PEKANBARU - MoU antara Cambridge University Press and Assesment dengan Pemprov Riau dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris anak-anak Riau, didukung oleh Wakil Ketua Komisi V DPRD Riau, Karmila Sari. Sebab kemampuan berbahasa Inggris merupakan bagian dari hak manusia di Riau. MoU itu rencananya akan digelar pada 12 Desember 2022 mendatang, bertepatan dengan peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM).

"Secara geografis kita diuntungkan karena Riau berada dekat dengan Selat Malaka, tapi kan karena kemampuan bahasa Inggris rendah, banyak peluang yang terlewatkan. Kualitas produk asli Riau juga layak bersaing di kancah internasional. Ini yang akan kita benahi dengan skill berbahasa Inggris," jelas Karmila, Jumat (25/11/2022).

Dikatakan Ketua Fraksi Golkar DPRD Riau ini, MoU ini bakal memuat kerjasama antara Pemprov Riau dengan Cambdrige, yang mana output-nya adalah muncul budaya berbahasa Inggris, terutama di lingkungan pendidikan.

"Ini akan dilakukan secara berkesinambungan, apalagi angka pendidikan kita belum sampai 12 tahun. Jadi walaupun masih di bawah 12 tahun, setidaknya anak-anak kita sudah bisa berbahasa Inggris. Makanya, kita mulai dari guru-gurunya dulu," tuturnya.

Rencananya, sambung Karmila, akan dilakukan seleksi kepada semua guru bahasa Inggris yang ada di Riau, baik PNS maupun non-PNS. Sehingga, terlihat di level mana kemampuan bahasa Inggris guru di Riau. Kemudian, akan terseleksi sekitar 1.234 guru yang bakal dilatih menggunakan kurikulum Cambridge University.

"Nanti guru yang sudah dilatih ini bisa jadi trainer, tidak hanya men-training siswa saja, tapi juga ke guru-guru lain, istilahnya kaderisasi lah. Kita sudah anggarkan program itu di tahun 2024 mendatang," ulasnya.

Karmila tak memungkiri, program ini akan menjadi perhatian Komisi V, dan setiap tahapannya akan dilakukan evaluasi. Evaluasi ini akan menentukan program pelatihan guru berbahasa Inggris di tahun selanjutnya.

Menurutnya, guru-guru ini nanti harus bisa membentuk klub bahasa Inggris di sekolahnya, karena membudayakan bahasa inggris itu harus banyak praktik.

"Kondisi sekarang, kita lihat guru bahasa Inggris masih pakai bahasa Indonesia dalam pengantar kelas. Bagaimana kemampuan bahasa Inggris siswa setelah mendapat pelatihan dari guru ini akan menjadi bahan evaluasi kita," tutupnya. ***