KEHADIRAN gajah di tengah-tengah masyarakat masih menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Konflik antara manusia dengan gajah telah lama terjadi. Di Provinsi Riau, konflik ini diindikasikan ada beberapa faktor penyebabnya, namun yang paling kerap terjadi akibat semakin menyempitnya areal hutan sebagai rumah gajah.

Sering terjadi ada kawanan gajah masuk ke perkampungan dan lahan perkebunan masyarakat. Tidak jarang kawanan gajah tersebut merusak tanaman yang ada diperkebunan masyarakat.

Situasi ini menjadi bayang ketakutan masyarakat sehingga tak jarang berbagai cara dilakukan masyarakat untuk mengusir kawanan gajah dari pemukiman dan perkebunan milik masyarakat.

Tak jarang juga ketika terjadi konflik antara masyarakat dengan gajah, keduanya menderita kerugian. Pada satu sisi, masyarakat menderita kerugian karena lahan perkebunanya ludes dirambah oleh kawanan gajah, sementara ada gajah yang mati akibat perburuan yang dilakukan masyarakat.

Ads
https://www.goriau.com/assets/imgbank/30042016/gajahrapp(-4432.jpg

Laju deforestrasi dan degradasi hutan diwilayah Riau yang terjadi karena penggunaan lahan yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan penurunan jumlah populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dalam 20 tahun terakhir.

Pembalakan liar, konversi hutan untuk kebutuhan pertanian serta kedatangan imigran dari provinsi lain ke Riau memberikan kontribusi pada berkurangnya hutan alam yang dibutuhkan oleh gajah untuk hidup dan menimbulkan konflik antara manusia dengan gajah dikarenakan manusia hidup pada habitat gajah sebelumnya.

Salah satu ancaman yang sangat signifikan atas keberadaan gajah adalah penggunaan racun oleh oknum masyarakat untuk membunuh gajah liar yang memakan buah-buahan dan daun pohon kelapa sawit.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/30042016/gajahrapp(-4431.jpg

Sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam upaya konservasi gajah Sumatera, untuk kedua kalinya PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menggelar pelatihan konservasi dan mitigasi konflik gajah dengan manusia.

Beberapa pemateri dihadirkan dalam kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 26 sampai 27 April 2016, dipusatkan di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I, Munarto B.Sc SP, dalam pemaparannya mengatakan bahwa KSDA merupakan institusi yang memiliki kewenangan melakukan pengelolaan satwa liar.

"KSDA diberikan kewenangan untuk menyelamatkan satwa liar. Termasuk membuat berita acara kematian gajah mati," ungkapnya.

Lanjutnya, dalam melakukan tugasnya KSDA juga dibantu dari WWF, seperti halnya penanganan pada kasus kematian gajah. "85 persen penyebab, karena habitat dan areal jelajah gajah berada di luar kawasan konservasi keadaannya telah rusak," bebernya.

Sesuai data KSDA Riau, angka kematian gajah sangat tinggi. Dalam 10 tahun terakhir 2004 sampai 2014 sekitar 143 ekor gajah mati. Januari hingga November 2015 bertambah menjadi 9 ekor gajah. Sedangkan Januari hingga April 2016 bertambah 2 ekor gajah ditemukan mati.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/30042016/gajahrapp(-4430.jpg

Menurut Munarto, sekitar 85 persen habitat dan areal gajah berada di luar kawasan konservasi yang kondisinya sudah rusak. Wilayah penyangga sekitarnya juga sudah banyak aktifitas seperti konsesi hutan, kebun dan pemukiman.

"Jalan keluar untuk persoalan ini, perlunya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat pada kantong-kantong satwa liar. Pembentukan CRU dan tim penanganan konflik di perusahaan," terangnya.

Pada kesempatan sama, Polhut Balai Besar BKSA, Muhammad Hendri mengatakan jika konflik antara manusia dengan gajah dapat ditekan. "Intinya, semua pihak berkomitmen menyelamatkan hewan yang dilindungi," ujarnya.

Muhammad Hendri juga mengapresiasi kepada PT RAPP atas komitmennya dalam usaha penyelamatan satwa satwa liar. "Komitmen semua pihak, perusahaan memperketat seluruh akses masuk ke habitat di areal konsesi," terangnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/30042016/gajahrapp(-4429.jpg

Masih dalam rangkaian kegiatan. Pemateri lainnya dari WWF Riau Elephant Programma, Syamsuardi, memaparkan soal teknik mitigasi dan alat yang digunakan.

Program Elepahant Flying Squad (EFS) dimulai pada tahun 2004 sebagai usaha berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran publik dan memitigasi konflik manusia dengan gajah, terutama disekitar wilayah TNTN.

EFS terdiri dari berbagai tim yang yang terlatih, termasuk di dalamnya lebih dari empat gajah jinak, pawang gajah, tim medis dan staf. Tujuan dari EFS ini adalah untuk memitigasi kerusakan taman dan perkebunan di desa yang disebabkan oleh keberadaan gajah liar termasuk untuk menjaga agar masyarakat tidak membunuh gajah-gajah liar tersebut,

Dalam kegiatanya tim EFS mencatat data dari keberadaan gajah liar, mengidentifikasi adanya pembalakan liar dan adanya aktifitas pengerusakan hutan serta memberikan kesadaran masyarakat sekitar untuk menghindari konflik manusia dengan gajah.

Patroli EFS dilakukan berdasakan Standard Operating Procedure (SOP) yang dibuat oleh berbagai pihak yang terdiri dari pemerintah propinsi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perusahaan swasta.

Terdapat dua jenis patroli yang dilakukan yaitu dengan mengikuti jalur hutan dan jalur jalan. Patroli gajah hanya dilakukan pada siang hari dan terdiri dari empat gajah dan delapan pawang gajah. Seluruh tim dilengkapi dengan radio, GPS, peta, bahan makanan, peralatan dan lembaran data untuk mencatat seluruh aktifitas.

Strategi lain yang digunakan untuk memitigasi konflik manusi dengan gajah adalah dengan membuat batas pemisahan antara perkebunan penduduk dengan habitat hutan alam dimana gajah liar menggantungkan hidup mereka.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/30042016/gajahrapp(-4428.jpg

Penerapan sistem mosaik yang diterapkan oleh PT RAPP mengkombinasikan antara hutan alam dan hutan tanaman yang berfungsi sebagai bufferzone yang disesuaikan dengan habitat gajah diareal hutan alam yang terintegrasi dimana gajah dapat berkembang biak berdampingan dengan perkebunan kelapa sawit yang menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitar.

Salah satunya Mira, gajah yang berumur 31 tahun itu terlihat masih gesit, meskipun Mira adalah gajah betina. Mira selalu mengikuti jadwal kegiatan yang telah ditetapkan oleh tim Flying Squad, seperti berpatroli dan berlatih di camp Flying Squad Easted Ukui.

Patroli bersama masyarakat, disaat gajah liar akan memasuki areal perkebunan masyarakat. "Sekali seminggu Mira selalu mengikuti kegiatan patroli," tutur Sarmin, salah satu mahout disama.

Selain makanan pokok yang selalu diberikan, Mira dan gajah lainya selalu dilakukan perawatan gajah, pemberian ekstra fooding yang berupa gula merah, jagung pipil, singkong, dedak halus, garam mineral, dimandikan dua kali sehari, pemeriksaan kesehatan dan diangon untuk mendapatkan pakan alami.

Dikatakan Perwakilan Manajemen PT RAPP, Maringan Valentin S, pelatihan yang dipusatkan di Estate Ukui ini merupakan kebijakan serta bagian dari komitmen perusahaan.

"Kita, perusahaan harus bermanfaat bagi negara, masyarakat dan lingkungan atau yang kita kenal 4C, good for community, good for country, good for company, dan good for climate. Oleh sebab itu kita lakukan pelatihan seperti ini," ujarnya.

Disebutkannya, pelatihan diikuti sebanyak 35 orang dari Sektor Langgam, Ukui, Teso, Baserah dan Mandau, ditambah 9 orang pawang gajah (Mahout) serta 3 Environment Head Office.

"Selain soal penanganan satwa, kita juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Kita berharap, gajah masih bisa dilihat oleh generasi mendatang," tandas Maringan.

Sisi Lain Flying Squad Easted Ukui

Sarmin dan Karyanto, merupakan dua sosok Mahout (pelatih dan perawat gajah), dari 9 mahout yang mengabdikan dirinya untuk menjalani hari-hari bersama gajah-gajah di Flying Squad Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Ukui, Pelalawan, Riau.

Sarmin (41) pria kelahiran Solo ini, mengaku menjadi mahout sejak tahun 1994 di Way Kambas, Bandar Lampung. Pria berpenampilan sederhana ini mulai bergabung dengan Flying Squad Estate Ukui sejak tahun 2006 lalu.

Diakui Sarmin, bergelut dengan gajah dalam kesehariannya, ia mengaku lebih banyak menemukan hal-hal yang menyenangkan. Meski rasa letih juga terkadang muncul dalam aktifitasnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/30042016/gajahrapp(-4427.jpg

"Mereka (gajah, red) itu bisa diajak bercanda dan bisa diajak kerja. Rasanya, lebih banyak saya temukan senangnya bersama mereka," tuturnya, saat GoRiau.com menyambangi markasnya, Rabu (27/4/2016).

Menurut pengalaman Sarmin selama ia mengurus Mery (nama gajah betina, red), ada ikatan batin diantara keduanya, antara gajah dengan mahout yang menjadi pengasuhnya. "Perilaku gajah tak jauh dengan perilaku mahoutnya," cetusnya.

Diakui Sarmin, menjadi seorang mahot merupakan panggilan hati. "Dulunya saya juga gak menyangka akan bisa jadi perawat gajah," kenangnya.

Mahout lainya di Flying Squad Estate Ukui, Karyanto (42), ia mengaku banyak menemukan pengalaman dan hal-hal unik bersama gajah-gajah asuhannya. Menurutnya, cara memperlakukan gajah, sama dengan memperlakukan manusia pada umumnya.

"Gajah ini mempunyai karakter yang unik. Perlakukan yang kita berikan, sama dengan perlakuan kita kepada manusia," katanya.

Suka duka selama menjadi mahot, tutur pria yang telah bergelut cukup lama di dunia gajah ini, kadang ia sering menghadapi gajah asuhannya yang 'merajuk' (marah).

Terkadang, Karyanto juga sering dikencingi oleh gajah asuhannya, namun hal itu merupakan sesuatu yang dirasa sebagai ikatan emosional dirinya dengan gajah asuhannya.

"Sering dirajuki, dikencingin. Kalau dia merajok, ya kita bawain makanan kesukaanya. Kita rayu agar tak lagi merajuk. Gajah ini kuat persasaannya," tuturnya.

Kata Karyanto, jika gajah sedang dalam keadaan sakit, maka harus dipastikan terlebih dahulu kondisinya. "Seperti kita manusia juga, dipatikan dulu apa sakitnya, baru kemudian diberi obatnya," katanya.

Diungkapkan, penyakit yang paling sering diderita oleh gajah-gajah tersebut seperti penyakit gondok dan cacingan. "Gajah-gajah ini juga diberikan puding, 4 kali dalam sebulan. Berupa gula, garam, jagung, dedak dan ubi," sebutnya.

Jelas Karyanto, satu ekor gajah dewasa setidaknya menghabiskan sebanyak 60 liter air, dengan konsumsi makanan 10 persen dari berat badannya.

"Kita angonkan mereka, dengan lokasi pindah-pindah. Pakan gajah ini juga disuplay oleh kontraktor, empat trip dalam sebulan, berupa pelapah kelapa sama batang pisang," ungkapnya.

Selain sebagai gajah patroli, gajah di Flying Squat Estate Ukui, juga kadang digunkan sebagai gajah hiburan. "Disamping untuk patroli juga untuk hiburan, kalau ada tamu yang datang," katanya.

Setidaknya ada 6 ekor gajah di Flying Squad Estate Ukui. Adei (32), Ika (30), Mery (32), Mira (31) keempat gajah ini merupakan gajah dewasa yang didatangkan dari Sebanga, Duri. Sedangkan Raja Arman (7) dan Carmen (7) merupakan gajah muda yang lahir di Flying Squad Estate Ukui. ***