JAKARTA – Pemerintah berencana mengganti penggunaan LPG 3 kilogram atau gas melon dengan Compressed Natural Gas (CNG). Langkah strategis ini diambil guna menghemat anggaran subsidi energi negara yang diproyeksikan mencapai Rp32,1 triliun atau sekitar 30 hingga 40 persen.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman mengatakan pihaknya tengah mematangkan peta jalan transisi energi tersebut agar aman bagi rumah tangga. Jika terealisasi, Indonesia akan mencatat sejarah sebagai negara pertama yang menggunakan CNG tabung 3 kilogram untuk keperluan memasak.
"Nantinya, tabung CNG 3 kg menggunakan teknologi tabung tipe 4 yang berbahan serat fiber. Penggunaan CNG ini pertama kali, tantangannya banyak, seperti kata Menteri Bahlil Lahadalia. Kita nggak akan berhasil, kalau nggak pernah menghadapi tantangan itu," kata Laode, Sabtu (30/5/2026).
Penggunaan material serat fiber tipe 4 ini membuat bobot tabung sangat ringan sekaligus tangguh menahan tekanan gas yang tinggi. Inovasi ini merupakan terobosan baru, mengingat teknologi serupa di tingkat global baru diterapkan untuk kapasitas setara 12 kilogram ke atas.
"Jadi tabungnya kita bikin tipe 4, memang belum pernah ada di dunia. Untuk menggantikan setara LPG 3 kilogram. Yang sudah ada setara LPG 12 kilogram ke atas. Itupun baru dipakai," terangnya.
Beralihnya masyarakat ke CNG diyakini bakal memangkas beban subsidi karena bahan baku gas alam sangat melimpah di dalam negeri, berbeda dengan LPG yang harus diimpor hingga 7 juta ton setiap tahunnya. Dalam APBN 2026, total subsidi energi menyentuh Rp210,1 triliun, di mana porsi subsidi LPG 3 kilogram mencapai Rp80,3 triliun. Penghematan 40 persen dari besaran tersebut bernilai setara Rp32,1 triliun.
"Setelah dihitung-hitung, masih tetap diperlukan subsidi namun berkurang 30 sampai 40 persen. Karena CNG ini punya kita sendiri, dibanding kita harus impor," tambahnya.
Meski berganti bahan bakar, masyarakat tidak perlu memodifikasi kompor yang sudah ada di rumah. Sistem katup tabung dirancang agar serasi dengan peralatan standar yang biasa digunakan warga.
"Ide awalnya, itu harus sama dengan LPG 3 kilogram nggak boleh berbeda. Nanti kalau berbeda, ibu-ibunya merasa keberatan, nanti. Masyarakat tidak perlu mengganti kompor," tandasnya. ***


