JAKARTA – Sebanyak tiga Koperasi Unit Desa (KUD) mitra Asian Agri di Provinsi Riau secara resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Penandatanganan dilakukan bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan perbankan sebagai penyalur dana, Kamis (29/1/2026).

Acara yang digelar di Hotel Movenpick Jakarta ini menyasar tiga KUD asal Kabupaten Siak dengan total luasan lahan mencapai ratusan hektar. KUD tersebut meliputi KUD Bhakti Mandiri dari Desa Bukit Harapan seluas 200 hektar (74 pekebun), KUD Buatan Jaya dari Desa Jatimulya seluas 168 hektar (72 pekebun), serta KUD Makarti Sawit dari Desa Buana Makmur seluas 402 hektar (162 pekebun).

Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrachman, menegaskan pentingnya langkah ini untuk memulihkan produktivitas kebun yang menurun seiring bertambahnya usia tanaman. Replanting dipandang sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan sektor kelapa sawit nasional.

"Replanting merupakan langkah strategis untuk memulihkan produktivitas kebun kelapa sawit yang menurun seiring bertambahnya usia tanaman. Melalui pemanfaatan dana yang tepat sasaran dan sesuai ketentuan, program ini diharapkan dapat mendukung percepatan pembangunan sawit yang berkelanjutan," urai Eddy Abdurrachman.

Dalam pelaksanaannya, Asian Agri bertindak sebagai pendamping teknis bagi para petani mitra. Dukungan ini bertujuan memastikan proses tanam ulang berjalan sesuai standar operasional yang baik agar stabilitas ekonomi petani tetap terjaga selama masa transisi.

Head of Partnership Asian Agri, Rudy Rismanto, menjelaskan bahwa pendampingan dilakukan sejak tahap awal pembiayaan hingga kebun kembali memasuki masa produktif. "Dukungan pendanaan yang disertai pendampingan menjadi kunci agar replanting berjalan sesuai standar teknis dan tetap layak secara ekonomi," jelasnya.

Ketua KUD Makarti Sawit, Ahmat Sulikin, menyambut baik bantuan ini. Menurutnya, program PSR membantu petani menata ulang kebun mereka yang sudah tidak lagi menghasilkan secara optimal. Hal senada diungkapkan Ketua KUD Bhakti Mandiri, Galud Ludiyanto, yang menekankan kesiapan petani dalam mengelola kebun baru di masa depan.

"Program PSR membantu kami menata kembali kebun yang sudah tidak produktif, sekaligus memastikan proses tanam ulang dilakukan secara bertahap dan sesuai ketentuan. Proses ini perlu dilakukan dengan cara yang benar, dan kami bangga dapat menjalankannya melalui kemitraan dengan Asian Agri," ungkap Ahmat Sulikin.

Langkah ini menjadi bagian dari target keberlanjutan Asian Agri 2030, khususnya pada pilar kemitraan dengan petani untuk meningkatkan kesejahteraan melalui praktik budidaya yang berkelanjutan. (rls)