JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan Kamis (13/8/2026) tanpa pergerakan berarti. Mata uang Garuda berada di posisi stagnan setelah sempat mengalami fluktuasi tipis sepanjang hari.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menetap di level Rp17.877 per USD. Posisi ini tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pergerakan mata uang ini sempat tertekan sebelum akhirnya kembali rata.

"Sore ini rupiah ditutup stagnan di Rp17.877 per USD. Kita lihat rupiah tadi sempat mengalami pelemahan tujuh poin, tapi sekarang stagnan," papar Ibrahim.

Tensi Geopolitik Timur Tengah

Faktor eksternal yang membayangi pasar uang hari ini adalah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Fokus utama mengarah pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dan perdagangan global. Situasi ini memberikan ketidakpastian bagi para pelaku pasar.

AS sebelumnya mengklaim telah menguasai kawasan perairan tersebut. Sebaliknya, Iran menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan mereka bersama Oman. Iran juga menuntut penghapusan seluruh sanksi dari AS sebagai syarat tercapainya kesepakatan damai.

Sinyal Penurunan Suku Bunga The Fed

Dari sisi ekonomi global, rilis data inflasi AS yang menunjukkan penurunan secara bulanan maupun tahunan membawa angin segar karena sejalan dengan ekspektasi pasar. Kondisi ini membuka peluang bagi bank sentral AS untuk menyesuaikan arah kebijakan moneter.

"Jika harga minyak mentah mengalami penurunan, terdapat peluang The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September," urai Ibrahim.

Data pembanding dari Yahoo Finance menunjukkan rupiah bertengger di angka Rp17.863 per USD, menguat tipis delapan poin atau 0,04 persen dari Rp17.871. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah berada di level Rp17.882 per USD, turun enam poin dari posisi sebelumnya.

Katalis Positif Dalam Negeri

Meski ditekan sentimen global, rupiah mendapat penopang dari dalam negeri. Keputusan lembaga pemeringkat MSCI mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Emerging Market memberikan sentimen positif, meskipun ada beberapa indikator yang mengalami penurunan peringkat.

Selain itu, keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menunjuk kembali Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia disambut baik oleh investor domestik maupun asing. Sentimen ini membantu menjaga stabilitas rupiah hingga akhir sesi perdagangan. Untuk proyeksi perdagangan Jumat esok, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di rentang Rp17.870 hingga Rp17.920 per USD. ***