MANADO - Saat pendidikan Pancasila mulai redup, anak-anak dan generasi muda mulai kehilangan jati diri bangsa. Hal ini pulalah yang membuat Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) kembali tergugah untuk merangkul meraka.

Salah satu upaya MPR kembali menggelorakan nilai-nilai Pancasila, yakni dengan menggelar kegiatan outbond. Kegiatan ini merupakan langkah taktis untuk mengingatkan kembali nilai-nilai kebangsaan guna menangkal pengaruh budaya dan ideologi yang tak sesuai dengan kepribadian dan nilai-nilai luhur.

Hal demikian disampaikan Thahir dalam malam penutupan Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan metode outbond Bela Negara yang diikuti oleh 100 Resimen Mahasiswa (Menwa) se-Sulawesi Utara, Manado, Minggu (21/7/2019).

"Kegiatan ini dilaksanakan karena masih banyak masyarakat yang ternyata awam terhadap Pancasila. Imbasnya, masyarakat rawan disusupi budaya dan ideologi yang tak sesuai dengan nilai-nilai bangsa," ujarnya.

Ads
Sementara itu, anggota Menwa bernama Devita Perwana mengaku terkesan dengan kegiatan yang dilatih langsung Kopassus itu. "Jujur ini Membuat wawasan saya bertambah," tuturnya.

Dengan kegiatan itu, para generasi muda didorong untuk tidak apatis, justeru menjadi agent of change. Sama dengan Thahir, Devita juga ingin kegiatan ini dilakukan di perguruan-perguruan tinggi.

"Karena banyak masyarakat yang belum tahu Empat Pilar", ungkapnya.

Rasa optimis juga disampaikan Anggota Lembaga Pengkajian MPR, Wahidin Ismail. Menurutya, anak-anak yang mengikuti Outbond Bela Negara akan menjadi generasi yang disiplin dan bertanggungjawab merawat dan mengelola potensi yang dimiliki bangsa Indonesia.

Pria asal Aceh itu mengingatkan, suatu bangsa akan mati bila tidak mampu merawat dan mengelola potensi yang dimiliki. Ia menyebut Uni Soviet, Jugoslavia, dan beberapa negara lainnya pecah dan bubar karena tidak bisa merawat dan mengelola keberagaman yang dimiliki. "Dengan demikian tak ada jaminan sebuah bangsa akan terus bertahan," tandasnya.

Indonesia, kata Dia, merupakan sebuah negara yang wilayahnya, padat penduduknya, beragam budaya, adat, bahasa, dan agamanya. Apa yang dimiliki negara ini di satu sisi adalah kekayaan namun di sisi yang lain adalah potensi perpecahan.

Bangsa ini barusan menyelenggarakan Pemilu yang sangat dinamis. Untuk itu Wahidin berharap ke depan kita semakin menyatu. "Bangsa ini telah menghadapi berbagai cobaan dan lulus dalam ujian itu", ucapnya.

Masih bersatunya Indonesia, kata mantan anggota DPD dari Papua Barat itu, karena anugrah dari Tuhan dan bangsa ini mampu merawat titipan dari pendiri bangsa yakni ikatan dalam keragaman yang menjadi pegangan bersama.

Para Menwa sebagai generasi muda diakui mempunyai peran penting dalam ikut menjaga dan merawat Indonesia. "Dengan sosialisasi ini semakin sempurna bagi Menwa untuk melanjutkan cita-cita pendiri bangsa. Kalian harus menjadi virus yang baik untuk persatuan bangsa," pungkasnya.***