SELATPANJANG – Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Desa Gogok, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau menggunung. Bahkan, meluber hingga ke badan jalan.
Kondisi ini pun dikeluhkan warga. Terlebih, lokasi TPS ini berada di dekat pemukiman warga. Salah satu warga setempat mengaku sangat terganggu dengan tumpukan sampah yang menumpuk hingga meluber ke badan jalan tersebut.
"Lihat saja bang, tumpukan sampahnya luar biasa dan baunya juga menyengat di hidung. Pengendara pasti terganggu karena meluber ke jalan," ucapnya kepada GoRiau.com, Senin (2/9/2024).
Warga yang melintas di jalan Desa Lintas Alai-Gogok, lainnya juga mengaku disuguhkan dengan pemandangan tidak sedap dan bau yang menyengat akibat tumpukan sampah yang menggunung dan berserakan tersebut.
"Waduh baunya sangat menyengat. Kalau lama-lama melintas di sini bisa muntah. Sangat mengganggu sekali," ucapnya.
TPS sampah seluas 2 hektar yang berada di Desa Gogok Darussalam itu tak lagi mampu menampung sampah. Terlihat pula, gundukan sampah yang sudah menggunung sekitar 15 m di area TPS yang berada berdekatan dengan mesin PLN yang berada di Kecamatan Tebingtinggi Barat itu.
Selain itu, yang parahnya lagi sampah tersebut juga sudah hampir menjalar ke area jalan raya yang menghubungkan antar Kecamatan Tebingtinggi Barat ke Kecamatan Tebingtinggi, Kota Selatpanjang.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Meranti, Saiful Bakhri ST melalui Kabid Lingkungan Hidup Dewi Atmidilla, ST, MM mengatakan hal itu karena memang TPS yang ada sudah tidak memadai.
"Memang TPS itu tidak mampu lagi menampung sampah yang dihasilkan masyarakat Selatpanjang, yang selama ini masih memakai pola open dumping, tanpa ada pengolahan awal," ungkapnya.
Dewi juga menjelaskan, setiap tahunnya jumlah kapasitas volume sampah masyarakat yang ada di Selatpanjang semakin bertambah, hal itu juga didasari dengan seiring bertambahnya jumlah penduduk. Terhitung, saat ini setiap harinya saja pihaknya harus mengangkut sampah tidak kurang 42 ton setiap harinya.
"Ditambah mindset masyarakat kita yang menganggap sampah tidak bernilai serta tidak diterapkannya pemilahan sampah dimulai dari rumah," jelasnya.
Ditambahkan Dewi, memang melubernya sampah ke Jalan karena alat excavator yang ada di lokasi TPS tersebut mengalami rusak berat, yang menyebabkan tidak adanya aktifitas di TPS.
"Biasanya Excavator yang nyusun menaikan sampah menjadi tumpukan tinggi dan meratakan di tanah. 15 M itu tumpukan di dalam, kalau yang meluber karena sampahnya nggak bisa disusun menjadi tumpukan karena nggak ada excavator," jelas Dewi.
"Upaya sudah dilakukan dinas terkait dengan pinjam pakai escavator dari dinas ketahanan pangan, tapi kondisi escavator itu juga dalam kondisi rusak dan sedang diupayakan perbaikannya," tambahnya.
Dia juga memaparkan, seharusnya Kabupaten Kepulauan Meranti sudah melakukan pembuatan Penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
"Dimana RDF itu adalah hasil bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah. setidaknya mesin RDF mini yang harganya lebih murah," paparnya singkat.
Terkait mesin RDF ini, diakuinya sudah pernah dibahas tahun lalu untuk masuk di tahun 2024 ini, akan tetapi Kabupaten Kepulauan Meranti masih belum bisa memasukannya dalam perencanaan karena dianggap harganya terlalu mahal.
"Saat itu kami mengajukan mesin besar. Setelah mendapat informasi ada mesin RDF skala kecil, maka kami ajukan lagi untuk masuk pengadaan di tahun depan. Semoga dapat terealisasi nantinya," pungkasnya. ***


