ACEH TAMIANG – Keputusan tidak biasa diambil Kepolisian Resor Aceh Tamiang ketika banjir bandang melanda wilayah itu pada akhir November 2025. Sebanyak 22 tahanan dilepaskan sementara dari rumah tahanan setelah air bah di kawasan tersebut naik hampir lima meter dan mengancam nyawa mereka serta keluarga masing-masing.
Kapolres Aceh Tamiang, Ajun Komisaris Besar Muliadi, menjelaskan langkah itu diambil setelah situasi di rutan semakin genting. Menurutnya, keselamatan para tahanan dan keluarga mereka harus menjadi prioritas di tengah bencana besar yang melumpuhkan pusat Kota Kuala Simpang. “Kami lepas sementara. Mereka diawasi dan akan kembali setelah menolong keluarga,” katanya, Senin (8/12/2025).
Ia menuturkan, luapan air merendam seluruh area rutan dan membuat proses evakuasi tidak mungkin dilakukan tanpa melepaskan para tahanan. “Mereka akan kembali ke rutan setelah penanggulangan banjir selesai,” ujarnya.
Banjir bandang yang menyapu 18 kabupaten/kota di Aceh itu menjadikan Aceh Tamiang sebagai wilayah dengan kerusakan terparah. Kapolda Aceh, Inspektur Jenderal Marzuki Ali Basyah, menyatakan seluruh aktivitas pemerintahan di daerah tersebut terhenti. Situasi darurat membuat sumber daya daerah terpusat pada penyelamatan warga serta distribusi bantuan.
“Sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak banjir. Namun Aceh Tamiang merupakan wilayah yang paling parah dan sangat memprihatinkan kondisinya,” ujarnya dalam apel pagi di Markas Polda Aceh, Sabtu (6/12/2025).
Ia memastikan bantuan logistik dari Mabes Polri, Polda Aceh, hingga polda lain terus disalurkan secara berkelanjutan untuk menjangkau warga terdampak di wilayah yang aksesnya masih terputus. ***


