetahuan serta jaringan organisasi yang mumpuni. Kebiasaan positif yang tertanam di kampus diyakini mampu menular ke ruang lingkup tempat tinggal mereka masing-masing.

"Harapannya tentu kepada mahasiswa, mereka dapat memahami materi ini, kemudian sama-sama berkontribusi," terangnya.

Lebih lanjut, kolaborasi antara pemangku kebijakan dan kaum intelektual muda dinilai sangat terbuka lebar. Berbagai gagasan cemerlang dari mahasiswa sangat potensial untuk dieksekusi bersama Pemkot.

"Tadi kita lihat luar biasa, ada kawan-kawan yang juga sudah aktif dalam pengolahan lingkungan. Ada ide-ide yang disampaikan, mudah-mudahan ini bisa kita kerjasamakan ke depan lebih jauh," puji Markarius antusias.

Aturan tertulis di atas kertas belumlah cukup untuk mengurai benang kusut krisis ekologi perkotaan. Walaupun regulasi disahkan, armada pengangkut disiagakan, hingga fasilitas pengolahan dibangun, kunci keberhasilannya tetap bermuara pada perubahan perilaku komunal.

Langkah revolusioner, menurutnya, bisa dimulai dari hal remeh seperti membawa tas belanja kain sendiri guna menekan peredaran plastik sekali pakai. Jika aksi mungil ini dilakukan secara kolektif, dampaknya akan sangat masif. Pemilahan limbah sejak dari sumber juga membuka peluang ekonomi sirkular yang menguntungkan.

Sebagai solusi nyata, pemerintah kota telah memperkenalkan stasiun sampah digital (waste station). Inovasi ini memungkinkan warga menyetorkan limbah terpilah mereka untuk ditukarkan dengan poin bernilai ekonomis.

"Ketika sampah nonorganik dipilah, ternyata bisa menjadi uang," urainya sembari mengajak kaum muda meramaikan program tersebut.

Unri sendiri dinilai memiliki pijakan moral yang kuat untuk memelopori gerakan berkelanjutan ini. Statusnya yang telah dicanangkan sebagai kampus berwawasan lingkungan menjadi bukti komitmen nyata terhadap kelestarian alam.

"Unri ini setahu saya sudah dideklarasikan sebagai Green Campus, kampus yang sudah mengedepankan konsep sustainable development dalam pembangunan lingkungan," imbuhnya.

Namun, predikat mentereng itu tak boleh sekadar menjadi slogan pelengkap identitas. Nilai-nilainya harus mewujud dalam denyut nadi keseharian sivitas akademika, mulai dari tahap minimalisasi plastik hingga pemanfaatan material daur ulang yang bernilai jual.

Di luar dinding kampus, ironi kebersihan masih terus terjadi. Kebiasaan membuang kotoran ke drainase, membakar secara terbuka, hingga menelantarkannya di ruang publik memaksa negara merogoh kocek lebih dalam untuk proses pembersihan.

"Jangan sampah kita kasih kepada orang lain, lalu kita buang sembarangan," tegasnya.

Bumerang kelalaian ini pada akhirnya akan menghantam manusia itu sendiri lewat ancaman bibit penyakit dan musibah banjir akibat saluran air yang tersumbat. Mahasiswa ditantang untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas segala sesuatu yang mereka konsumsi sehari-hari.

"Minimal sampah kita sendiri kita kelola. Kalau bisa kita pilah, kita kasih pengolahan masing-masing," pungkasnya menutup paparan.

Di Pekanbaru, tercatat sekitar 1.300 ton limbah diproduksi setiap harinya. Menghadapi volume raksasa tersebut, pemerintah kota tidak sekadar membutuhkan deretan truk pengangkut tambahan. Lewat ruang-ruang diskusi akademis ini, barisan kaum muda diposisikan bukan sekadar sebagai penonton atau penerima layanan akhir, melainkan sebagai motor utama penggerak transformasi peradaban kota secara menyeluruh. ***