JAKARTA – Harga gas alam grosir berjangka di kawasan Eropa dan Inggris bergerak naik 1,6 persen pada perdagangan Kamis waktu setempat, seiring menipisnya peluang solusi diplomatik atas dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Data Investing.com pada Jumat (25/9/2026) mencatat kontrak acuan TTF Belanda pengiriman terdekat pulih ke level EUR74,50 per megawatt-jam (MWh). Pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dalam kurun hampir tiga pekan.
Di saat bersamaan, instrumen gas grosir NBP Inggris untuk penyerahan terdekat menguat hingga 185,85 pence per therm. Pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi hambatan pada rantai pengiriman LNG.
Retorika Politik PBB dan Jalur Pasokan LNG
Tekanan pada sentimen pasar kembali mencuat pascapidato Presiden AS Donald Trump dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pernyataannya, Trump melabeli Iran sebagai pengganggu kawasan dan membuka ruang bagi langkah lanjutan jika situasi memburuk.
Respons penolakan dilayangkan jajaran pimpinan militer serta pemerintah Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian konsisten mengambil posisi tegas terhadap AS, sementara Garda Revolusi Iran melontarkan peringatan balasan apabila tekanan Teheran tidak mereda.
Hambatan diplomatik ini menyulitkan tercapainya kesepakatan pemulihan arus lalu lintas kapal pengangkut LNG dari Qatar dan Teluk Persia yang melewati Selat Hormuz menuju terminal impor Eropa.
Defisit Cadangan Gas dan Risiko Inflasi
Selain riak geopolitik, ketersediaan stok energi di fasilitas penyimpanan bawah tanah Uni Eropa turut memicu kecemasan jelang masuknya musim pemanasan. Catatan Gas Infrastructure Europe (GIE) memperlihatkan keterisian cadangan berada di kisaran 70 persen dari total kapasitas.
Realisasi pengisian cadangan tersebut mencatatkan selisih sekitar 12 poin persentase lebih rendah jika dibandingkan periode serupa pada 2025.
Kondisi defisit pasokan ini memicu perhatian serius Bank Sentral Eropa. Otoritas moneter tersebut mengingatkan bahaya gejolak harga energi grosir yang berpotensi memberi tekanan berlanjut terhadap tingkat inflasi konsumen jelang musim pemanasan. ***


