JAKARTA - Harga emas dunia merosot menyentuh titik terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir pada sesi perdagangan Senin waktu setempat. Penurunan nilai aset ini terpengaruh oleh kenaikan harga minyak global serta laporan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan awal, sehingga mematangkan ekspektasi para pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini.

Laporan yang dicatat Yahoo Finance pada Selasa (15/9/2026) menunjukkan posisi emas spot turun 0,8 persen menjadi USD4.312,59 per ons tepat pada pukul 13.30 EDT atau 17.30 GMT. Angka ini sempat menyentuh level terendah sejak 7 Agustus lalu. Bersamaan dengan itu, nilai kontrak berjangka emas AS turut melemah 1,3 persen dan berada di level USD4.351,90 per ons.

Gejolak Harga Energi dan Timur Tengah

Tingginya harga minyak dunia yang naik sekitar empat persen pada Senin pagi bersumber dari serangan baru yang menargetkan fasilitas infrastruktur energi dan sipil di Arab Saudi. Kondisi tersebut diperparah oleh aksi serangan Iran terhadap sejumlah kapal di Teluk, yang memicu kekhawatiran krisis pasokan energi usai jalur pipa minyak utama milik Arab Saudi ditutup.

Situasi ini memengaruhi ranah diplomasi Timur Tengah yang kini menghadapi ketidakpastian. Jadwal pertemuan antara Iran dengan negara-negara Teluk lainnya terpaksa ditunda akibat eskalasi tersebut.

"Harga minyak mentah hari ini melonjak tajam, yang mendorong ekspektasi inflasi dan menunjukkan bank sentral utama dunia harus memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Kondisi itu berdampak negatif bagi logam mulia," terang Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Prospek Kebijakan Bank Sentral

Di sisi moneter, mayoritas ekonom dalam survei Reuters memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Rabu mendatang. Mereka juga memperkirakan adanya tambahan setidaknya satu kali kenaikan lagi hingga akhir Maret. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS tercatat naik 0,4 persen pada bulan lalu, lebih tinggi dari bulan Juli yang hanya naik 0,1 persen, berdasarkan data yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat sebelumnya.

Alat ukur pasar CME FedWatch Tool turut merekam probabilitas kenaikan suku bunga The Fed mencapai kisaran 93 persen pada agenda pertemuan pekan ini. Tidak hanya di AS, Bank Sentral Jepang (BoJ) juga diperkirakan ikut menaikkan suku bunga pada Jumat nanti dengan merespons kenaikan harga energi serta mulai adanya tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Naiknya suku bunga menekan daya tarik emas. Mengingat statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, logam mulia ini menjadi kurang diminati ketika tingkat suku bunga meningkat. Tekanan ganda datang dari penguatan dolar AS yang menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir, membuat emas berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lain.

Penurunan harga turut melanda pasar logam mulia lainnya. Harga perak spot tercatat turun 1,2 persen menjadi USD63,71 per ons. Posisi platinum melemah 1,6 persen menuju USD1.768,17 per ons, sementara paladium susut 0,7 persen ke level USD1.290,41 per ons. ***