JAKARTA - Harga minyak mentah global anjlok ke level terendah sejak awal konflik AS-Israel dengan Iran, Jumat (12/6/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh tanda-tanda peningkatan aliran pasokan melalui Selat Hormuz dan kemajuan perundingan menuju kesepakatan damai sementara.
Berdasarkan laporan Bloomberg, harga minyak Brent berjangka tercatat turun 3,4 persen menjadi USD 87,33 per barel. Angka ini merupakan posisi terendah sejak 5 Maret, sekaligus mengakhiri pekan dengan total penurunan 6,2 persen. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) ikut susut 3,2 persen menjadi USD 84,88 per barel, dan harga kontrak berjangka gas alam Eropa merosot drastis hingga 8,4 persen.
Dinamika Pasokan dan Pembukaan Jalur Pelayaran
Harga minyak mentah saat ini telah turun sekitar 30 persen sejak puncak konflik. Sebelum perang pecah di bulan Februari, pasar sejatinya sudah mengalami kelebihan pasokan, dengan patokan global minyak mentah Brent berada di kisaran USD 70 per barel.
Para pejabat senior mengungkapkan bahwa AS dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran vital yang dilewati sekitar seperlima minyak dunia sebelum perang. Kesepakatan ini berpotensi ditandatangani saat para pemimpin dunia G7 bertemu minggu depan, meski pesan yang saling bertentangan antara Washington dan Teheran masih memicu keraguan terkait jadwal pasti tersebut.
Selain faktor perdamaian, anjloknya harga dipercepat oleh kemampuan pasar mencari jalur alternatif saat Selat Hormuz ditutup. Beberapa minggu terakhir, makin banyak kapal yang melintasi jalur air tersebut dengan mematikan sinyal satelit. Di sisi lain, penurunan impor China serta lonjakan ekspor AS turut menyeimbangkan kondisi pasar.
"Bahkan jika kesepakatan damai sementara diselesaikan dan selat dibuka kembali, kita masih akan menghadapi keterbatasan pasokan," jelas Ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth menanggapi situasi tersebut.
Sinyal Diplomasi dan Reaksi Pasar Global
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dalam unggahan media sosialnya menegaskan bahwa nota kesepahaman antara kedua belah pihak belum pernah sedekat ini. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi pasar akan berakhirnya konflik yang kini sudah memasuki bulan keempat.
Namun, detail isi nota kesepahaman masih samar lantaran kedua pihak memberikan deskripsi yang berbeda. Hal ini membuat pemilik kapal tanker berhati-hati, bahkan beberapa memprediksi akan terjadi kekacauan besar jika jalur itu benar-benar dibuka secara tiba-tiba. Ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth menambahkan bahwa kapal-kapal yang menuju Asia dari Teluk Persia akan membutuhkan waktu dua bulan untuk perjalanan pulang-pergi.
"Pasar akan berupaya melakukan diversifikasi dari mereka, setidaknya dalam jangka pendek, karena Iran pada dasarnya telah menyadari bahwa menutup selat itu bukanlah hal yang sulit," papar Spesialis energi ICAP, Scott Shelton, menyoroti preferensi banyak negara yang kini lebih memilih minyak mentah AS ketimbang dari Teluk Persia.
Klaim terobosan damai yang sebelumnya kerap tak berdasar membuat investor bertindak hati-hati. Volatilitas yang ada mendorong posisi terbuka pada patokan Brent ke level terendah dalam lebih dari setahun akibat pengurangan eksposur risiko. Di sisi lain, peningkatan posisi bullish di pasar gas Eropa berpotensi menambah dorongan penurunan harga.
"Kabar tentang potensi kesepakatan tersebut tampaknya telah mendorong pelaku pasar untuk ingin menutup beberapa posisi beli sebelum akhir pekan," urai Direktur gas dan LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser. ***


