RAMADHAN telah berlalu, kita masuk pada sebelas bulan kedepan. Barangkali masih terngiang di telinga kita para ustad pada akhir Ramadhan atau pada khatib-khatib idul fitri mengingatkan kita akan sabda rasulullah:

"Bukanlah Idul Fitri itu bagi mereka yang sekedar berpakaian baru, melainkan bagi mereka yang ketaatannya selalu bertambah".

Siapa mereka? Yaitu orang-orang yang mengamalkan ajarannya sepanjang hayat, tidak hanya sewaktu-waktu, tidak hanya oleh karena oleh karena tidak hanya selama ramadhan (muslim dadakan). Satu bulan kita menang, tapi sebelas bulan kita kalah dan tak tanggung tanggung ada yang kalah K.O. Artinya ditengah jalan (11 bulan mendatang) banyak kita yang tersandung, ada yang jadi tersangka, terdakwa, dan malah ada yang di penjara.

Salah satu cara yang paling tepat agar kita tidak tersandung yaitu kembali kita makmurkan mesjid, karena mesjid sesuai dengan fungsi yang sebenarnya yaitu sebagai pusat ibadah, pusat pembinaan dan pencerahan ummat serta pusat budaya menuju khaira ummah.

Sedikit tentang ayat kuntum khaira ummah ukhrijat linnas (Ali-Imran 110). Para mufassir kontemporer menafsirkan khaira ummah sebagai bibit unggul artinya tidak secara otomatis kita ummat yang terbaik perlu proses dan usaha. Bibit unggul sekalipun kalau tidak disiram, dipupuk, dipelihara hasilnya tetap tidak unggul. Khaira ummah itu perlu digapai, perlu diraih.

Untuk menggapai khaira ummah itulah fungsi mesjid sangat dominan, menurut pengamatan para pengamat bahwa lebih dari 70 persen ummat islam tidak mungkin lagi mendapat ilmu atau pencerahan di sekolah-sekolah formal, dimesjidlah tempat yang tersedia sepanjang waktu untuk meningkatkan kualitas keummatan. Oleh sebab itu, keberadaan sebuah mesjid jangan sampai jadi mubazir, dalam hal ini rasulullahpun telah mengingatkan: "mesjid dibangun megah tapi sepi dari pelaksanaan petunjuk Allah" (baihaqi), maksudnya adalah tidak ada aktifitas produktif menuju khaira ummah kecuali hanya sebagai tempat sholat dan selanjutnya hanya merupakan menara gading belaka, inilah yang disebut sia sia dan mubazir.

Kita tentu tidak ingin berpredikat muslim dadakan, kita ingin berubah menuju peningkatan kualitas dan mesjid tempat yang selalu siap menunggu kita kapan saja dan dimana saja.

Untuk memakmurkan mesjid perlu kiat-kiat, dalam hal ini saya kutip penggalan ceramah Prof. Dr. Hidayat Nur Wahid dalam bulan ramadhan kemarin. Kata beliau, jika ingin mesjid makmur, antisipasilah problema² kemasjidan yaitu :

1. Problema di tubuh pengurus

Barangkali saja masih banyak pengururs mesjid yang otoriter, kurang musyawarah, bergaya perintah terutama ketua. Atau masih ada kepengurusan yang tertutup terutama mengenai keuangan. Masih ada pengurus yang  didominasi oleh orang-orang itu-itu saja atau dia-dia terus dan sebagainya.

2. Problema pada Jemaah

Yang namanya jemaah tentu banyak orang dan akan banyak pula tingkah laku, watak dsb. Tidak tertutup kemungkinan timbulnya gesekan sesama jemaah serta ego maupun selera masing masing yang tidak tersalurkan.

3. Problema kegiatan/program

Kegiatan yang dilakukan tidak menunjukkan kearah perubahan menuju yang lebih baik. Belum mengutamakan yang terpenting dari yang penting-penting. Masih jauh dari fungsi mesjid yang sebenarnya. Masih fokus pada pembangunan fisik mesjid sedangkan pembangunan menuju kualitas jamaah hampir terabaikan. Kegiatan-kegiatan hanya rutinitas.

4. Problema ustad

Tidak netral, terkesan menonjolkan golongan atau alirannya. Suka menyinggung kelompok lain atau pribadi-pribadi orang. Tak jarang terkesan dangkal dalam keilmuan. Kebanyakan hanya menang diretorika, lucu, banyak hafal ayat dan hadis sedangkan analistis dan sistematikanya lemah dan malah banyak yang ngawur. Tapi karena sealiran dan pertemanan dengan pengurus terutama ketua, dia selalu ditampilkan.

5. Problema pada imam mesjid

Sebagian besar imam-imam mesjid kurang memahami tentang imam yang baik. Pada umumnya malah terkesan suka ayat panjang-panjang, bacaan yang lambat, masih menonjolkan kebolehannya menghafal ayat-ayat panjang. Dia lupa dengan kondisi makmumnya dibelakang, ada orangtua, orang kurang sehat, anak-anak dan orang-orang yang segera akan bertugas melaksanakan kegiatan-kegiatan pokonya. Disamakannya dengan imam di Mesjidil Haram, padahal kondisinya jelas tidak sama. Orang ke Mekkah betul-betul waktunya, fikirannya, tenaganya hanya dicurahkan untuk ibadah. Hidayat Nur Wahid mengingatkan para imam dimesjid apabila ada jemaah yang gelisah sehingga shalatnya tidak khusyuk yang bertanggung jawab adalah imam.

Jangan lupa Hadist Rasulullah: "Apabila salah seorang diantara kamu mengimami salat, maka hendaklah ia meringankan/meringkaskan salat, karena makmum dibelakangnya ada yang lemah, sakit dan tua (yang tidak sanggup berdiri lama), tetapi jika ia salat sendirian hendaklah ia perpanjag sesuka hatinya" (HR. Al-Bukhari).

Mari kita bangun fisik mesjid seindah mungkin, setelah itu mesjidlah lagi yang akan membangun umatnya dengan segala kegiatan yang menarik dan menggairahkan. Jangan lupa bahwa pada umumnya kita baru sedang menuju predikat mukmin walaupun barangkali sebagian sudah mencapai tingkat muttaqin. Masih perlu ajakan, bujukan, himbauan dan sebagainya. Antisipasilah problema problema tersebut diatas jangan jemaah atau masyarakat saja yang selalu dipojokkan. Mari kita berusaha terus untuk memakmurkan mesjid tapi jangan lupa mengantisipasi problema-problema kemasjidan di atas.***

Penulis adalah pengamat sosial dan keagamaan/mubaligh IKMI Riau.