WANITA empat puluh tahun ini terlihat bersemangat, sementara tangan kanannya memegang canting cap yang terbuat dari kayu. Satu persatu motif bunga mulai tersusun oleh tetesan lilin panas yang berasal dari ender tembaga (tempat memanaskan lilin) di samping meja cap.

Lembaran kain putih berukuran dua meter lebih telah tercetak kombinasi motif bunga. Begitu seterunya wanita asal Brebes, Jawa Tengah (Jateng) yang telah merantau di Kabupaten Pelalawan, melakoni aktivitasnya membatiknya.

Setelah lembaran kain putih ini tercetak motif, wanita ini kemudian melanjutkan proses pewarnaan berbagi tugas bersama sembilan orang teman pembatik lainya di Koperasi Rumah Batik Andalan.

"Waktu di kampung malah tidak tahu membatik, ya di sini baru tahu cara membatik," kata Nikmah kepada GoRiau.com (GoNews Group) di Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu (BPPUT) RAPP Town Site II, Pangkalan Kerinci, Senin (5/6/2017).

Ads
Wanita empat anak ini menuturkan, jika dirinya sudah dua tahun lebih bergabung di Koperasi Rumah Batik Andalan yang awalnya hanya ikut-ikutan melihat membatik karena diajak oleh temannya.

"Kenapa saya bisa gabung disini, karena awalnya ada teman nanya apa kegiatan saya," tutur Nikmah, yang telah merantau di Pangkalan Kerinci enam tahun lebih.

Lanjutnya menjawab, ia pun kemudian diajak oleh temannya untuk melihat-lihat aktivitas pembatikan di Rumah Batik Andalan.

"Awalnya saya hanya diajak melihat-lihat orang kerja membatik, kadang saya juga ikut membantu mewarnai," ungkapnya.

Nikmat pun mengaku tidak sempat mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan Rumah Batik Andalan, karena baru tahu dan terlambat untuk bisa ikut pelatihan.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06062017/2jpg-5933.jpgNikmah, satu dari beberapa anggota Koperasi Rumah Batik Andalan binaan PT RAPP.

"Saya memang tak sempat ikut pelatihan. Ya, dari situ saya mulai belajar dan lama-lama mulai belajar membuat pola sendiri, ngecap dan sampai sekarang," terangnya.

Menurut Hikmah, sejak dirinya bergabung di Koperasi Rumah Batik Andalan, ia bisa menyisihkan penghasilan dari membatik rata-rata Rp2 Juta per bulannya.

"Sekitar dua jutaan per bulan penghasilan dari membatik bisa ditabung. Alhamdulillah bersama suami, saya sudah bisa ambil kredit rumah di Perumahan Taman Kerinci Residence," ucapnya.

Meski demikian tidak mudah jalan hidup Nikmah ketika awal merantau di Pangkalan Kerinci enam tahun lalu. Untuk meringankan beban keluarga, Ia terpaksa membantu sang suami yang bekerja sebagai buruh harian lepas di kebun kelapa sawit sebagai pengumpul brondolan.

"Dulu ikut suami kerja di kebun sawit, kalau suami manen saya kutip brondolon atau nyusun pelepah biar pekerjaan suami terbantu. Sangat bersukur sekarang, sudah nyaman dengan membatik," tutup Nikmah.

Istri Kapolda Riau Apresiasi Batik Bono

Istri Kapolda Riau, Ny. Milawati Zulkarnain mengunjungi Rumah Batik Andalan binaan program Community Development PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di BPPUT, Pangkalan Kerinci, baru ini.

Dalam kunjungannya Ketua Bhayangkari Polda Riau ini mengagumi hasil karya batik dengan kecenderungan warna yang berani, eye-catchy dan motif artistik yang terinspirasi dari alam.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06062017/3jpg-5932.jpgAktivitas membatik di Rumah Batik Andalan di BPTUT Town Site II Pangkalan Kerinci.‎

"Saya lihat batiknya cenderung full color ya, berani warnanya, dengan ciri khas motif ombak bono, dedaunan, ada akasia, timunsuri, dan sebagainya. Semoga kerajinan batik ini semakin maju di bawah binaan Ibu Rina, dan pengrajinnya semakin bertambah," kata Milawati yang didampingi Ketua Ikatan Wanita Riau Andalan (IWARA) sekaligus pembina Rumah Batik Andalan, Azrina Rudi Fajar.

Milawati juga terlihat antusias dan mengajak Rumah Batik Andalan untuk berkolaborasi mengkreasikan batik menjadi busana modern yang bisa dipakai untuk acara formal maupun non formal

"Batik memang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, budaya masing-masing daerah itu bisa dimunculkan melalui batik, dan hasil kerajinan ini bisa dibawa ke dunia internasional bersama pihak kementerian terkait untuk diperkenalkan di negara lain," ujarnya.

Selain mengapresiasi dan membeli sejumlah kain batik hasil karya para ibu rumah tangga binaan di sekitar Pangkalan Kerinci ini, Milawati juga memberikan masukan terhadap Batik Andalan.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06062017/4jpg-5931.jpg

"Untuk pilihan bahan, saya rasa bisa ditambah dengan bahan lain, seperti bahan dobi, silk atau bahan kain lainnya, agar tidak monoton, tapi saya kagum, apalagi setelah melihat langsung, ternyata sulit juga membuat satu karya batik," sarannya.

Namun demikian, Milawati juga mengajak masyarakat agar dapat menghargai kerajinan batik, sebab selain hasil karya yang bagus, proses pembuatan batik ternyata tidak mudah, karena banyak tahapan yang harus dilakukan guna mendapatkan hasil terbaik dan butuh ketekunan dan kesabaran dari pengrajinnya.

Menteri KLHK Tinjau Batik Bono Khas Riau

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar sempat melihat kerajinan batik yang saat ini dikembangkan oleh PT RAPP di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, beberapa waktu lalu.

Ketika berkunjung, ia pun mendapatkan penjelasan dari pengrajin batik Rumah Batik Andalan yang dibina oleh Community Development (CD) perusahaan pulp dan kertas, Siti Nurbaya.

Nurbaya, sapaan akrabnya menjelaskan saat ini ada lima motif yang menjadi andalan di rumah batik tersebut yakni Bono, Akasia, Timun Suri, Ekaliptus dan Lakum. Semua motif tersebut memiliki makna tersendiri.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06062017/5jpg-5930.jpg

Misalnya Bono diambil dari gelombang Bono yang terkenal di Sungai Kampar. Akasia dan Ekaliptus diambil dari nama pohon yang juga sebagai bahan pembuat kertas. Sementara Timun Suri dan Lakum adalah jenis sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat melayu.

''Batik Pelalawan memang warnanya lebih berani. Motif-motif ini dipatenkan, kita pengennya orang tahu ini ciri khasnya Pelalawan. Jadi orang tak bisa sembarang pakai motif batik kita," jelasnya.

Batik Andalan Upaya Peningkatan Kualitas Hidup dan Potensi Pelalawan

Manager Program Community Development (CD) PT RAPP, Sundari Berlian, mengatakan jika pihaknya tidak henti-hentinya memberi motivasi bagi para kaum ibu yang telah tergabung dalam ketrampilan ini.

"Melalui pelatihan yang kita lakukan, kaum ibu yang tergabung dalam ketrampilan membatik ini sudah mulai tumbuh rasa percaya diri mereka dalam membuat motif batik," katanya.

Disampaikan Sundari, batik karya ibu-ibu anggota Koperasi Rumah Batik Andalan, telah dipasarkan sampai ke luar negeri. Tak hannya itu, berbagai iven pameran nasional juga telah diikuti.

"Kita sudah memasarkan batik kita ke luar negeri dan kita juga telah mengikuti iven expo nasional di Jakarta," tandasnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/06062017/6jpg-5929.jpg

Direktur Utama RAPP, Rudi Fajar mengatakan program batik andalan merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi daerah Pelalawan.

''Kita berharap batik bono sebagai ikon daerah, tidak hanya terkenal di Pelalawan tapi juga dikenal di dunia," papar Rudi yang terlihat kerap mengenakan batik asli buatan masyarakat Pelalawan.

Rumah Batik Andalan diresmikan pada 5 Desember 2014 lalu sebagai pusat produksi batik di Pelalawan dan bekerja sama dengan RAPP (APRIL Group), guna melatih masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga dan merekrut orang-orang berbakat yang berminat menekuni profesi sebagai pembatik.

Saat ini rumah batik andalan, mampu memproduksi sebanyak 100 lembar kain batik setiap harinya dan sudah menjadi ikon di Kabupaten Pelalawan. ***